Mas, Tolong Antarakan Saya Ke Tukang Becak Itu
Mulai malam tadi, aku berniat tak lagi ingin mendengarkan musik. Aku putuskan untuk berhenti dari kenikmatan itu, mendengarkan album-album yang kusukai, lewat headset kabel yang bagus dari Mas Zen, dan juga menggunakan pemutar musik yang sudah kubeli dari Play store. Meski harganya cuma tiga puluh lima ribu, tapi pengalaman mendengarkan musik lewat aplikasi ini tidak mengecewakan.
Aku pernah hampir setahun berlangganan Spotify, lalu aku berhenti. Keputusan untuk membatasi diri pada lagu yang kusukai, dan tanpa harus ada distraksi, Ilegal downloading-lah solusinya. Sudah cukup banyak lagu yang terkumpul. Terutama rangkaian album. Mulai dari yang religius sampai yang liberal, termasuk juga lagu-lagu instrumental. Aku ingin menyerahkan waktuku untuk melamun. Menyelami kekosongan. Meski beberapa lagu dari U2, masih terngiang di kepalaku sampai saat ini.
| Foto dari majalah RollingStone . Aku memang mulai begitu menikmati lagu-lagu dari Bono. |
Ngomong-ngomong soal melamun, aku teringat di suatu sore, saat aku sedang melamun di kampus. Tepatnya di bagian dalam pintu masuk utama fakultas Ushuluddin. Aku melamun setelah bingung memahami apa yang kubaca.
Berada di jurusan filsafat adalah tantangan untuk kuat membaca dan mengembangkan pikiran, dan juga pemikiran. Sayang sekali, di masa itu, aku gagal menyadari hal ini. Aku kuliah sebab mencari eksistensi, pada orientasi hidup yang aku masih belum mengerti. Hanya mengikuti keinginan, dan Ingin berstatus sama dengan sebagian besar teman-teman, menjadi mahasiswa, yang kemudian semesta mengizinkannya.
Aku duduk di ujung sebuah kursi panjang. Di ujung yang lain, duduk mahasiswi entah dari jurusan apa. Waktu itu sekitar pukul setengah empat. Sinar matahari yang masuk, mengerucut di sisi utama pintu.
Saat itu masih belum musim hujan. Udara panas kota begitu menyengat di badan. Untungnya aku hanya memakai kaos warna putih, yang untuk kesopanan dalam kelas, aku mengenakan jaket sambil tetap membuka resletingnya.
Menjelang hari semakin sore, datang seorang mahasiswi lain, berbaju putih, yang duduk di tengah bangku panjang itu. Sebagai mahasiswa semester pertama, tentu aku tak kenal dia, tapi aku tahu dia dari fakultas ini. Sebab perawakan tubuhnya sulit untuk dilupakan.
Mohon maaf jika aku harus menceritakan ini. Perempuan itu punya kondisi fisik -aku tak tahu bahasa yang lebih halus- yang tidak umum, tapi dia bukan termasuk golongan temen-temen difabel. Dia mampu berjalan -meski dengan cara terseok-seok, melihat, dan bicara. Kukira dia juga pintar. Hanya saja kekurangan fisiknya begitu tampak sejak dari tinggi badannya. Begitulah yang dapat dideskripsikan tentangnya.
Saat pertama kali melihat mbak itu, juga beberapa teman difabel yang kukenal, ada sesuatu dalam benakku yang baru dapat dideskripsikan saat ini. Tentang betapa kerennya orang-orang kota, yang memiliki ekonomi yang cukup, dan juga pendidikan yang baik. Mereka tak menganggap kekurangan fisik adalah hambatan untuk melangkah dalam kenormalan, menjadi hidup fase pendidikan sebagaimana umumnya, bahkan sampai ke perguruan tinggi.
Sebab waktu itu, pikiranku tertuju pada kampungku, juga teman-teman seangkatanku. Di kampungku, orang-orang dengan kondisi fisik normal pun belum tentu sekolah tinggi. Bahkan temanku, yang kukira otaknya lebih cerdas dariku, juga tak dapat kesempatan untuk kuliah.
"Mas" dia memanggilku, dan aku menatapnya.
"Tolong antarkan saya ke becak itu."
"Oh, iya mbak."
Satu hal yang kupikirkan waktu itu ialah, "Kenapa perempuan minta tolong padaku, tidak pada pada perempuan yang ada di sebelah kanannya?" Bukan maksud aku keberatan, tapi kupikir itu pertimbangan yang masuk akal sebagai sesama perempuan, juga dalam konteks agama. Dan aku juga selalu ingat satu kata-kata di film India, "Hanya wanita yang bisa mengerti penderitaan wanita lainnya." Sebab menurutku quote itu banyak relevansinya dalam perjuangan organisasi perempuan.
Saat dia bersiap berdiri sambil memiting bukunya dengan tangan kanan, aku membuka pintu kaca untuk lewat. Lalu aku berdiri di samping kirinya dan menyediakan tangan kananku untuk membantu dia berjalan menuju becak yang suda siap di tanga keluar. Aku jadi ingat, sebelumnya aku pernah melihat mbak ini pulang kuliah dengan becak yang sama. Mungkin tukang becak ini memang punya waktu khusus untuk antar jemput mbaknya.
Kami berjalan melewati pintu kaca fakultas, hingga sampai membantu mbak itu duduk di becak. "Terimakasih ya mas", ucapnya setelah duduk di becak.
Setelah peristiwa itu, aku tak ingat lagi kapan aku melihatnya lagi. Tak ada lagi yang kutahu, apakah dia lanjut kuliah sampai lulus atau tidak, seperti sudah melupakannya. Di masa itu, semakin hari, semakin pikiranku penuh dengan hal-hal abstrak yang sebagian begitu ku kagumi dan ku nikmati.
Namun malam ini, saat aku tak ditemani oleh musik-musik yang kusuka, kembali aku mengingat peristiwa itu dan ingin menuliskannya. Rasanya, keheningan ini membantuku mengingat hal-hal penting dalam hidupku, juga mengingat hal-hal penting untuk hidup.
Mengingat lagi peristiwa itu membuatku merasa pernah melakukan hal yang baik, dan juga ada rasa dilihat baik untuk membantu. Walaupun pada masa setelahnya, aku cukup banyak membawa diri pada hal-hal yang tak sebaiknya kulakukan.
Permintaan tolong itu membuatku mengingat masa kuliah, dan aku merasa beruntung sudah pernah menjalaninya. Meski pada akhirnya aku membakar ijasah ku, masa-masa itu akan terus melekat dalam diriku, tentang semua baik dan buruknya.
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya