Idealisme Membunuhmu
Hay blog
Malam ini aku melanjutkan membaca otobiografi Maria Sharapova berjudul UNSTOPEBLE; My Life So Far. Buku uang sudah lama Kudapat, surah juga dipamerkan lewat Instagram, tapi masih belum selesai kubaca. Aku baru sampai pada momen dia memenangkan Wimbledon, Gram Slam pertamanya di usia tuju belas tahun. Setelah membaca bagian itu, aku malah cenderung melamun dan kemudian terpikir untuk menulis.
Sebenarnya ini bukan buku bahasa yang pertama kubaca. Mungkin ini buku keempat.
Buku yang pertama kubaca dalam basa inggris berjudul Space. Sebuah buku tentang luar angkasa yang kubeli di Yusuf Agensi. Harganya lima ribu rupiah. Waktu itu, saat aku masih awal kuliah, aku memang berniat untuk lebih dekat dengan bahasa inggris.
Namun sayangnya buku itu cukup rumit. Ada banyak kosa kata yang sulit dipahami, dan juga logika atau keterangan tentang dunia fisika yang rumit untuk ku cerna. Aku cenderung mengartikan setiap kata yang kutahu, dan rasanya hampir semua kata cenderung aku cari di kamus. Pada akhirnya aku kelelahan sejak di bab-ban awal.
Buku kedua adalah ke tika aku diajak Mas Zen ke sebuah toko buku bekas di daerah Krapyak, tepat ke barat agak jauh dari pondok Al-Munawir.
Tempat itu namanya Kebun Bibi, mungkin nama itu diambil dari novel Justin Gardner yang berjudul Bibi Boken. Ini bahasa Norwegia, bukan inggris. Di sana aku dibelikan datu buku, yang aku boleh memilih sendiri, dan aku memilih novel yang bercerita tentang sebuah kafe di Afghanistan. Aku pun melakukan hal yang sama dalam membaca buku itu, berfikir untuk mengartikan semua kata. Pekerjaan yang membuatku menyimpan buku itu dan tak membacanya lagi.
Pada akhirnya, sebab bertambahnya pengalaman dan wawasan, aku cukup tahu bahwa membaca buku bahasa inggris tidak bisa dilakukan dengan cara mengartikan setiap kalimat yang ada, atau terus-menerus mengandalkan google translate dalam melihat kalimat. Cara paling baik adalah dengan mengerti logika berpikir bahasa inggris.
Dengan cara berpikir dalam logika bahasa inggris, kita akan bisa mengerti maksud dari kalimat itu, tanpa harus tahu artinya dari kamus. Kemudahan itu kudapat ketika cukup sering berkumpul dengan teman-teman yang menyukai lagu-lagu barat, dan mengobrolkan maknanya. Pengalaman itu memudahkan ku dalam membaca buku Arrow karya Paulo Coelho.
Aku juga bisa kembali membaca buku yang dibelikan Mas Zen dulu dengan cukup nyaman. Yang menjadi kekuranganku adalah, kecepatan dan daya tahan dalam membaca buku seperti ini tidak sama dengan buku berbahasa Indonesia. Ritme ku terlalu lambat. Bahkan begitu lambat. Seperti membuang banyak waktu.
Untungnya, bagiku membaca buku bukankah membuang waktu. Ini seperti menjalani diri sendiri. Terserah jika orang lain menganggapnya sia-sia.
Ada orang yang bilang kalau aku idealis, sebab masih terus dekat dengan buku dalam situasi yang seperti. Saat yang lebih baik untuk bekerja mengumpulkan uang. Padahal aku tidak merasa diriku idealis, aku lebih merasa kalau diriku malas.
Pernah juga aku di komen dalam sebuah status WA; "Idealisme membunuhmu", dan aku menjawabnya "Yah, semoga khusnul khotimah". Sebenarnya aku tahu maksud dari kalimat itu, tapi lebih memilih untuk tidak mengambil hati. Sebab menurutku, memang prinsip orang beda-beda.
Aku mau menjalani hidupku, dengan caraku, bukan dengan pandangan orang lain.
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya