Postingan

Berkabar

Gambar
Dua hari ini badanku terasa tidak enak. Sedikit meriang, tapi yang membuatnya cukup parah adalah lidah yang pucat, yang membuat rasa makanan menjadi semakin hambar. Bahkan malam jumat kemarin, aku biasa langsung menolak untuk diajak keluar, saat main ke rumah seorang sahabat. Sebab berat sekali rasanya untuk menahan hawa dinginnya malam. Mungkin sebab perubahan iklim, begitu pikirku dengan keadaan ini. Temanku juga merasakan hal yang sama, bahkan dia tidak bisa berangkat kerja hari ini. Karena bukan hanya dirinya yang sakit, tapi juga anak dan keadaan istrinya kurang beigitu baik. Aku berharap mereka lekas bagian dan kembali beraktifitas seperti biasa.   Dalam kondisi meriang itu, aku cukup merasa kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa aku yang seorang  pengangguran profesional  ini mudah sekali sakit. Rasanya kalah banyak dengan teman-teman yang setiap kali bekerja cukup keras. Fenomena kerja di kampung, yang terlalu banyak mengandalkan hal fisik.   Aku sempat berfiki...

08/08/2026

Ingin diriku menulis satu kisah yang jujur Kisah yang dekat dengan hidupku Bukan hanya kisah, tapi sebuah karya tulis yang jujur   Seharusnya aku berpuasa bukan hanya tentang tidak makan dan minum. Namun tentang menjalani apa yang seharusnya dilakukan, dan melakukan apa yang seharusnya dijalani.   Hidupku penuh dengan kebohongan. Saat kecil aku sering dan suka menceritakan kebohongan. Hingga aku cukup dikenal sebagai pencerita kebohongan oleh orang-orang dan teman-teman saat itu. Saat SMA, cerita kebohongan pun masih banyak kulakukan.semua kebohonhan itu adalah sebab aku ingin bergaya, dan juga gengsi diri yang tinggi.   Saat kuliah, aku bohong pada keluargakalau aku masik jurusan pendidikan. Padahal masuk jurusan filsafat.ini sebab aku hanya ingin mencari alasan untuk pergi meninggalkan keluarga. Sampai hari ini kebohongan itu tak pernah terbuka. Sulit bagiku untuk jujur masuk jurusan filsafat, sebab nanti mereka akan bertanya, filsafat itu apa? Nanti kalau lulus akan ke...

10 Mei 2026

Aku masih bisa menikmati sunyinya malam. Mungkin tidak seperti yang kuharapkan dalam menjalani saat ini, tapi tak seharusnya aku kecewa dan putus asa dengan hidupku. Aku masih bisa tertawa, dan tidak kehilangan logika. Masih menjadi manusia. Sebentar lagi akan sampai pada seribu hari kematian ibuku. Rasanya masih seperti kemarin. Padahal sudah hampir tiga tahun kepergiannya. Rasanya aku masih dalam perasaan kecewa yang sama, seperti beberapa hari setelah ibuku meninggal. Apakah mungkin luka ini tak dapat sembuh? Atau batinku masih saja terus menyangkal, atas semua kekejaman yang terjadi padaku dalam keluarga ini? Kadang aku berpikir, “benar kata Soe Hoe Gie, nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Atau mereka dilahirkan dan mati muda...”. Kesimpulan itu muncul ketika aku tak tahan dengan rasa kecewa yang kumiliki. Memiliki keluarga yang menyakitkan terasa lebih buruk ketimbang tidak memilikinya. Aku masih selalu ingin marah pada semuanya. Masih tak bisa menerima apa yang terjadi ...

AKU DAN NAFASKU, MERINDUKANMU

Gambar
Kalau mendengar lagu Letto yang satu ini, saat hati berada dalam kegundahan, ia(lagu ini) seperti Bintang Utara yang menunjukkan siapa dan di mana posisi kita, serta tanda, ke mana hidup kita akan menuju. Pada kenyataannya, sebuah karya yang baik tidak hanya berhenti pada penghiburan akan keindahannya, tapi juga bisa menjadi teman sekaligus Kompas dalam kesepian. Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi Bolehkah aku mendengarmu? Terkubur dalam emosi, tak bisa bersembunyi Aku dan nafasku, merindukanmu Saat mendengarnya di sore kemarin, kalimat "aku dan nafasku merindukanmu", membawaku pada suasana merenung. Sebab temanku dari Pati pernah bercerita, kalau maksud dari lirik ini adalah tentang kita yang masih berada dalam kandungan. Ketika kita masih dikandung ibu, nafas sekaligus detak jantung kita adalah karunia agung Sang Maha Pencipta. Namun saat kita terlahir dan dewasa, 'kedekatan nafas' ini sering banyak terabaikan oleh aneka hal dunia ini. Ungkapannya tidak tegas ...

Per-tai-an Duniawi

Gambar
Hai blog Ini malam yang akan menjadi panjang, sunyi dan menjengkelkan. Meski tidak seluruhnya. Saat aku baru pulang dari rumah temanku, ngobrol ngalor-ngidul untuk menjaga keakraban. Juga untuk menikmati kopi khas Pantura yang sudah habis di rumahku. Langsung saja aku masuk ke kamar mandi, bukan ke rumah. Ini sebab sudah sejam lebih aku menahan beol. Dan rumahku tidak banyak berubah sejak aku kecil dulu, sumur, kamar mandi, dan toiletnya berada di luar rumah. Saking cukup kebeletnya, aku jadi lupa untuk menyalakan rokok. Jadi harus kunikmati suasana BAB dengan sepi, sebab memainkan ponsel bukanlah caraku untuk betah di WC. Satu-satunya yang bisa kulakukan di sana adalah melamun. Mengingat kembali apa yang terjadi saat yasinan tadi sehabis magrib. Saat sebelum acara dimulai, orang yang kemarin menyuruhku untuk merekap data leluhur para jamaah, kembali menunjukku untuk menjadi sekretaris jamaah plus bendahara. Memang selalu begitulah modelnya, tembak-langsung, tanpa perlu bertanya atau r...

Arti Sebuah Nama

Gambar
Lanjutkan cerita kemarin. Setelah selesai kunjungan ke makam pahlawan, kami pergi ke Masjid Agung untuk salat asar, dan kemudian lanjut menonton film yang kami obrolkan kemarin. Film Seni Mencintai Kekasih, yang bersumber dari buku yang ditulis oleh Agus Mulyadi. Saat dia masuk masjid untuk salat asar, aku memilih untuk merokok dulu di alun-alun depan masjid. Melihat keramaian orang-orang di sore hari. Pada dasarnya aku juga cukup waspada, siapa tahu ada orang yang mengenalku ada di sana. Tapi mau bagaimana pun juga, sendiri dan melamun adalah pekerjaan utama dalam hidupku. Setelah salat asar, ternyata Isma berziarah di makan yang ada di dekat masjid. Aku bahkan baru tahu kalau ada makan di sana. Pada dasarnya aku sendiri menganggap dia aneh, kenapa bisa orang seperti dia terobsesi untuk berziarah. Padahal ziarah adalah acara orang tradisionil. Kenapa dia yang sudah cukup modern, yang bahkan sejak kecil kurang akrab dengan tradisi seperti ini, memilih untuk berziarah kubur sebagai pen...

Kau Yakin Mereka Semua Pahlawan?

Gambar
Siang itu, setelah bangun dan membersihkan badan, kubawa motor menuju pabrik gula yang berada di daerah Jati Barang, sebenarnya itu sudah masuk wilayah Brebes, bukan lagi Tegal. Kabarnya dia sudah sejam menunggu di sana, acara kunjungan wisata yang dilakukannya dengan sebuah agen wisata yang didapatnya dari instagram, berakhir di tempat itu. Aku sendiri kurang mengenal wilayah di sini, daerah yang sudah ku tinggali tiga tahun ini. Hari ini kulakukan itu untuk menyambut temanku yang datang dari ibu kota, sekaligus juga menghibur diri sendiri. Mengobrol dengan teman lama, membahas hal-hal yang sudah lama terbengkalai di kepala. Sampai pabrik gula, aku kebingungan mencari titik lokasi dia berada. Ku telepon dia, dan mengabari kalau aku sudah ada di depan pabrik gula yang sudah ada sejak jaman kolonial itu. Dia menjawab kalau masih berada di dalam lokasi pabrik dan akan segera keluar. “Kamu gak ingin melihat-lihat dulu pabrik gula ini?” tanyanya sewaktu kita bertemu. “Tempatnya cukup menar...