AKU DAN NAFASKU, MERINDUKANMU

Kalau mendengar lagu Letto yang satu itu, saat hati berada dalam kegundahan, ia(lagu ini) seperti Bintang Utara yang menunjukkan siapa dan di mana posisi kita, serta tanda, ke mana hidup kita akan menuju. Pada kenyataannya, sebuah karya yang baik tidak hanya berhenti pada penghiburan akan keindahannya, tapi juga bisa menjadi teman sekaligus Kompas dalam kesepian.

Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi

Bolehkah aku mendengarmu?

Terkubur dalam emosi, tak bisa bersembunyi

Aku dan nafasku, merindukanmu

Saat mendengarnya di sore kemarin, kalimat "aku dan nafasku merindukanmu", membawaku pada suasana merenung. Sebab temanku dari Pati pernah bercerita, kalau maksud dari lirik ini adalah tentang kita yang masih berada dalam kandungan. Ketika kita masih dikandung ibu, nafas sekaligus detak jantung kita adalah karunia agung Sang Maha Pencipta. Namun saat kita terlahir dan dewasa, 'kedekatan nafas' ini sering banyak terabaikan oleh aneka hal dunia ini.

Ungkapannya tidak tegas sebagaimana lirik Ahmad Dhani di lagu Satu, "kusebut nama Mu, di setiap hembusan nafasku", tapi menunjukkan sikap rendah hati pada yang Agung. "aku dan nafasku, merindukanMu"

Terpuruk 'ku di sini, teraniaya sepi

Dan ku tau pasti, kau menemani

Dalam hidupku, kesendirianku 


Teringat 'ku teringat, pada janjimu kuterikat

Hanya sekejap ku berdiri, kulakukan sepenuh hati

Peduli 'ku peduli, siang dan malam yang berganti

Sedihku ini tak ada arti, jika kaulah sandaran hati

Kaulah sandaran hati

Lagu ini sangat kuat untuk dimaknai sebagai rasa pasrah pada yang ilahi, sekaligus penguat dari batin yang merasa sepi-sendiri. Satu lagu lain yang dapat kupikirkan sebagai padanannya adalah, Insyaallah, dari Maher Zain. Hanya saja, karya Maher Zain tampak lebih punya skema yang jelas, dan penyampaiannya lebih straight forward, jelas nuansa dan maksud-tujuannya.

Dua lagu ini sama kuat dalam sentuhan batinnya, tetapi karya Noe Letto bisa menjangkau banyak pemaknaan, bergantung pada siapa dan pada tahapan apa kualitas diri pendengarnya.

Inikah yang kau mau, benarkah ini jalanmu

Hanyalah engkau yang kutuju

Pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku

Aku hilang arah tanpa hadirmu

Dalam gelapnya malam hariku 

Kalau kuingat kembali, pertama aku mendengar lagu ini adalah saat aku kelas enam, di radio, tahun 2006. Kini sudah dua puluh tahun sejak lagu ini di rilis, dan aku baru mampu menjangkau untuk sambung-rasa padanya. Semoga ini tak terlalu terlambat, dan semoga aku mampu melakoni nilai-nilai yang kumengerti.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKILAS "MAMNU"

#4

Seimbang