Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2014

Aku mendesah di suatu pagi

Tuhan Aku butuh wanita hebat Yang meletakkan cintanya padaku didalam semesta cintanya padammu Tuhan aku butuh wanita hebat Yang mampu mennjadi surgaku dalam kehidupan yang hanya milikmu Menemaniku dalam kehidupan sederhana Tuhan aku butuh wanita hebat Yang bersedia untuk selalu mengasihi generasi semua bangsa Aku tak punya banyak data mengenai wanita yang sempurna Aku juga tak punya alasan untuk mengagumi Cleopatra maupun ratu sima Terkadang akupun merasa hampa Aku tak punya nyali untuk mencintai wanita sekelas Tribuanatunggadewi Dan aku masih sepenuhnya menyadari bahwa keagungan dan kekuasaan, selamanya hanyalah milikmu yang kukagumi adalah wanita dengan kebesaran hati dan kelapangan jiwa yang dia mampu memahami realitas kehidupan dunia wanita hebat, akan melahirkan generasi hebat –Toha mahsun(6/8/2014)

CATATAN HATI UNTUK MAMNU

Entah untuk apa saya membuat tulisan ini, namun ini hanyalah tulisan. Lima hari yang lalu tepatnya Ahad 3 Agustus 2014 saya mengikuti reuni Ikatan alumni pondok pesantren Nurul Ulum kota Blitar yang terletak di Sutojayan atau lebih tepatnya MAMNU DUA. Reuni ini mungkin bisa dianggap spesial karena diisi langsung oleh Ustad Agus Muadzin selaku direktur perguruan Maarief NU kota Blitar. Namun di satu sisi memang ada banyak kekurangan dari saya dan teman-teman angkatan 2012 selaku panitia penyelenggara. Pada saat beliau yakni ustad Agus Muadzin mengisi acara, ada beberapa catatan yang saya ingat dari ustad agus, yakni Menjaga dan memperkuat ajaran NU, selalu bersemangat dalam menuntut ilmu untuk berjuang di jalan Allah yang dilandasi dengan lima dasar perjuangan, juga melestarikan apa yang telah diajarkan oleh para wali dan beliau juga berbicara tentang keinginannya untuk membangun perguruan tinggi di lembaga pendidikan ma'arif NU. beliau juga menceritakan tentang pembangun...

Riwayat akhir

Desiran angin malam itu terasa sejuk menurutku , dan aku tahu mengapa aku begitu menikmatinya, saat dimana aku harus berpamitan lagi dengannya untuk kembali mencari ilmu atau mungkin lebih tempatnya mencari jati diriku. Kita duduk bersanding berdua di alun-alun kota, disana puluhan orang datang untuk sekedar jalaj-jalan dan menikmati suasana malam minggu, seperti halnya aku yang telah lama tak bertemu dengannya, yang setiap hari hanya bisa menyambungkan kerinduanku lewat sosial media. “mas, aku boleh bertanya sesuatu ngak?” kata-kata itu, gaya bicara yang selalu seirus dan tak jarang terkesan kaku, padahal kita sudah hampir dua tahun menjalin hubungan dan sangat sering sekali melakukan obrolan, meskipun sekedar sms-an. “mau tanya masak pakek izin, kayak wartawan aja pean” jawabku dengan nada gembira. “yo aku takut barangkali sampean belum siap untuk mendengarnya” mendengan kata-kata itu aku mulai tidak tenang, aku seperti dapat meramalkan apa yang akan dia katakan, namun ...