Postingan

Terlambat memahami

Pak tani membunuh ular disawah Kemudian tikus jadi melimpah Padi rusak dan panen gagal Pak tani terus bersabar dan berdoa Seorang menjabat jadi mentri Suara rakyat banyak dia kantongi Ternyata dia terkibat korupsi Karna besarnya pengaruh dan himpitan naluri Muda-mudi saling mencintai Berjanji bersama sampai mati Tiba-tiba berpisah karna ego dan emosi Hati memang tak mudah di prediksi Angin bisa menjadi badai Darah bisa menjadi nanah Kita sudah mengerti Hanya terkadang terlambat memahami                                                                              ...

Siapakah aku..?

Apakah aku orang yang baik?, itu tidak mungkin Apakah aku orang yang jahat?, kurasa tidak sebegitu jahat Apakah aku orang yang sombong?, mungkin iya Apakah aku orang munafik? Bisa jadi Apakah aku kejam? Nuraniku bilang, tidak Apakah aku orang tulus? Lebih banyak tendensius Apakah aku orang yang sabar?, memendam emosi iya Apakah aku penghianat?, tidak terlalu Ijinkan aku bertanya Bertanyalah dengan jujur Apakah aku pembohong?, sepertinya begitu Adakah cinta untukku?, selalu ada Apakah aku pantas mendapatkan cinta?, tanyakan pada ibumu Kenapa aku sering disakiti?, karena kau masih suka terlena Kau lebih tahu hidupku Sebenarnya tidak sebegitu detail Perjalananku cukup pedih – kenapa kau tak membuatnya indah Hidupku krisis kasih sayang – mungkin banyak yang lebih pedih darimu Aku tak mendapat perhatian – tentukan saja dirimu sekarang Aku sering disalahkan – ingatlah, detik ini milikmu Terserah apa katamu – kau jangan mudah menyerah ...

catatan pribadi

Gambar
entah bagaimana caranya mengawali ungkapan jiwa yang begitu amburadul . Pertanyaan utama untuk bisa melakukannya adalah. “apakah aku benar-benar jujur dalam mengungkapkan dan menuliskannya?” Kurasa tidak banyak orang yang benar-benar bisa jujur dalam menuliskan apa yang dia rasa. Karna aku sudah terbiasa merasakan, bahwa ada jarak antara apa yang ada dalam perasaanku dengan ungkapanku. Dalam ungkapan, tidak hanya mulut yang berperan, namun juga ego serta rasa takut akan pendapat orang lain. Begitu juga ketika memindahkan perasaan dalam jiwa itu kedalam tulisan. Ada semacam keinginan untuk ikut mengatur persepsi pembacanya. Tapi mingkin itu hanya terjadi pada diriku saja, sedangkan banyak orang disana memiliki situasi yang berbeda antara dirinya dan tulisannya. Mereka bisa jadi mampu lebih jujur dan konsisten dengan apa yang dia tuliskan. Kufikir jujur merupakan aspek utama yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya dalam soal mengungkapkan perasaan dalam tulisan. Meman...

Sesal

engkau hadir dalam gelapku dalam bayang-bayang dan hasrat mengulang masa lalu aku telah kehilangan hidupku tersesat oleh rasa yang kini tengah berujung sesal mimpi-mimpi kecil dan kenaifan besar yang dulu kuucap kini entah kemana? tapi takkan kuhiraukan lagi semua itu meski sebagain batinku terbelah karenanya kuharap kau telah menemui cahaya tanpa aku dengan begitu, kata-kata yang kau buat menjadi bermakna karna tindakanmu dan kau akan bahagia bersama cahaya dan makna itu bukankah hidup adalah sebuah pilihan untuk bahagia? karenanya bahagia itu membutuhkan proses kita mungkin butuh bertahan memperbaiki diri dan jiwa dalam sebuah proses. 26/09/2017

11/08/2017

Ada yang bilang kalau nama lain dari dewa mata hari adalah “mitra”.   Semata-mata karena dia sudah berjanji untuk setia pada bumi, serta berperan dalam mengisi sinar kehidupan disana. Hingga ketika mitra tak bisa lagi setia, maka yang ada hanyalah kegelapan. Saat gelap itu tiba maka bumi akan bisa mengerti. Bahwa indra penglihatan dan juga aneka warna yang ada sudah tak ada artinya. Apa yang membuatnya bisa tampak dan yang membuatnya dapat menikmati penampakan yang lain hanyalah cahaya. hanya cahaya Kita bisa membuat lampu hingga mendatangkan cahaya. Tapi kita takan pernah bisa mendatangkan takdir. Keinginan, hasrat, harapan dan juga mimpi adalah hal dasar yang dimiliki manusia. Setiap keputusan,   tujuan dan capaiannya akan menentukan siapa dirinya. Orang yang hanya menikmati keadaan dirinya tidak akan mungkin untuk tau siapa dirinya. Hanya dia yang bisa mengenal tujuan tertinggi dalam hidupnyalah yang bisa mendapat makna. Sebagaimana laron yang hanya mendatangi cahay...

entah,,,,

Akhir-akhir ini rasanya tubuh dan fikiranku kacau. Kufikir hanya fikiranku saja yang semula kacau. Ternyata tubuhku pun juga. Hampir setiap malam aku merasa masuk angin dan ada waktu dimana aku mual dan ingin muntah. Aku menjadi orang yang tak sekuat biasanya. Fikiranku bertanya, inikah bagian dari tantangan yang harus kulalui untuk menyelesaikan masalah yang saat ini harus kuhadapi?, apakah harus seperti ini?, adakah ini menjadi pembatas antara masalaluku dan yang akan datang?. Dari novel yang tadi selesai aku baca, aku menyadari bahwa banyak orang juga mengalami masa kacau dalam hidupnya. Masa dimana setiap hari dan setiap kegiatan adalah kebodohan dan ke-sia-siaan. Dan kemudian mereka dengan tekun bisa bangkit dan mulai bisa dipandang sebagai orang. Kini aku mengalaminya, masa kelam yang begitu buruk dalam perasaanku. Tak ada lagi semangat, tak ada lagi hargadiri, tak punya reputasi dan tak mendapat kepercayaan. Semuanya itu mengitari keadaanku. Aku menyesali apa yang telah ...

entah ini tulisan siapa

ZAMAN ADUAN Kita bagian dari anak zaman; era pascareformasi yang masih begini-begini. Sisa-sisa perilaku koruptif masih belum lenyap. Banyak elit wakil rakyat kita yang senang dengan uang. Hobi menilap hak suara kita dan menggunaan kuasanya untuk kepentingan sendiri. Rakyat jadi mainan paling digemari; mereka bisa diakali, mereka bisa dimanipulasi; mereka bisa diperas keringatnya untuk menghasilkan pundi-pundi kekayaan. Dari situ gugur rasa kepercayaan dalam dada. Setiap orang jadi merasa benar. Satu kelompok memusuhi kelomok lain. ss Siapa yang ikhlas menerima kesalahan, sembari refleksi sekujur tubuh, lahir batin, waktu-demi waktu untuk menyaring segala sesuatu paling jernih. Dari suara, penglihatan mata, perasaan, Kita mulai pandai myembunyian ketegasan di balik sindiran yang tajam. Kita mahir merangkai kata-kata retoris dalam provokasi massa. Kita telah terbiasa menuduh orang ain salah, dan merasa ego sendiri paling benar Zaman Edan sudah mendekati ubun-ubun...