Per-tai-an Duniawi
Hai blog Ini malam yang akan menjadi panjang, sunyi dan menjengkelkan. Meski tidak seluruhnya. Saat aku baru pulang dari rumah temanku, ngobrol ngalor-ngidul untuk menjaga keakraban. Juga untuk menikmati kopi khas Pantura yang sudah habis di rumahku. Langsung saja aku masuk ke kamar mandi, bukan ke rumah. Ini sebab sudah sejam lebih aku menahan beol. Dan rumahku tidak banyak berubah sejak aku kecil dulu, sumur, kamar mandi, dan toiletnya berada di luar rumah. Saking cukup kebeletnya, aku jadi lupa untuk menyalakan rokok. Jadi harus kunikmati suasana BAB dengan sepi, sebab memainkan ponsel bukanlah caraku untuk betah di WC. Satu-satunya yang bisa kulakukan di sana adalah melamun. Mengingat kembali apa yang terjadi saat yasinan tadi sehabis magrib. Saat sebelum acara dimulai, orang yang kemarin menyuruhku untuk merekap data leluhur para jamaah, kembali menunjukku untuk menjadi sekretaris jamaah plus bendahara. Memang selalu begitulah modelnya, tembak-langsung, tanpa perlu bertanya atau r...