Kau Yakin Mereka Semua Pahlawan?
Siang itu, setelah bangun dan membersihkan badan, kubawa motor menuju pabrik gula yang berada di daerah Jati Barang, sebenarnya itu sudah masuk wilayah Brebes, bukan lagi Tegal. Kabarnya dia sudah sejam menunggu di sana, acara kunjungan wisata yang dilakukannya dengan sebuah agen wisata yang didapatnya dari instagram, berakhir di tempat itu.
Aku sendiri kurang mengenal wilayah di sini, daerah yang sudah ku tinggali tiga tahun ini. Hari ini kulakukan itu untuk menyambut temanku yang datang dari ibu kota, sekaligus juga menghibur diri sendiri. Mengobrol dengan teman lama, membahas hal-hal yang sudah lama terbengkalai di kepala.
Sampai pabrik gula, aku kebingungan mencari titik lokasi dia berada. Ku telepon dia, dan mengabari kalau aku sudah ada di depan pabrik gula yang sudah ada sejak jaman kolonial itu. Dia menjawab kalau masih berada di dalam lokasi pabrik dan akan segera keluar.
“Kamu gak ingin melihat-lihat dulu pabrik gula ini?” tanyanya sewaktu kita bertemu. “Tempatnya cukup menarik menurutku, masih terlihat seperti pabrik di awal abad dua puluhan.”
“Ah, enggak. Aku sudah cukup tahu, bukan di sini, tapi di rest area dekat sini. Rest Area Heritage namanya. Gedungnya merupakan peninggalan pabrik gula zaman Belanda. Bahkan di jalan belakang rest area itu masih banyak rumah-rumah kolonial yang saat ini terbengkalai.”
“Rumah belanda maksud kamu?”
“Lebih tepat jika disebut rumah kolonial sih. Maksudnya, rumah model Eropa, yang disesuaikan dengan konteks wilayah jajahannya. Tidak persis sebagai mana wilayah di negeri Eropa empat musim dalam setahun.”
“Bagus-bagus berarti rumahnya ya.”
“Sangat bagus dan unik menurutku, bahkan aku berharap dapat memiliki salah rumah yang seperti itu. Sayang sekali rumah-rumah itu terbengkalai.”
“Sepertinya akan butuh banyak uang untuk merenovasi rumah seperti itu.”
“Iya. Wilayah itu masih milik negara dan dikelola oleh pemerintah, sedangkan tak ada inisiatif untuk dibuat apa, dan oleh siapa. Beruntungnya ada Rest Area Heritage itu, sehingga pabrik gula itu menjadi cukup dikenal, sebab menurutku tempatnya memang menarik dan ikonik.”
Kami mengendarai motor menuju arah Slawi, tanpa tahu mau ke mana. Semalam, dalam chating, dia mengajak untuk ke sebuah museum yang ada di wilayah timur, hampir dekat dengan daerah Pemalang, tapi setelah dipikir-pikir, waktunya tak akan cukup, sebab museum itu tutup jam tiga sore. Ku ajaklah dia untuk cari tempat makan, setelah itu nanti memutuskan akan berkunjung ke mana.
“Aku ikut kamu saja, enaknya makan di mana.” Katanya saat kutanya soal makanan. Akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya ke Rumah Makan Bu Tomo. Memang tempat itu tidak sepopuler Cempe Lemu, tapi cabangnya di daerah Slawi cukup bisa jadi rekomendasi untuk menikmati kuliner wilayah Tegal. Setidaknya begitulah yang kupikirkan, meski harganya cukup fantastis menurut ukuran dompetku, tapi ini dalam rangka menyambut teman, tidak untuk jadi kebiasaan.
Sampai di Sate Bu Tomo, dia hanya berminat untuk memesan 10 tusuk sate, dan semangkuk gule sebagai kuahnya.
“Enak satenya. Dagingnya segar” Begitu komentarnya setelah makan dua tusuk sate, “maksudku, biarpun ini sate kambing, tapi tak ada bau kambingnya.”
“Mungkin ini soal pemilihan daging, bumbu, dan teknik bakarannya.” Begitu tanggapanku. “Menurut perasanku, kasta sate tertinggi masih dipegang sate padang. Aku pernah membelinya di dekat Masjid Istiqlal. Entah kenapa begitu, mungkin aku merasa terikat dengan bumbu sausnya.”
“Kamu pernah makan sate klathak kan?” tanyanya
“Pernah, sewaktu kita kuliah dulu. Memang enak sih, untuk sekali itu, tapi tak bisa masuk dalam radar seleraku.”
“Iya, sama. Aku malah akan selalu memilih sate madura sebagai menu sate favoritku.” Lanjutnya, “ya karena lebih cocok saja sama lidahku”.
“kalo soal sate madura, sejak kecil aku selalu menganggap sate itu ya seperti sate madura itu. Maksudku, meski rumahku bukan di Madura, tapi jajanan sate yang kutahu sejak kecil ya sate ayam dengan bumbu kecap sama sambal kacang itu. Baru ketika kuliah di Jogja, aku jadi mengerti kalau itu adalah jenis sate madura, dan ada jenis sate-sate lainnya. Yang menurutku cukup terkenal dan aku belum pernah coba itu, sate maranggi, kamu pernah Is?”
“Sama, aku juga belum. Yang katanya pakai daging sapi itu kan. Entah seperti apa rasanya.” Setelah selesai tusuk ketiganya, dia pun menambahi “aku heran, bahkan untuk urusan sate saja, Indonesia bisa begitu kaya. Padahal hanya untuk satu jenis makanan.”
“Iya, sepertinya ‘menjadi Indonesia’ itu sesederhana membuat sate yang enak, sambil tetap sadar kalau ada sate yang juga enak di sekitarnya. Maksudnya, tidak arogan dan mendominasi sebagai yang paling enak di antara sate-sate yang lain.”
“Istilah mu nyentrik, tapi oke lah, aku setuju.”
Selesai makan, kami masih terus mengobrol, dan aku pun mulai menyalakan rokok.
“Mengapa kamu memilih ke tegal untuk liburan?” tanyaku.
“Kemarin aku lihat di internet, kalau ada acara maulid nabi yang unik di daerah sini, sayangnya aku gak sempat datang kemarin. Ada juga sih, acara yang unik di daerah gunung Slamet sana, tapi terlalu jauh jadi mending gak usah. Selain dari itu semua, aku belum pernah ada perjalanan dinas ke Tegal dari kantor, jadi mumpung liburan, aku main ke sini saja, dan ternyata juga masih ada kamu, sudah lama kita gak ngobrol, setelah tahun lalu ketemu di Jakarta. Eh, kita ke makam pahlawan saja yuk, setelah ini.” Ajaknya. “Biasanya kalau berkunjung ke sebuah kota, aku selalu mencari tempat berziarah di sana.”
“Aku ikut apa katamu saja. Sebenarnya aku juga gak tahu rekomendasi tempat yang cocok untukmu.”
“Atau kita ziarah ke makam Amangkurat I saja, dari info yang kudapat di internet, makamnya di daerah dekat sini kan?”
“Iya, tapi menurutku, kamu lebih cocok ke makam pahlawan saja deh.”
“Kenapa?” dia tampak penasaran.
“Ya, kamu lebih cocok untuk ziarah di makam pahlawan nasional. Perspektifnya lebih Indonesia sentris.” Agak guyon aku mengatakannya.
“Hem, pikiranmu masih banyak referensi sejarah ya Wan. Jawabanmu masih kayak zaman kelompok diskusi dulu.”
“Ya, sedikit-sedikit masih ada yang nyantol lah”
Sebelum beranjak, dia mengambil waktu untuk salat di Musala yang ada di rumah makan. Ku habiskan sebatang kretek itu sembari menunggunya. Saat aku mau membayar di kasir, ternyata dia sudah menyiapkan uang untuk juga membayarnya, dan akhirnya kita split-bill, kalau meminjam bahasa anak sekarang, tanpa banyak berdebat.
#
Kami pergi ke sebuah makam pahlawan yang berada kota Tegal. Setelah masuk gerbang, dia turun dan cukup aktif bertanya mengenai siapa yang tokoh yang dimakamkan di sini. Aku sendiri tak cukup tahu tokoh-tokoh yang dijelaskan, tapi dia cukup antusias dengan penjelasan bapak yang awalnya menyirami taman makam itu.
Kami berdua berkeliling melihat batu-batu nisan itu. Sebagian nisan ada yang diberi nama, sebagian tidak. Aku membuka obrolan pada Isma, “kalo di makam pahlawan seperti ini, tak ada pengelompokan agama ya, makam orang Kristen dan orang Islam saling berdampingan jadi satu. Beda dengan makam umum.”
“Iya, semua dimakamkan di sini berada dalam satu golongan, golongan pahlawan tepatnya.”
“Eh, ngomong-ngomong soal pahlawan. Aku jadi teringat film Naga Bonar yang kedua.” Sambil terus berjalan menyusui beberapa makam.
“Bagaimana memang?”
“Saat Dedy Mizwar, atau si Naga Bonar diantar ke makam pahlawan oleh tukang bajai, yang di film diperankan oleh Lukman Sardi. Saat setelah melihat banyaknya yang dikubur di makam pahlawan itu, Naga Bonar berbalik pada si tukang bajai, dan bertanya, ‘kau yakin, semua yang dikubur di sini adalah pahlawan?’ Pertanyaan itu benar-benar menyentak kesadaranku. Aku jadi bertanya kembali, apakah benar yang selama ini di klaim sebagai pahlawan oleh negara adalah benar. Kok kayaknya selama ini kiat menerima saja, mengenai siapa yang dianggap pahlawan nasional.”
“Langsung cara pikir filsafat mu keluar ya, kayak jadi pertanyaan esensial begitu.” Gayanya mengejek, “tapi memang iya juga ya, kayak selama ini kita tahunya itu pahlawan dan itu bukan. Kita disuguhi saja, siapa harus dianggap pahlawan.” Dia pun menjadi bertanya. “Memang apa definisi pahlawan menurutmu Wan?”
“Menurutku pahlawan adalah soal peran, dan juga jasa, yang kesemuanya itu ada dalam konteks bernegara. Ya kembali ke Indonesia sentris seperti tadi.” Dia mengangguk, “maksudnya ketika kita melihat satu tokoh, Bung Karno, Hatta, Bung Tomo, atau HAMKA, kita tahu apa peran dan jasanya dalam konteks Indonesia.”
“Memang ada, orang yang tidak berjasa dan ditunjuk sebagai pahlawan?” dia bertanya.
“Malahan ada yang lebih banyak mewariskan dosa dan keburukan dalam konteks Indonesia.”
“Siapa contohnya kalau itu?” tanyanya lagi.
“Ya, kamu cari sendiri lah, nanti juga ketemu.”
| Taman Makam Pahlawan Kota Tegal |
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya