Postingan
Featured post
di balik permukaan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Orang-orang bertingkah dengan caranya Ada yang kagum dan ada yang kecewa Kecocokan tak datang dari langit Butiran nasi menyatukan banyak hati # Musim hujan tidak datang Tapi air tak pernah pergi Ada saja makanan di setiap tempat Kura-kura hidup bersama rumahnya # Tempat ini adalah sawah Hewan dan manusia bekerja untuk hidup Angin berbisik lewat daun-daun Matahari datang dan pergi, tapi tak terlupakan, Bahkan selalu diharapkan # Yang tenang dan ramah juga menyimpan dengki Yang diam dan jauh punya banyak cinta Yang hadir memberi makna
Pagi dan Hujan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pagi ini, hujan yang begitu deras mengganggu waktu tidurku. Tepat jam tuju pagi ia datang, saat pikiranku mulai tenang untuk pergi ke alam ketidaksadaran. Hawa mulai begitu dingin, sedang musik yang kudengarkan menjadi tak begitu jelas. Akhirnya kulepaskan penutup telingaku, dan kudengarkan ratapan hujan di atap seng, sambil kurasakan udaranya. Sepi, dingin dan berisik. Hingga aku membuka laptop lagi dan menulis ini, bukan untuk mengeluh, tapi untuk mensyukuri hidup dalam keadaan saat ini. Badanku memang kedinginan, tapi aku merasakannya dengan makna yang berbeda. Rasa dingin yang menyentuh tubuhku adalah unsur yang mengimbangi dinginnya jiwaku yang kehilangan. Aku tak lagi bingung mencari, atau ke nama hendak pergi. Aku merasa hidup dan menjadi diriku yang seutuhnya. Kemarin adalah saat paling lemah dalam diriku. Aku merasa tak punya rumah, sedang jiwaku mati. Aku menjalani hidup tanpa pilihan dan tujuan. Hanya bernafas dengan sesekali beraktivitas. Padahal sebenarnya aku yang eng...
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Dalam keheningan malam, aku masih terjaga. Lelah mendengar musik. Tak tahan untuk menonton film lagi. Hanya terdiam sambil merokok, tapi hati terus bicara. Bertanya, negumam, dan menuntut untuk hidup. Seperti burung gagak terus berkoak menjelang mati. Mungkin ini perumpamaan yang buruk, tapi biar saja. Hatiku memang sedang kacau. Sangat kacau. Lebih kacau dari saat meletus balon hijau. Aku tak tahu apa yang sedang kulakukan. Apakah memang seperti ini jalan hidupku? Dan akan terus seperti ini. Atau aku memang tak pernah ada tujuan hidup. Bahkan aku tak punya keberanian untuk menjalani hidupku sendiri? Rasanya, semua yang kujalani hanyalah bertahan hidup. Kemarin aku bilang pada seseorang, juga pada diriku sendiri sebelumnya, kalau aku sudah ada di moment siap untuk mati kesepian. Namun kini aku sadar, bahwa aku bahkan tak siap untuk menjalani hidupku. Aku lebih memilih membunuh banyak hal dalam jiwaku, sambil terus melanjutkan nafas. Aku sadar ini konyol. Apa yang aku tulis dan apa yang...
Film Perfect Day; Tentang Karakter Dalam Menjalani Hidup
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Setalah menonton film Perfecy Day , sudut pandangku berubah dalam menilai kehidupan yang kujalani. Seharusnya hidup dijalani dengan sungguh-sungguh dan penuh martabat, tidak dengan termehek-mehek dan benyak mengharapkan sesuatu yang tidak perlu. Kefokusan dan antusiasme menjadi begitu penting dalam menjalani hari-hari yang sama, yang dianggap penuh dengan kebosanan dan mungkin tidak lazim bagi kebanyakan orang. Sebab ini adalah era di mana validasi social menjadi begitu penting. Tidak hanya dalam dunia yang dijalani sehari-hari, tapi juga di dunia maya yang penuh dengan ilusi dan kepalsuan. Kondo wa kondo, ima wa ima . "Nanti ya nanti, sekarang ya sekarang." Inti dari kehidupan bukanlah pencapaian, tapi kesungguhan dalam menjalani peran. Begitulah interpretasiku mengenai prinsip yang di kuatkan dalam pertengahan adegan film ini. Mungkin ini terkesan naif. Apa lagi dalam hidup yang serba terhubung dan tsunami informasi yang melanda. Dalam hal ini, aku sendiri suda...
Sore Yang Berisik
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Di sore ini, ada seorang anak yang merajuk pada ibunya karena dia tidak mau masuk pondok, sedang ibunya bersikeras memasukkan anaknya ke pondok. Percekcokan itu begitu miris untuk dilihat. Melihat itu, pikiranku menjadi berbenturan, antara kedekatan anak dengan ibunya, dan juga motivasi untuk memasukkan anak ke pondok. Saat ini pondok pesantren bukan lagi budaya pinggiran. Hari santri sudah ditetapkan menjadi hari nasional. Entitas pesantren sudah diakui eksistensinya, dan juga dilembagakan jalannya dalam kehidupan sosial-bernegara. Menjadi santri tidak lagi sebuah keminderan, bukan lagi menjadi orang kuno yang tak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pondok pesantren sudah bisa dibanggakan menjadi indegenuis way dalam kehidupan bernegara, selayaknya padepokan, kuil, ataupun seminari. Bukan budaya pinggiran sebagai salam pandangan orang awam dahulu. Yang menjadi pertanyaanku ialah, adakah ibu itu sudah begitu mengenal anaknya, saat dia mengarahkan jalannya untuk berada di p...