Apologi Kemarin

Hai blog

Aku terlalu malas akhir-akhir ini. Eh, bukan. Aku memang selalu malas.

Aku mau bilang kalau aku baru merilis blog baru kemarin. Namanya kotakpandora.com, blog yang memberikan ulasan pada buku dan prosa pribadi. Aku merasa cukup serius dalam memulainya, tapi kini masih belum ada postingan lagi. Aku masih belum ada fokus untuk membuat tulisan.

Beberapa tulisan soal ulasan buku sudah kugarap namun belum selesai. Begitu pun dengan cerita pendek, saat ini masih ada dua tema yang masih dalam pengembangan ide. Aku belum menyelesaikannya bukan karena aku sibuk, karena jelas itu alasan yang konyol. Yang sebenarnya adalah, aku belum menyelesaikannya sebab semangat dan konsentrasiku untuk fokus lagi dalam hal itu berkurang. Kesibukan akhir-akhir ini benar-benar tak bisa untuk dibuat alasan.

Kalo boleh jujur, aku merasa pikiranku meredup. Aku tumpul dalam membangun perspektif untuk dijadikan ide tulisan. Semuanya berjalan lempeng-lempeng saja bagiku, tak ada yang mampu kurefleksikan. Padahal sebenarnya aku tahu bahkan keadaan juga tidak baik-baik saja. Bahkan dalam kondisi saat ini pun aku bingung mau menuliskan apa.

Sebenarnya ini adalah tempatku untuk menulis perihal personal, tapi sayangnya perasaan personalku juga tengah tak punya daya, atau kalau tak mau dibilang mati. Aku ingin sekali bilang kalau aku rindu dengan diriku, meskipun itu tampak bodoh. Aku benar-benar rindu pada diriku, dengan kata lain, aku kehilangan jati diri. Padahal aku tak tahu seperti apa jati diriku. Mungkin benar yang dicatat oleh Spotify, bahwa lagu yang paling sering kuputar di aplikasi itu adalah numb dari Linkin Park, lagu yang menghadirkan aspek-momen tentang kehilangan jati diri.


lagu ini sering sekali kudengar di awal tahun kemarin. Momen ketika aku terlalu kehilangan jati diri, dan itu menjadikanku mati rasa. Sedang lagu in the and lebih pada tambahan atas kepopuleran Linkin Park setelahnya, sebab aku kurang menghayati lagu itu secara pribadi. Meskipun secara umum lagu itu menunjukkan pergolakan jiwa dalam mendamaikan diri. Harus kuakui, ini adalah tahun di mana aku begitu kecewa pada hidup, pada keluarga, pada kehidupan yang selama ini mendorongku, yang ternyata itu rapuh dan bodoh.

Untuk lagu Lawlaka karya Maher Zain berulang kali kuputar saat puasa kemarin. Aku begitu terpesona dengan lagu itu. Sebab dari judulnya menunjukkan bahwa Maher Zain bukan hanya ahli senandung yang penuh dengan cinta. Tapi juga intelektual yang mendasari karyanya dengan referensi yang kuat dan mendalam tentang sufisme dan semangat cinta-keislaman.

Lagu bring me to life adalah bagian dari keadaan perasaanku yang penuh dengan kehampaan. Lagu yang dirilis sejak aku sekolah dasar ini, sebagaimana juga linkin park, terasa bisa mewakili jiwaku ketimbang lagu-lagu baru yang aku tak bisa terhubung dengannya. Mungkin benar kata orang kalau selera musik kita berhenti di usia tiga puluhan. Maksudnya adalah, kita sulit merasa terhubung jiwa kita dengan lagi yang muncul di usia kita yang sekarang. Yang bisa kita nikmati adalah lagu atau musisi yang saat kita remaja, atau bahkan sebelumnya. Bukan berarti aku benci pada lagu-lagu baru yang hadir, hanya saja sulit untuk bisa menikmati dan terhubung dengan lagu-lagu itu. Mungkin hanya bisa satu atau dua dari sekian banyak karya.

Lagu Semarang dari Poweslave kudengarkan terus sepanjang aku jalan-jalan di kota Semarang. Menikmati suasana kotanya dan ditambah dengan mendengarkan lagu itu, membuatku semakin akrab dan nyaman berada di Semarang.

Karena terlalu serinya mendengarkan lagu LP, sampai band itu bisa menggeser posisi band favoritku di urutan pertama band yang sering kudengarkan tahun ini. Padahal bagiku Padi tak bisa tergantikan dengan band apa pun. Jika dalam hidup kita hanya diberi pilihan untuk memilih satu band untuk didengar, maka aku dengan mantap akan memilih Padi. Padi adalah band yang di era 2000an, di antara banyak band Jawa Timur seperti Dewa 19 dan Boomerang yang aku bisa klik dengan lagunya. Aku bahkan masih berharap menonton konsernya lagi jiwa ada kesempatan.

Sedang band seperti sistem of down dan GreenDay adalah caraku mengisi kebisingan untuk menambah semangat. Juga untuk memberi asupan diri pada anti status qua dan anti kemapanan. Selama ini aku merasa hidup di tengah banyak orang yang pro dengan status quo dan kemapanan. Aku merasa tidak cocok dengan itu. Kemapanan dan status quo memang perlu dan penting untuk masyarakat, tapi anak muda yang pro status quo membuat dirinya cepat “mati”, entah mati fisiknya atau matu jiwanya.

Tak perlulah membahas Dewa 19, sebab band itu favorit semua orang.

Sekian tadi adalah sesuatu yang bisa kutuliskan dari pikiranku yang beku. Hal menarik yang kudapat tahun ini adalah, bisa terhubung dan mengobrol dengan dua temanku, yakni Isma dan Cakson.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dalam Bayang Cahaya Abadi

Pada Suatu Hari