Per-tai-an Duniawi

Hai blog

Ini malam yang akan menjadi panjang, sunyi dan menjengkelkan. Meski tidak seluruhnya.

Saat aku baru pulang dari rumah temanku, ngobrol ngalor-ngidul untuk menjaga keakraban. Juga untuk menikmati kopi khas Pantura yang sudah habis di rumahku. Langsung saja aku masuk ke kamar mandi, bukan ke rumah. Ini sebab sudah sejam lebih aku menahan beol. Dan rumahku tidak banyak berubah sejak aku kecil dulu, sumur, kamar mandi, dan toiletnya berada di luar rumah.

Saking cukup kebeletnya, aku jadi lupa untuk menyalakan rokok. Jadi harus kunikmati suasana BAB dengan sepi, sebab memainkan ponsel bukanlah caraku untuk betah di WC. Satu-satunya yang bisa kulakukan di sana adalah melamun. Mengingat kembali apa yang terjadi saat yasinan tadi sehabis magrib.

Saat sebelum acara dimulai, orang yang kemarin menyuruhku untuk merekap data leluhur para jamaah, kembali menunjukku untuk menjadi sekretaris jamaah plus bendahara. Memang selalu begitulah modelnya, tembak-langsung, tanpa perlu bertanya atau rapat dahulu. Bahkan kalau perlu, aku sekalian dijadikan wakil RT. Wah, rasanya benar-benar membuat edan. Rasanya yang ke dua itu sulit untuk kuterima.

Sebenarnya aku memang sulit untuk menerima putusan itu. Sama sulitnya jika untuk menolak, sebab bendahara lama sudah merangkap banyak hal. Meski aku lahir dan menjalani masa kecil di rumah ini, surah banyak orang yang aku lupa namanya, juga beberapa orang baru yang aku tak akrab. Pengalaman hidup membuatku menyimpulkan kalau diriku introvert. Aku lebih nyaman untuk sendiri, dan punya banyak energi dalam menjalaninya.

Jama’ah Yasin ini adalah satu-satunya ruang sosialku. Biasanya aku cuma di rumah, keluar saat jumatan atau butuh membeli sesuatu. Posisi ini membuatku perlu untuk hafal dan mengenal tiap anggota, yang jumlahnya sekitar 35 orang ini. Kukira hanya setengah dari kelompok ini, yang aku tahu orangnya.

Dan aku takut, jikalau nanti aku akan dipandang dengan kecewa. Aku masih punya banyak masalah dengan diriku sendiri. Masih belum jelas kerja dan penghasilan, masih punya pikiran untuk pergi ke mana-mana. Yang jelas, masih merasa tak mampu untuk bertanggung jawab pada tugas sebuah kelompok, dan lebih nyaman untuk hanya menjadi anggota biasa.

Aku tak sanggup untuk dipandang negatif dan salah. Aku masih begitu peduli dengan pandangan orang. Masih tak yakin dengan diriku sendiri.

Aku ingin dipandang ...

Bukan

Aku ingin menjadi ...

Ini jelas dua pendekatan yang berbeda dalam menilai diri sendiri meski keduanya berdampak pada hubungan sosial. Aku yang lebih memikirkan diri untuk dipandang hanya akan takut, tapi juga narsis. Akan lebih egois dibanding peduli dam tanggung jawab.

Aku jadi semakin curiga dengan diriku sendiri. Jangan-jangan, selama ini apa yang ku anggap mimpiku, cita-cita, dan hal-hal yang ku anggap sebagai tujuan hidup, adalah buah dari karakter aku ingin dianggap ...,

Jangan-jangan aku tak pernah sungguh-sungguh ingin menjadi. Agak lama kupikirkan itu, sampai lupa terasa kalau badan ini sudah berhenti mengeluarkan tai.

Begitu sadar sudah selesai, ku siram bagian pengeluaran ini untuk membersihkannya. Namun saat kuliah bagian WC, ternyata airnya mengendap, tak bisa langsung masuk bersama tai yang ada. Saat ku siram lagi, airnya menjadi tambah naik, hampir ke permukaan. “Wah, mampet lagi.” Pikiran sambil berdiri dan memakai celana dalam.

Aku keluar toilet. Sebab airnya akan cukup pelan untuk mengendap, ku nyalakan rokok untuk menunggu prosesnya. Kusiapkan ember untuk menyiramnya. Mungkin dengan kadar air yang lebih besar dan langsung, personal akan lebih mudah selesai.

Saat roko hampir habis, aku tidak sabar untuk segera menyiram. Meski airnya masih belum sepenuhnya mengendap. Kuisi ember dengan air penuh, dan menyiramkan pada kloset. Wah, ternyata masih juga belum berhasil. Air kembali mampet untuk kedua kalinya.

Ya sudah lah. Aku masuk rumah dan merokok lagi. Karena masih belum ngantuk, dan juga kepikiran tentang kloset yang belum sepenuhnya disiram bersih itu, aku menunggu pengendapannya sambil menulis di sini. Kuharap sekarang, saat sudah lama aku meninggalkan kloset tadi, airnya sudah mengendap penuh. Dengan begitu akan mudah untuk di siram untuk dibersihkan.

Aku habis dari toilet dan menyelesaikan urusan kloset yang tadi belum bersih. Cukup lebih nyaman lah pikiranku sekarang.

Entah apa yang terjadi nanti. Entah bagaimana aku dipandang orang. Sekurang-kurangnya aku menjadi orang yang bertanggungjawab pada kotoran yang ku buat sendiri.

23/04/2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mas, Tolong Antarakan Saya Ke Tukang Becak Itu

Idealisme Membunuhmu

Arti Sebuah Nama