Kalau mendengar lagu Letto yang satu ini, saat hati berada dalam kegundahan, ia(lagu ini) seperti Bintang Utara yang menunjukkan siapa dan di mana posisi kita, serta tanda, ke mana hidup kita akan menuju. Pada kenyataannya, sebuah karya yang baik tidak hanya berhenti pada penghiburan akan keindahannya, tapi juga bisa menjadi teman sekaligus Kompas dalam kesepian. Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi Bolehkah aku mendengarmu? Terkubur dalam emosi, tak bisa bersembunyi Aku dan nafasku, merindukanmu Saat mendengarnya di sore kemarin, kalimat "aku dan nafasku merindukanmu", membawaku pada suasana merenung. Sebab temanku dari Pati pernah bercerita, kalau maksud dari lirik ini adalah tentang kita yang masih berada dalam kandungan. Ketika kita masih dikandung ibu, nafas sekaligus detak jantung kita adalah karunia agung Sang Maha Pencipta. Namun saat kita terlahir dan dewasa, 'kedekatan nafas' ini sering banyak terabaikan oleh aneka hal dunia ini. Ungkapannya tidak tegas ...
Aku masih bisa menikmati sunyinya malam. Mungkin tidak seperti yang kuharapkan dalam menjalani saat ini, tapi tak seharusnya aku kecewa dan putus asa dengan hidupku. Aku masih bisa tertawa, dan tidak kehilangan logika. Masih menjadi manusia. Sebentar lagi akan sampai pada seribu hari kematian ibuku. Rasanya masih seperti kemarin. Padahal sudah hampir tiga tahun kepergiannya. Rasanya aku masih dalam perasaan kecewa yang sama, seperti beberapa hari setelah ibuku meninggal. Apakah mungkin luka ini tak dapat sembuh? Atau batinku masih saja terus menyangkal, atas semua kekejaman yang terjadi padaku dalam keluarga ini? Kadang aku berpikir, “benar kata Soe Hoe Gie, nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Atau mereka dilahirkan dan mati muda...”. Kesimpulan itu muncul ketika aku tak tahan dengan rasa kecewa yang kumiliki. Memiliki keluarga yang menyakitkan terasa lebih buruk ketimbang tidak memilikinya. Aku masih selalu ingin marah pada semuanya. Masih tak bisa menerima apa yang terjadi ...
Dua hari ini badanku terasa tidak enak. Sedikit meriang, tapi yang membuatnya cukup parah adalah lidah yang pucat, yang membuat rasa makanan menjadi semakin hambar. Bahkan malam jumat kemarin, aku biasa langsung menolak untuk diajak keluar, saat main ke rumah seorang sahabat. Sebab berat sekali rasanya untuk menahan hawa dinginnya malam. Mungkin sebab perubahan iklim, begitu pikirku dengan keadaan ini. Temanku juga merasakan hal yang sama, bahkan dia tidak bisa berangkat kerja hari ini. Karena bukan hanya dirinya yang sakit, tapi juga anak dan keadaan istrinya kurang beigitu baik. Aku berharap mereka lekas bagian dan kembali beraktifitas seperti biasa. Dalam kondisi meriang itu, aku cukup merasa kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa aku yang seorang pengangguran profesional ini mudah sekali sakit. Rasanya kalah banyak dengan teman-teman yang setiap kali bekerja cukup keras. Fenomena kerja di kampung, yang terlalu banyak mengandalkan hal fisik. Aku sempat berfiki...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya