Kenangan itu seperti tumpukan buku, kadang kita hanya bisa mengingat Bab dan inti isinya namun terkadang kita mampu mengingat setiap detail kalimatnya.
Hidup adalah menunda kekalahan Ungkapan terakhir dari puisi Derai-Derai Cemara karya Bung Chairil Anwar itu memang luar biasa. Tidak hanya mewakili perasaan, namun juga nyambung dengan benak pikiran kita. Mungkin memang begitulah lazimnya sebuah puisi mengungkapkan maksudnya. Sebab sebuah puisi tidak hanya soal kata-kata lugas dan cerdas, tapi juga menyentuh. Namun jika puisi hanya bergelut dengan perasaan dan tidak dibarengi dengan kekuatan nalar, ia akan tampak mendayu. Tidak “gagah berdiri”. Jaman ini juga banyak lagu pop yang begitu melayu. Yang mengungkapkan kisah cinta dengan nada yang mendayu-dayu. Namun sebagian musisi membuat lagu perpisahan dengan gagah dan tidak cengeng. Jika harus memilih, maka aku akan lebih suka dengan lagu perpisahan yang elegan dan tampak gagah. Tidak menye-menye apa lagi sampai terkesan Ambyar. Meskipun kita juga tetap tak bisa membohongi rasa sakit tersebut. Ngomong-ngomong soal Ambyar. Aku merasa hatiku cukup terguncang akhir-akhir ini. Sebab a...
Ada pengalaman yang cukup menjengkelkan tapi pada akhirnya menyadarkan. Ada perasaan bahwa hal ini tampak sepele, tapi setelah direnungi lebih jauh ini merupakan pembelajaran berarti. Seperti biasa, sesaat setelah bangun pagi aku langsung buka hp dan melihat story WhatsApp. Disana kulihat akan ada seminar yang diisi oleh temanku nanti sore. Aku ikut gembira karena temanku sudah cukup punya kualitas untuk itu. Kemudian aku lanjutkan untuk men-share berita itu lewat WhatsAppku. Hingga sorenya ku datang kesana bersama teman sekelas kita. Aku lupa dengan judul seminar itu. Karena sebenarnya aku kesana dalam rangka mengapresiasi temanku yang menjadi asisten dosen tersebut. Aku berusaha mengamati penjelasannya. Ku dengarkan dari awal sampai akhir. Dari awal komunikasinya terasa cukup “kaku”. Kemudian penjelasannya melenceng ke arah sesuatu yang dipamerkan, yakni tentang hobi majalah bacaannya, Nastonal Geograpic. Ada juga yang tampak ngawur, yakni soal dia tiba-tiba menyinggung soal Imam G...
Apakah keutamaan(virtus) dapat diajarkan? Mungkin inilah pertanyaan yang menhantui hari-hari Plato setelah menyaksikan kematian dramatis Sokrates, sang guru yang mesti meneguk racun demi kebenaran yang telah diyakininya. Sokrates dihukum oleh pengadilan Athena dengan tuduhan telah meracuni jiwa anak-anak mudanya. Proses pengadilan Sokrates sesungguhnya menyisakan banyak ganjalan dalam hati Plato. Dalam dialog Sokrates dengan Krito beberapa saat sebelum kematiannya, tampak kecemasan dalam diri Plato tentang keputusan yang diambil oleh sang guru. Ia merasa ada sesuatu yang tak beres dalam proses peradilan Sokrates ini. Krito mengusulkan agar Sokrates melarikan diri dari penjara. Mempertimbangkan hal itu, Sokretes mengajukan sebuah proposal tentang makna sebuah prilaku yang adil. Dalam dialognya dengan Krito, sokrates mencoba merefleksikan tentang apa yang akan dia lakukan dan apakah yang akan dia lakuka...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya