Mungkin ini sebuah ejekan yang umum. Saat ada banyak orang yang ngomong besar, tinggi dan panjang lebar namun ternyata dia tidak melakukan apa-apa. Atau ketika ada orang yang fasih memberi nasehat atau saran kepada orang lain atas hidupnya. Sedang dalam hidupnya sendiri orang itu tidak seperti apa yang dikatakanya. Kelakuan seperti ini biasanya terdapat pada orang yang tidak benar-benar pintar, tapi juga tidak bisa dibilang bodoh. Karena orang yang benar-benar pintar lebih bisa menempatkan diri dengan apa yang dikatakannya, dan orang yang merasa dirinya bodoh akan cenderung untuk percaya pada siapa yang dianggapnya pintar. Ya. Kelakuan seperti ini terdapat pada orang yang nanggung. Mulai dari kecerdasan yang nanggung. Semangat belajar yang nanggung. Serta keseriusan dalam membuat keputusan yang tidak bisa konsisten. Orang yang berkepribadian seperti ini tidak akan menjadi apa-apa. Dia hanya akan menjadi remah-remah yang mengisi keadaan. Dia tidak akan dianggap penting. Ada dan tidak ...
Hidup adalah menunda kekalahan Ungkapan terakhir dari puisi Derai-Derai Cemara karya Bung Chairil Anwar itu memang luar biasa. Tidak hanya mewakili perasaan, namun juga nyambung dengan benak pikiran kita. Mungkin memang begitulah lazimnya sebuah puisi mengungkapkan maksudnya. Sebab sebuah puisi tidak hanya soal kata-kata lugas dan cerdas, tapi juga menyentuh. Namun jika puisi hanya bergelut dengan perasaan dan tidak dibarengi dengan kekuatan nalar, ia akan tampak mendayu. Tidak “gagah berdiri”. Jaman ini juga banyak lagu pop yang begitu melayu. Yang mengungkapkan kisah cinta dengan nada yang mendayu-dayu. Namun sebagian musisi membuat lagu perpisahan dengan gagah dan tidak cengeng. Jika harus memilih, maka aku akan lebih suka dengan lagu perpisahan yang elegan dan tampak gagah. Tidak menye-menye apa lagi sampai terkesan Ambyar. Meskipun kita juga tetap tak bisa membohongi rasa sakit tersebut. Ngomong-ngomong soal Ambyar. Aku merasa hatiku cukup terguncang akhir-akhir ini. Sebab a...
Ada pengalaman yang cukup menjengkelkan tapi pada akhirnya menyadarkan. Ada perasaan bahwa hal ini tampak sepele, tapi setelah direnungi lebih jauh ini merupakan pembelajaran berarti. Seperti biasa, sesaat setelah bangun pagi aku langsung buka hp dan melihat story WhatsApp. Disana kulihat akan ada seminar yang diisi oleh temanku nanti sore. Aku ikut gembira karena temanku sudah cukup punya kualitas untuk itu. Kemudian aku lanjutkan untuk men-share berita itu lewat WhatsAppku. Hingga sorenya ku datang kesana bersama teman sekelas kita. Aku lupa dengan judul seminar itu. Karena sebenarnya aku kesana dalam rangka mengapresiasi temanku yang menjadi asisten dosen tersebut. Aku berusaha mengamati penjelasannya. Ku dengarkan dari awal sampai akhir. Dari awal komunikasinya terasa cukup “kaku”. Kemudian penjelasannya melenceng ke arah sesuatu yang dipamerkan, yakni tentang hobi majalah bacaannya, Nastonal Geograpic. Ada juga yang tampak ngawur, yakni soal dia tiba-tiba menyinggung soal Imam G...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya