Postingan

Menampilkan postingan dengan label Celoteh

Pagi dan Hujan

Gambar
Pagi ini, hujan yang begitu deras mengganggu waktu tidurku. Tepat jam tuju pagi ia datang, saat pikiranku mulai tenang untuk pergi ke alam ketidaksadaran. Hawa mulai begitu dingin, sedang musik yang kudengarkan menjadi tak begitu jelas. Akhirnya kulepaskan penutup telingaku, dan kudengarkan ratapan hujan di atap seng, sambil kurasakan udaranya. Sepi, dingin dan berisik. Hingga aku membuka laptop lagi dan menulis ini, bukan untuk mengeluh, tapi untuk mensyukuri hidup dalam keadaan saat ini. Badanku memang kedinginan, tapi aku merasakannya dengan makna yang berbeda. Rasa dingin yang menyentuh tubuhku adalah unsur yang mengimbangi dinginnya jiwaku yang kehilangan. Aku tak lagi bingung mencari, atau ke nama hendak pergi. Aku merasa hidup dan menjadi diriku yang seutuhnya. Kemarin adalah saat paling lemah dalam diriku. Aku merasa tak punya rumah, sedang jiwaku mati. Aku menjalani hidup tanpa pilihan dan tujuan. Hanya bernafas dengan sesekali beraktivitas. Padahal sebenarnya aku yang eng...
Dalam keheningan malam, aku masih terjaga. Lelah mendengar musik. Tak tahan untuk menonton film lagi. Hanya terdiam sambil merokok, tapi hati terus bicara. Bertanya, negumam, dan menuntut untuk hidup. Seperti burung gagak terus berkoak menjelang mati. Mungkin ini perumpamaan yang buruk, tapi biar saja. Hatiku memang sedang kacau. Sangat kacau. Lebih kacau dari saat meletus balon hijau. Aku tak tahu apa yang sedang kulakukan. Apakah memang seperti ini jalan hidupku? Dan akan terus seperti ini. Atau aku memang tak pernah ada tujuan hidup. Bahkan aku tak punya keberanian untuk menjalani hidupku sendiri? Rasanya, semua yang kujalani hanyalah bertahan hidup. Kemarin aku bilang pada seseorang, juga pada diriku sendiri sebelumnya, kalau aku sudah ada di moment siap untuk mati kesepian. Namun kini aku sadar, bahwa aku bahkan tak siap untuk menjalani hidupku. Aku lebih memilih membunuh banyak hal dalam jiwaku, sambil terus melanjutkan nafas. Aku sadar ini konyol. Apa yang aku tulis dan apa yang...

Sore Yang Berisik

Gambar
Di sore ini, ada seorang anak yang merajuk pada ibunya karena dia tidak mau masuk pondok, sedang ibunya bersikeras memasukkan anaknya ke pondok. Percekcokan itu begitu miris untuk dilihat. Melihat itu, pikiranku menjadi berbenturan, antara kedekatan anak dengan ibunya, dan juga motivasi untuk memasukkan anak ke pondok.  Saat ini pondok pesantren bukan lagi budaya pinggiran. Hari santri sudah ditetapkan menjadi hari nasional. Entitas pesantren sudah diakui eksistensinya, dan juga dilembagakan jalannya dalam kehidupan sosial-bernegara. Menjadi santri tidak lagi sebuah keminderan, bukan lagi menjadi orang kuno yang tak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pondok pesantren sudah bisa dibanggakan menjadi indegenuis way dalam kehidupan bernegara, selayaknya padepokan, kuil, ataupun seminari. Bukan budaya pinggiran sebagai salam pandangan orang awam dahulu. Yang menjadi pertanyaanku ialah, adakah ibu itu sudah begitu mengenal anaknya, saat dia mengarahkan jalannya untuk berada di p...

Kejernihan

Gambar
Hai Blog Semoga kejernihan selalu melingkupi jiwa kita setiap hari. Membimbing kita dalam tiap langkah dan keputusan yang harus diambil. Atau sekurang-kurangnya, kita memiliki teman yang cukup jernih untuk memberi perspektif dan juga bimbingan kehidupan. Sebab kejernihan tidak hanya memberika kejelasan, tapi juga kesegaran dalam menjalani hidup. Dalam keadaan atmosfir kehidupan yang begitu keruh ini, hal paling kita butuhkan adalah kejernihan dan keteguhan untuk menggamnya. Begitulah yang kudapatkan dari perjalanan kemarin, ketika main ke penginapan teman di kaki Gunung Slamet. Tempat dengan udara yang begitu dingin, sangat dingin bahkan dalam ukuran tubuhku, terutama di musim yang banyak hujan ini, dan juga airnya yang jernih dan menyegarkan. Kesegaran itu tidak hanya memberikan sensasi tersendiri pada tubuh, tapi juga membawa pada kesegaran pikiran untuk melanjutkan kehidupan. Maka sebuah keputusan yang tepat bilamana orang sama pergi ke gunung, entah untuk menginap di vi...

Kutanya Diriku Sendiri

Belakangan ini aku merasa ingin sekali pulang. Bahkan sebelum puasa dan lebaran dimulai. Aku ingin merasakan suasana rumah. Aku rindu dengan tanah dan udara yang ada di sana. Aku rindu dengan makanan dan air yang ada di tempat di mana aku dilahirkan. Aku juga rindu dengan bapak dan saudara-saudaraku, meski tak pernah sepenuhnya hilang rasa sakitku atas mereka. Mungkin aku rindu kenyamanan itu, seperti seorang anak rindu kenyamanan di tubuh ibunya sebelum dilahirkan. Namun aku belum juga pulang, sebab tak ada kemantapan hati untuk memutuskannya. Ada banyak sakit yang tak sembuh, dan masih begitu rumit rasa marah yang tak sanggup terdamaikan. Entah mungkin semua ini belum waktunya untuk sembuh, atau aku yang belum mampu mengobatinya. Semakin hari, keinginan untuk pulang – sebelum bulan puasa ini – semakin kuat. Aku harus membuat ijin pulang selama seminggu, tapi aku juga tidak akan kecewa jika kesempatan itu tak ada. Sebab bisa jadi itu bukanlah sesuatu yang sungguh untuk kuinginkan. A...

Malam Tadi

Gambar
Malam ini dua temanku, Cakson dan Isma, menelepon dan mengucapkan selamat ulang tahun. Aku memang menantikannya, dan aku senang mereka melakukannya. Kita bertelepon selama tiga jam, dan aku berupaya sejujur mungkin menjawab pertanyaan mereka. Dalam beberapa hal kita berdebat, dan sepertinya kita memang tidak banyak saling bersepakat satu sama lain. Beberapa hal mungkin karena ego personal, dan dalam sebagian besar memang kita hidup dengan cara masing-masing. Aku senang dengan pertemanan ini, serasa sebagai anugerah dalam “kesunyianku”, dan kita adalah tiga orang buta yang terus berdebat soal arah mata angin. Bersama mereka aku belajar bahwa cinta  tak mesti harus bersama, cinta juga tak harus sepakat, tapi cinta selalu menghubungkan, sebab cinta selalu merindukan. Semoga pelajaran cinta ini berguna untuk menghubungkan kepada yang selama ini tak terhubung.

Buku Terakhir Yang Kubaca

Gambar
Buku terakhir yang aku baca, kembali berbicara mengenai pasangan jiwa. Dimulai dari manusia yang tercipta dengan pasangannya, dan juga sesuatu yang menyatukan bernama cinta. Semesta penuh dengan berbagai hal yang berbeda-beda. Semuanya saling mengisi dan melengkapi. Kesatuan itu ada karena cinta. Begitulah sekilas mengenai idenya. Ada juga cara pandang yang lebih spiritualis dan menubuh dalam diri (istilah yang kukira lebih mendekati). Tentang cinta yang merupakan manifestasi dari perwujudan yang Esa, dan mengenai panggilan hati, serta kesesuaian jasmani pada sosok tertentu. Dua pribadi yang merupakan Pasangan Jiwa, akan merasakan hal yang sama pada   momen-momen tertentu. Ini adalah rahasia dari fenomena semesta. Tidak semua orang bisa menyadari dan memahaminya, walau pun mereka tengah menjalaninya. Saat kau rasa jiwamu sedang tidak sehat, maka pasangan jiwamu juga -sedikitnya- merasakan hal yang sama. Kau bisa dekat dengan orang lain atau bahkan tinggal bersamanya, tapi kau tak...

Kerjakan Pikiran

Gambar
Malam menjadi semakin pagi, sedang aku tak juga bisa mengisinya dengan tidur. Masih terlalu terang mataku, tapi sudah terlalu malas pikiranku untuk melakukan sesuatu. Yang terjari adalah, terkapar dengan pikiran ke mana-mana. Mendengarkan pengajian yang tak juga menjadikan kantuk. Padahal aku ada janji untuk melakukan pekerjaan pagi nanti. Rasanya benar-benar sia-sia. Tiba-tiba saja pikiranku terhampiri oleh aneka pertanyaan . Apa yang selama ini aku lakukan? Akan kah aku menjalani hidup benar? Adakah ternyata aku hanya membiarkan diri dalam kesia-siaan? Sampai kapan aku memeluk kebohongan hidup seperti ini? Akankah ini tidak bermakna? Aneka pertanyaan itu menelanjangi jiwaku. Tak ada yang bisa kulakukan, selain menerimanya dengan rasa malu. Selama ini aku banyak melihat kepalsuan dalam dunia orang lain, tapi aku lupa akan kepalsuan dalam diriku. Aku juga terus berkomentar pada kebodohan orang lain, tapi tak peduli pada kebodohan diriku. Aku merasa terjun terlalu bebas pada jurang...

Entahlah Mak

Emakku, semoga Allah selalu mengasihimu, sebagaimana kau juga mengasihiku saat kecil. Aku tak tahu apakah diriku ini didengar dan dikabulkan Tuhan. Sebab aku bukan anak yang soleh. Aku bukan anak yang dekat dengan Tuhan. Aku memang disuruh ngaji sejak kecil, disuruh untuk sering mendoakan orang tua, tapi kekecewaan kepada hidup membuatku mengabaikan banyak hal, banyak hal-hal penting, termasuk Tuhan. Di waktu belakangan aku pun tahu, bahwa kau juga tidak hanya mengabaikan jiwaku, tapi kau juga mengabaikan Tuhan. Mak, Aku tumbuh besar tanpa mengerti adanya sosok ibu. Kadang di sekolah atau di lingkungan rumah, aku selalu memandangi bagaimana seorang anak dekat dengan ibunya. Aku tak punya tempat untuk bersandar, yang paling aku butuhkan dalam hidupku. Rasanya ada kelainan dalam jiwa disebabkan oleh persoalan itu. Aku yakin kau tidak mengerti mak, dan sampai aku dewasa pun aku tetap tidak mengerti diriku. Terkadang aku bisa merasa bukan anakmu. Aku hanyalah anak kecil yang tumbuh bes...

Untuk Diriku

Gambar
Entah apa yang kulakukan selama ini? Tidak tergerak untuk menulis. Hanya menghibur diri dengan membaca. Bahkan perjalanan ketika aku pergi ke Semarang untuk berziarah, dan menghadiri acara seribu hari penulis idolaku belum juga kutulis, padahal aku sudah kurencanakan sejak dalam perjalanan. Sudah kubuat materinya di catatan. Mungkin memang masih malas, lebih memilih waktu untuk melamun dibanding menuliskan sesuatu. Adanya pekerjaan lain tak pernah layak untuk menjadi alasan. Seiring waktu berlalu, rasanya menjadi semakin tumpul. Eh, sebentar lagi bahkan sudah mau puasa. Hari-hari menjelang puasa adalah pertanda sudah berapa lama aku di tempat ini. Sudah berapa tahun? Berapa tahun itu tidak sejalan dengan apa yang terasa kudapatkan. Masih banyak rasa kekurangan dalam diriku. Masih banyak hal yang ingin kulakukan, walau juga tak kunjung kulaksanakan, tapi aku menjadi semakin rakus. Semakin lama, semakin menginginkan banyak hal, semakin ingin banyak baca buku, semakin berharap memilik...

