Berkabar
Dua hari ini badanku terasa tidak enak. Sedikit meriang, tapi yang membuatnya cukup parah adalah lidah yang pucat, yang membuat rasa makanan menjadi semakin hambar. Bahkan malam jumat kemarin, aku biasa langsung menolak untuk diajak keluar, saat main ke rumah seorang sahabat. Sebab berat sekali rasanya untuk menahan hawa dinginnya malam. Mungkin sebab perubahan iklim, begitu pikirku dengan keadaan ini. Temanku juga merasakan hal yang sama, bahkan dia tidak bisa berangkat kerja hari ini. Karena bukan hanya dirinya yang sakit, tapi juga anak dan keadaan istrinya kurang beigitu baik. Aku berharap mereka lekas bagian dan kembali beraktifitas seperti biasa.
Dalam kondisi meriang itu, aku cukup merasa kecewa dengan diriku sendiri. Kenapa aku yang seorang pengangguran profesional ini mudah sekali sakit. Rasanya kalah banyak dengan teman-teman yang setiap kali bekerja cukup keras. Fenomena kerja di kampung, yang terlalu banyak mengandalkan hal fisik.
Aku sempat berfikir, mungkin badanku menjadi lebih ringkih, sebab aku jarang olah raga. Jarang melakukan hal yang mengeluarkan keringat. Hingga saat merasakan meriang, badanku yang tidak banyak berkeringat ini menjadi semakin manja untuk bergerak.
Di sisi lain, ada hal yang spiritual yang menurun dalam jiwaku. Aku yang kemarin meluangkan waktu untuk masalah ibadah, kini jadi semakin banyak menunda, bahkan untuk hal-hal yang wajib. Aku menjadi kurang serius, atau malah tidak peduli dalam hal bersujud, begitu yang kupikirkan saat aku merasa terkapar dalam kedinginan dan kepala yang pusing. Sujud yang tidak benar-benar bersujud adalah sebuah kebodohan yang nyata kulakukan selama ini. Aku yang terus diselimuti oleh pikiran bodoh, yang tak mau menyadari dengan kebodohannya.
Padahal sujud adalah sebuah pencapaian spiritual tingkat tinggi bagi orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhannya. Kesimpulan ini kudapat dari cerita filsuf Thomas Aquinas, ketika dia kahirnya mempu menjangkau eksistensi Tuhan dalam semesta ini. Begitu yang pernah kubaca dalam buku Sejarah Tuhan, karya Karen Amstrong. Cerita itu memberikan pandangan padaku, tentang betapa istimewanya sikap sujud dalam semesta ini.
Meski tidak sekuat dalam cerita sujud dalam pencarian Tuhan oleh Thomas Aquinas, aku ingin berupaya maksimal untuk menjalankan sujudku.
Sore tadi, aku mencoba menghubungi grup menolak tua. Ada sedikit rindu untuk mengobrol dengan mereka. Termasuk juga obrolan yang direkam untuk kemudian membuat konten. Dalam pikiranku saat ini, mungkin alat yang kupunya sudah cukup baik untuk membuat rekaman obrolan di watsapp. Cuman aku cukup tahu kalau mereka juga punya banyak kesibukan masing-masing. Yang satu dengan kerja dan kuliah barunya, dan satunya lagi dengan pekerjaan dan tongkrongan menariknya. Mungkin harus bersiap waktu kesedian masing-masing agar terjadi obrolan bersama.
Dari sapaan, dan kemudian berlanjut tentang saling berkabar tadi, aku mendapat masukan tentang sedikit berolahraga dan menggerakkan badan. Mencari keringat agar badan tidak kaku, panas tubuh terjaga, dan tidak banyak menumpuk kalori. Dengan upaya itu, mungkin harapan untuk sehat, dan kekebalan tubuh dari penyakit mampu untuk tercukupi.
Aku berharap pagi ini bisa sedikit bersepeda, untuk membawa diri dalam olahraga. Aku masih saja suka menunda. Menunggu segala sesuatunya sempurna untuk mau bertindak, termasuk menunggu hilangnya rasa enggan dalam diriku. Padahal, dalam kelanjutannya, aku pun juga setengah hati dalam melakukanya. Aku ingin bisa jauh dari mental menunggu yang tidak produktif ini.

Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya