Arti Sebuah Nama

Lanjutkan cerita kemarin.

Setelah selesai kunjungan ke makam pahlawan, kami pergi ke Masjid Agung untuk salat asar, dan kemudian lanjut menonton film yang kami obrolkan kemarin. Film Seni Mencintai Kekasih, yang bersumber dari buku yang ditulis oleh Agus Mulyadi.

Saat dia masuk masjid untuk salat asar, aku memilih untuk merokok dulu di alun-alun depan masjid. Melihat keramaian orang-orang di sore hari. Pada dasarnya aku juga cukup waspada, siapa tahu ada orang yang mengenalku ada di sana. Tapi mau bagaimana pun juga, sendiri dan melamun adalah pekerjaan utama dalam hidupku.

Setelah salat asar, ternyata Isma berziarah di makan yang ada di dekat masjid. Aku bahkan baru tahu kalau ada makan di sana. Pada dasarnya aku sendiri menganggap dia aneh, kenapa bisa orang seperti dia terobsesi untuk berziarah. Padahal ziarah adalah acara orang tradisionil. Kenapa dia yang sudah cukup modern, yang bahkan sejak kecil kurang akrab dengan tradisi seperti ini, memilih untuk berziarah kubur sebagai pengisi batinnya?

Padahal ada banyak hal untuk mengisi batin orang modern. Seperti ikut yoga, meditasi, atau ikut organisasi masyarakat sipil dan mengampanyekan perjuangan tentang sebuah hal. Ikut organisasi lingkungan hidup misalnya, menjaga bumi ini dari emisi karbon berlebih, atau ikut advokasi korban pelecehan seksual, sepertinya itu lebih cocok buatnya. Begitu menurutku.

Setelah dia selesai berziarah, aku suruh dia menungguku salat asar, hingga kemudian kita pergi ke bioskop. Catatan mengenai film ini surah aku tulis di sini.

Setelah selesai menonton, kami berniat mengobrol lebih panjang sambil ngopi, seperti zaman kuliah dulu, kumpul di warung kopi dan membicarakan apa saja sesuka hati. Aku mengajaknya ke Fore, Cafe yang direkomendasikan temanku. Kabarnya kopinya recomended, dan memang iya, sayangnya aku merasa tidak dengan harganya.

“Meskipun hari ini banyak gerai kopi modern dan dengan menu yang lebih Instagrameble, aku masih terlalu nyaman dengan model warung kopi di sekitar Jalan Sorowajan dulu. Rasa kopi, suasananya dan tentu juga harganya.” Begitulah caraku mengawali obrolan dengannya.

“Emang beda sih atmosfernya. Dulu itu, warung kopi seperti tempat ke tiga setelah kampus dan kos, tapi sekarang kayaknya aku sendiri sudah tidak menganggap warung kopi sebagai tempat ketiga setelah kantor dan tempat tinggal.”

“Kabarnya, saat Kafe Blandongan sudah sepi, tidak sebagaimana zaman kita dulu. Wah, padahal itu adalah pionir tempat mengopi, dan layak dijadikan legenda.” Aku menyalakan rokok lagi sambil menunggu pesanan kopi. “Tahun 2021 kemarin aku ke sana buat ngambil motor, dan tempat pertama yang ku datangi saat sampai di Jogja adalah Blandongan. Waktu itu rasanya cukup ramai sih, dan kukira model pelanggannya seperti wajah anak UIN begitu.”

“Emang bagaimana wajah anak UIN?”

“Yah, kamu kan juga sudah lama di sana. Kurang lebihnya kamu bisa bedakan lah, dengan gaya anak-anak kampus lain. Apa lagi anak-anak yang sering ke SC.”

Kucoba untuk cari obrolan lain dengannya. “Eh, aku penasaran deh Is. Menurutku namamu itu unik sejak pertama kali aku membacanya di Slilit Arena. Aku gak tahu maknanya tapi, tapi terasa unik aja. Siapa sih yang ngasih nama itu Is?”

“Kayaknya bapakku deh yang ngasih nama itu, dan aku sendiri juga lupa artinya apa. Heheh” sambil meletakan es kopinya dia melanjutkan. “Tapi emang unik sih, menurutku juga. Dan kamu juga bukan orang pertama yang bilang kalau namaku itu unik.”

“Sebenarnya sudah dari dulu aku penasaran, tapi baru sekarang saja aku dapat sempat untuk bertanya. Menurutku Isma itu bahasa Arab, artinya ‘nama’, bahasa jawa kromo juga, ‘asmo’, artinya pun sama. Nah, kalo yang Swastiningrum ini kok lebih ke bahasa sansekerta. Ini kayak orang Bali, ketika salam mereka bilang oom swastiastu. Iya ngak?”

“Iya sih. Kalo nama kamu sendiri apa artinya?” Dia balik bertanya.

“Aku sendiri juga gak tahu arwani artinya apa. Sudah kutanya ke beberapa orang, tapi aku tak yakin apakah benar itu maknanya.”

“Emang siapa yang ngasih nama kamu wan?”

“Kabarnya sih, dari kiai di dekat rumahku, sebab memang keluarga kami cukup dekat. Kiai itu dulu punya anak ketiga, namanya Arwani, lalu gak lama aku lahir, dan nama itu diberikan padaku. Tapi jujur, aku sempat nama itu cukup jadi beban sih Is.”

“Beban kenapa?”

“Yah, dari yang aku tahu itu nama ulama besar, dan aku gak punya kualitas untuk menyandangnya. Tapi setelah kupikir lagi, harusnya orang juga lebih beban punya nama Muhammad. Dan dari situ aku sudah gak merasa terbebani lagi.”

“Kali kamu biasanya di panggil gimana sih wan?, benar gak kalau aku manggil kamu ‘wan’?”

“Ya nggak salah juga, rata-rata memanggil begitu. Tapi kalau kuingat lagi, begini, keluargaku dan teman sekolah biasanya memanggil ‘ar’, kalo orang luar seringnya memanggilku ‘wan’, dan teman-teman di Blitar yang kebanyakan memanggilku ‘ni’. Dan semuanya benar.”

“Kalo aku, hampir semua orang manggil aku ‘is’, atau ‘isma’. Kayaknya hampir nggak ada yang manggil dengan nama belakangku.”

“Tapi menurutku, namamu cukup aman sih untuk berkunjung keluar negeri. Sebab tidak terlalu beraksen Arab, lebih beraksen jawa dan sansekerta.”

“memangnya kenapa dengan nama yang beraksen Arab?”

“Cerita dari guru Bahasa inggris di sekolahku dulu, setelah peristiwa 11 September 2001, pengeboman di WTC itu, dunia di gemparkan oleh isu terorisme, dan islamophobia menyebar ke banyak tempat seperti virus Corona. Nama-nama yang cenderung arab atau Islam sangat sulit untuk masuk di negara-negara Eropa dan Amerika. Saat 2006 dia mau sekolah di Australia bareng temannya, mereka yang namanya cenderung arab sampai harus di interogasi dulu sebelum keluar bandara.”

“memangnya sekarang masih seperti itu ya?”

“Sepertinya sudah enggak. Eh, sebenarnya aku punya cerita sebel pada seseorang berkaitan soal mamaku. Jadi begini, suatu hari aku bertamu dengan temanku, ke rumah kenalannya untuk urusan kopi. Aku ditanya nama dan ku jawab namaku Arwani, dan dia langsung menanggapi untuk tidak akan memanggil namaku. Sebab menurutnya, namaku adalah nama kiai besar yang dia kagumi, dan dia ingin tawadu’ dengan tidak memanggil namaku. Aku merasa kaget, meski hanya ku tahan dalam diri, kenapa ada orang berpikir seperti ini, dan bahkan langsung menyatakannya di depanku. Bukankah, sebaiknya dia tak perlu mengutarakannya di depanku. Beruntungnya temanku menanggapi orang itu dengan bertanya padanya, ‘la kalau orang namanya Muhammad bagaimana?’ orang itu langsung diam.

Aku heran dengan orang seperti itu, bukankah dia seharusnya tahu kalau aku juga tak memilih namaku sendiri. Dari kejadian itu aku belajar satu hal, bahwa sebagian orang ingin menjadi saleh, tapi malah cenderung bersikap tolol.” Sebenarnya aku menceritakan ini dalam rangka mengungkapkan kesan sebelku pada peristiwa itu.

Selanjutnya kami lebih banyak saling cerita tentang pengalaman dan kesimpulan hidup masing-masing. Hingga sampai jam 11 malam mengakhiri pertemuan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme Membunuhmu

Mas, Tolong Antarakan Saya Ke Tukang Becak Itu

500 Day Of Summer; Tentang Cinta Dan Usia Percintaan