Rasanya Aku Butuh Psikolog

Gambar
Badanku tidak enak sore ini. Lemas, meriang, tidak terlalu pusing, tapi terasa sekali tidak fit untuk melakukan sesuatu. Punggungku juga terasa pegal akhir-akhir ini. Harus diakui kalau aku kurang menjaga kesehatan selama ini, tidak banyak bergerak dan membawa diri olah raga. Namun cuaca memang sedang buruk. Dingin terus menerpa, hujan menjadi musim yang begitu menyulitkan tubuh. Mungkin tubuhku sendiri memang sedang ringkih, tidak bersemangat secara jiwa dan ragawi. Beberapa malam ini aku banyak insomnia. Kuhabiskan waktu dengan main PS, atau membaca buku, dan kadang menonton film. Bahkan sampai aku sudah terlalu bosan pun, diriku belum juga bisa tidur. pikiran kembali melayang pada hal-hal yang memang belum selesai pada diriku. Tentang keluarga, cinta, dan juga cita-cita. Saat ini, ketika aku merasa diriku tak berdaya, aneka persoalan yang belum selesai itu malah tak bisa terdamaikan. Terkadang aku merasa ingin marah dan mengumpat-umpat sendiri. Rasanya aku membutuhkan seorang skia...

---

Tak ada yang bisa kukatakan untuk diriku sendiri. Aku sudah membuka laptop untuk menuliskan sesuatu, tapi malah berputar-putar tak karuan. Mungkin karena ada yang mati. Ada mode pikiran yang tak berfungsi, sebab aku tidak pernah menggunakannya. Terlalu asyik memanjakan diri sendiri sehingga lupa untuk berbuat sesuatu. Padahal hidup bukan Cuma bernafas. Bukan Cuma bisa makan dan merokok, tapi gelombang kesadaran yang terus berdentum. Berkali-kali kucoba untuk memulai, tapi selalu berantakan di tengah jalan. Aku kehilangan kekuatan untuk terus berusaha, kehilangan semangat untuk hidup. Kehilangan hal paling penting dalam kehidupan, cinta. Ini bukan akhir cerita, tapi hidup yang tidak hidup, karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya, terasa lebih buruk dari kematian. Sudah lama Rendra mengingatkan akan hal itu, tapi sampai kini aku tak juga mengerti. Bukan sepi atau keramaian, bukan pula kedekatan atau keterasingan, tapi aku butuh menyalakan sesuatu untuk menjalani hidupku kem...

Hai Kids

Gambar
Hai Kids Saat ini bapakmu sedang menulis perasaannya untuk dirimu. Walau kau belum nampak, tapi kau layak mendapatkan cerita ini. Ungkapan bapakmu yang belum rampung mengenai hidupnya. Masih berkutat pada banyak hal di masa lalu. Terpenjara, begitulah istilah sederhananya. hidup ini penuh omong kosong. Banyak orang berduyun-duyun mengikuti arus viral, berusaha menyerahkan diri untuk hanyut di dalamnya. Padahal itu konyol. Hari ini dunia banyak menawarkan mimpi dan imajinasi. Ada berbagai cara yang dijual, atau dibagikan secara Cuma-Cuma, untuk meraih mimpi dalam waktu cepat. Tidak untuk menjadi manusia, atau menemukan makna yang sejati, tapi untuk menjadi kaya. Semuanya bermuara ke sana, mulai dari sekolah dan universitas, kursus-kursus keterampilan, seminar motivasi, tutorial investasi, pelatihan menjadi kreator, semua itu hanya landasan untuk kemudian menawarimu kekayaan. Hari ini orang meremehkan kalimat “uang bukan segalanya”. Bahkan mereka yang kaya dengan tegas membantah it...

