Postingan

Per-tai-an Duniawi

Gambar
Hai blog Ini malam yang akan menjadi panjang, sunyi dan menjengkelkan. Meski tidak seluruhnya. Saat aku baru pulang dari rumah temanku, ngobrol ngalor-ngidul untuk menjaga keakraban. Juga untuk menikmati kopi khas Pantura yang sudah habis di rumahku. Langsung saja aku masuk ke kamar mandi, bukan ke rumah. Ini sebab sudah sejam lebih aku menahan beol. Dan rumahku tidak banyak berubah sejak aku kecil dulu, sumur, kamar mandi, dan toiletnya berada di luar rumah. Saking cukup kebeletnya, aku jadi lupa untuk menyalakan rokok. Jadi harus kunikmati suasana BAB dengan sepi, sebab memainkan ponsel bukanlah caraku untuk betah di WC. Satu-satunya yang bisa kulakukan di sana adalah melamun. Mengingat kembali apa yang terjadi saat yasinan tadi sehabis magrib. Saat sebelum acara dimulai, orang yang kemarin menyuruhku untuk merekap data leluhur para jamaah, kembali menunjukku untuk menjadi sekretaris jamaah plus bendahara. Memang selalu begitulah modelnya, tembak-langsung, tanpa perlu bertanya atau r...

Arti Sebuah Nama

Gambar
Lanjutkan cerita kemarin. Setelah selesai kunjungan ke makam pahlawan, kami pergi ke Masjid Agung untuk salat asar, dan kemudian lanjut menonton film yang kami obrolkan kemarin. Film Seni Mencintai Kekasih, yang bersumber dari buku yang ditulis oleh Agus Mulyadi. Saat dia masuk masjid untuk salat asar, aku memilih untuk merokok dulu di alun-alun depan masjid. Melihat keramaian orang-orang di sore hari. Pada dasarnya aku juga cukup waspada, siapa tahu ada orang yang mengenalku ada di sana. Tapi mau bagaimana pun juga, sendiri dan melamun adalah pekerjaan utama dalam hidupku. Setelah salat asar, ternyata Isma berziarah di makan yang ada di dekat masjid. Aku bahkan baru tahu kalau ada makan di sana. Pada dasarnya aku sendiri menganggap dia aneh, kenapa bisa orang seperti dia terobsesi untuk berziarah. Padahal ziarah adalah acara orang tradisionil. Kenapa dia yang sudah cukup modern, yang bahkan sejak kecil kurang akrab dengan tradisi seperti ini, memilih untuk berziarah kubur sebagai pen...

Kau Yakin Mereka Semua Pahlawan?

Gambar
Siang itu, setelah bangun dan membersihkan badan, kubawa motor menuju pabrik gula yang berada di daerah Jati Barang, sebenarnya itu sudah masuk wilayah Brebes, bukan lagi Tegal. Kabarnya dia sudah sejam menunggu di sana, acara kunjungan wisata yang dilakukannya dengan sebuah agen wisata yang didapatnya dari instagram, berakhir di tempat itu. Aku sendiri kurang mengenal wilayah di sini, daerah yang sudah ku tinggali tiga tahun ini. Hari ini kulakukan itu untuk menyambut temanku yang datang dari ibu kota, sekaligus juga menghibur diri sendiri. Mengobrol dengan teman lama, membahas hal-hal yang sudah lama terbengkalai di kepala. Sampai pabrik gula, aku kebingungan mencari titik lokasi dia berada. Ku telepon dia, dan mengabari kalau aku sudah ada di depan pabrik gula yang sudah ada sejak jaman kolonial itu. Dia menjawab kalau masih berada di dalam lokasi pabrik dan akan segera keluar. “Kamu gak ingin melihat-lihat dulu pabrik gula ini?” tanyanya sewaktu kita bertemu. “Tempatnya cukup menar...

Mas, Tolong Antarakan Saya Ke Tukang Becak Itu

Gambar
Mulai malam tadi, aku berniat tak lagi ingin mendengarkan musik. Aku putuskan untuk berhenti dari kenikmatan itu, mendengarkan album-album yang kusukai, lewat  headset  kabel yang bagus dari Mas Zen, dan juga menggunakan pemutar musik yang sudah kubeli dari  Play store.  Meski harganya cuma tiga puluh lima ribu, tapi pengalaman mendengarkan musik lewat aplikasi ini tidak mengecewakan. Aku pernah hampir setahun berlangganan  Spotify , lalu aku berhenti. Keputusan untuk membatasi diri pada lagu yang kusukai, dan tanpa harus ada distraksi,  Ilegal downloading- lah solusinya. Sudah cukup banyak lagu yang terkumpul. Terutama rangkaian album. Mulai dari yang religius sampai yang liberal, termasuk juga lagu-lagu instrumental. Aku ingin menyerahkan waktuku untuk melamun. Menyelami kekosongan. Meski beberapa lagu dari  U2,  masih terngiang di kepalaku sampai saat ini. Foto dari majalah  RollingStone  . Aku memang mulai begitu menikmati lagu-lag...

Idealisme Membunuhmu

Gambar
Hay blog Malam ini aku melanjutkan membaca otobiografi Maria Sharapova berjudul UNSTOPEBLE; My Life So Far . Buku uang sudah lama Kudapat, surah juga dipamerkan lewat Instagram, tapi masih belum selesai kubaca. Aku baru sampai pada momen dia memenangkan Wimbledon, Gram Slam pertamanya di usia tuju belas tahun. Setelah membaca bagian itu, aku malah cenderung melamun dan kemudian terpikir untuk menulis. Sebenarnya ini bukan buku bahasa yang pertama kubaca. Mungkin ini buku keempat. Buku yang pertama kubaca dalam basa inggris berjudul Space. Sebuah buku tentang luar angkasa yang kubeli di Yusuf Agensi. Harganya lima ribu rupiah. Waktu itu, saat aku masih awal kuliah, aku memang berniat untuk lebih dekat dengan bahasa inggris. Namun sayangnya buku itu cukup rumit. Ada banyak kosa kata yang sulit dipahami, dan juga logika atau keterangan tentang dunia fisika yang rumit untuk ku cerna. Aku cenderung mengartikan setiap kata yang kutahu, dan rasanya hampir semua kata cenderung aku cari di kamu...

kakiku terkilir

kakiku terkilir, tapi aku masih bisa berjalan, malah menjadi begitu menyadari tiap langkah. aku tak mau terenyuh dan marah, apa lagi menyalahkan hidup. kurasa ini semua adalah pelajaran untuk menjadi. awalnya aku berpikir untuk segera mengobati, supaya cepat sembuh dan normal kembali. sesaat kemudian aku bisa menyadari, bahwa kesembuhan butuh waktu, dan bukan hanya itu, sebab memang semua hal di dunia ini butuh waktu. semua hal di dunia ini punya ritmenya sendiri. pohon butuh waktu untuk tumbuh dan berbuah, buah butuh waktu untuk masak, telur butuh waktu untuk menetas, pagi butuh waktu untuk menjadi sore, begitu juga sakit yang membutuhkan waktu untuk sembuh. waktu mengajarkan pada kesabaran dan proses, dan adalah sebuah perjalanan.

Aku bertanya pada Tuhan

Tuhan, kenapa hidupku begitu sebegini menyakitkan? Tuhan pun menjawab. Kenapa kau berpikir begitu? Masalahmu adalah di pikiranmu. Andai kau kuciptakan seperti beruang, atau bahkan kambing, tentunya kau tak akan bertanya begitu kepadaku. Bahkan seekor kecoak pun tak pernah menanyakan itu padaku, ia terus menjalani perannya meski banyak manusia membencinya.