Tanpa Lagu "Legenda", Gus Dur Tetap Idola

Gambar
View this post on Instagram A post shared by Fotografer Indonesia (@fotograferindonesia__) Masih bulan Desember, berarti masih bulan Gus Dur. Masih bisa mengenang beliau lewat lagu ini. Baru tadi malam aku membaca dari membuka akun Instagram Arbain Rambey, meliat koleksi foto berserta ceritanya, dan aku melihat salah satu fotonya dijadikan isi video klip. Itu adalah video klip lagu berjudul "Legenda", dinyanyikan oleh Bunga Citra Lestari. Langsung aku beranjak untuk menontonnya di YouTobe. Lagu itu memanglah bagus, baik lirik maupun iramanya. Namun setelah aku mendengarkan versi Sheila Majid pada tahun 1990, ternyata aku lebih suka versi yang lama. Versi Sheila Majid pada 1990 terdengar lebih bagus secara keseluruhan, baik itu musiknya maupun vocal-nya. Tentu ini pendengaranku secara pribadi. Versi 1990 lebih halus secara aransemen. Petikan pianonya bisa menyentuh ke hati. Begitu pun dengan suara Sheila Majid, khas Melayu dan halus. Terasa lebih dalam ...

Jawaban Tiga Capres Soal Kebudayaan?

Gambar
Sungguh disayangkan jika pada debat capres kemarin tidak membahas soal budaya. Padahal itu adalah unsur penting dalam bernegara. Sebagaimana yang dikatakan Soekarno tentang TRISAKTI. Yakni berdaulat dalam politik, berdikari secara ekonomi, dan bermartabat secara budaya. Kedaulatan politik dan berdikari secara ekonomi merupakan hal yang ramai dibicarakan. Terutama sekali mengenai berdikari secara ekonomi. Ada banyak gagasan dan program mengenai itu. Namun arah bangsa sudah seharusnya ditopang dari budaya yang bermartabat. Sebab budaya adalah cermin peradaban. Pembukaan UUD 45 tidak hanya memiliki tendensi politik dan ekonomi, tapi juga mengandung unsur budaya, baik itu budaya fisik maupun non fisik. Budaya fisik adalah karya seni, musik, lukisan, sastra, patung, tari, patung dan aneka hal lainnya bisa menjadi komoditas. Sedangkan budaya non-fisik adalah kepribadian, mental, sikap hidup, kemanusiaan, keadilan, dan aneka sikap positif yang mencerminkan cita-cita bangsa. Dalam budaya f...

Presiden Intelektual

Gambar
Kemarin Sore menonton tayangan dialog Anis Baswedan dengan beberapa anak muda di Jakarta. Cukup hebat jawabannya, dengan durasi yang cukup panjang. Para penanya juga bukan sembarangan, sebagian tampak orang yang konsen di bidangnya. Jawaban Pak Anis juga cukup baik dan lugas, tidak bertele-tele, atau malah berkoar-koar dengan janji dan ilusi. Dari tiga calon presiden, hanya inilah yang komunikasinya layak untuk disimak, begitulah menurutku. Sebab beliau adalah intelektual, dan dari rekam jejaknya, ia sudah pernah sukses berada di jabatan birokrasi. Pemilihan presiden tahun ini berbeda dengan tahun 2014 lalu, saat aku pertama kali mendapatkan hak pilih. Saat itu kepercayaan kepada SBY tidak cukup baik, ada banyak kasus yang menyeret keluarga Cikeas. Dampaknya adalah, partai oposisi yakni PDIP naik pamor dan memenangkan sosok calon presiden. Aku juga memilih presiden dari PDIP waktu itu. Sebab aku melihatnya sebagai sosok sipil, menurutku waktu itu, dan juga ada banyak pendapat yang ku...
Gambar
Tiga buku karya Paulo Coelho sudah ada di tanganku. Bukan karena aku penasaran dengan isinya, tapi lebih karena aku menginginkannya. Kurasa ini adalah jenis buku yang akan aku baca berulang kali. Sebab keindahan kalimatnya, dan yang terpenting adalah tentang pencarian akan makna. Bukankah semua orang berjalan di bumi untuk mencari makna? Dan akan semakin mudah rasanya jika kita memiliki teman untuk menjalaninya. Teman yang mengajak bernalar dan berefleksi, dan juga teman yang menceritakan makna hidupnya. Sebelum cerita kita didengar orang lain, akan lebih baik jika kita mendengarkan ceritanya, dan bercerita untuk diri sendiri dahulu. Merangkai makna untuk diri sendiri. Kata Paulo Coelho, setiap orang yang menjalani mimpinya, dan juga mengikuti suara hatinya, dia bahagia. Namun aku belum bisa merasakan itu, belum juga mengikuti kata hatiku. Atau mungkin aku tak pernah mendengar suara hatiku. Masih jauh dari mengenal kata hati. Masih dibutakan oleh banyak suara yang tak p...

Harus Bagaimana?

Gambar
Aku mulai masuk kembali pada sistem yang tidak kumengerti. Keadaan yang bisa kupahami, tapi sulit untuk kujangkau, apalagi untuk dikendalikan. Keadaan yang berhubungan dengan banyak orang, dan harus berhubungan dengan orang yang berbeda-beda. Harus menjalin komunikasi, yang kadang cenderung salah paham, juga memicu konflik untuk mencapai target tertentu. Sulit untuk bisa melangkah ke sana. Sebab aku masihlah orang asing di sini, bukan warga asli yang termasuk ke dalam sistem yang terkendali, yang hanya mengakui satu otoritas. Bukan sistem terorganisir yang memiliki turunan kebijakan yang terstruktur. Tak kuanggap hal itu sebagai kekurangan. Namun selalu ada konsekuensi dari sistem yang dipilih, konsekuensi pada orang-orangnya, dan juga konflik antar mereka. Di satu sisi aku memandang bahwa inilah seni -nya, namun di sisi lain sulit untuk mengubah apa yang sudah mengakar dengan satu pikulan tongkat Musa. Perlu ada negosiasi dan kesepakatan yang baik di bawah. Satu pukulan tongkat Musa...

Ternyata Aku Tak Sebaik Yang Kupikirkan

Gambar
Pagi tadi aku kembali mengajak teman untuk sarapan. Teman yang sama, dan juga di warung soto yang sama pula. Perasaan lapar itu satu hal, yang lainnya adalah, aku belum makan dari kemarin siang. Rasanya ingin makan yang berselera dan juga banyak. Dua porsi mungkin. Kebetulan orang yang ku ajak juga tidak repot, dan kami langsung berangkat. Sebelum ke tujuan, kami mampir dulu ke toko untuk membeli rokok, sebab kami berdua kehabisan bara api nikmat itu. Bara api yang seakan sudah menjadi kebutuhan primer. Bahkan kadang lebih primer dari makan itu sendiri. Sampai di warung, kamu memesan dua mangkuk soto, tapi aku sudah berniat untuk memesan mamgkuk ke-dua ku nantinya. Mangkok pertama sudah cukup membuatku kenyang, tapi pikiran untuk memesan porsi kedua tak bisa dihindari. Akhirnya aku memesan mangkok porsi keduaku. Sementara teman tadi sudah menikmati rokoknya, aku masih bergulat dengan mangkok keduaku. Setelah porsi keduaku selesai, barulah aku merokok dan kita mengobrol. Tak lupa aku me...

Pengemis Di Warung Soto

Gambar
Perasaan lapar membuatku mengajak orang untuk sarapan. Saat kita keluar, keputusan terbaik adalah berhenti di warung soto. Cuaca sedang panas, dan rasanya butuh makanan yang menyegarkan. Dalam hal ini, soto adalah pilihan yang masuk akal. Hanya semangkuk kecil porsinya. Namun kami berdua harus memaksa diri untuk mengenyangkan perut dengan itu. Sebab aku curiga sejak awa, harga soto ini pasti sekitar dua puluh ribuan. Meskipun rasanya juga tidak mengecewakan. Aku selesai lebih awal dengan satu porsi kecil itu. Temanku langsung berkomentar, kalau tampaknya aku cukup kelaparan, dan kujawab, ya, aku memang merasa lapar sejak tadi. Selesai makan, kami berdua menyalakan rokok masing-masing. Ngobrol hal-hal yang bisa untuk diobrolkan. Mulai dari soal belajar, sampai dengan soal politik hari ini. Tidak lupa juga membicarakan teman lain, atau rasan-rasan. Kupikir membicarakan orang lain bukanlah dosa besar. Apa lagi jika itu untuk meng-evaluasi diri dan keadaan. Akan menjadi masalah besar k...