Lanjutkan cerita kemarin. Setelah selesai kunjungan ke makam pahlawan, kami pergi ke Masjid Agung untuk salat asar, dan kemudian lanjut menonton film yang kami obrolkan kemarin. Film Seni Mencintai Kekasih, yang bersumber dari buku yang ditulis oleh Agus Mulyadi. Saat dia masuk masjid untuk salat asar, aku memilih untuk merokok dulu di alun-alun depan masjid. Melihat keramaian orang-orang di sore hari. Pada dasarnya aku juga cukup waspada, siapa tahu ada orang yang mengenalku ada di sana. Tapi mau bagaimana pun juga, sendiri dan melamun adalah pekerjaan utama dalam hidupku. Setelah salat asar, ternyata Isma berziarah di makan yang ada di dekat masjid. Aku bahkan baru tahu kalau ada makan di sana. Pada dasarnya aku sendiri menganggap dia aneh, kenapa bisa orang seperti dia terobsesi untuk berziarah. Padahal ziarah adalah acara orang tradisionil. Kenapa dia yang sudah cukup modern, yang bahkan sejak kecil kurang akrab dengan tradisi seperti ini, memilih untuk berziarah kubur sebagai pen...
Diam Memang lebih baik diam Lebih tepat untuk ngobrol dengan diri sendiri Tak ada teman yang lebih baik dari diri sendiri 10/02/2025 Beberapa waktu yang lalu aku selesai membaca buku biografi Albert Einstein karya Walter Issaction. Karya yang bagus mengenai orang yang luar biasa. Aku jadi tahu Albert Einstein tidak hanya sebagai seorang jenius yang menggeluti bidang fisika, aku jadi lebih tahu dia sebagai seorang manusia. Aku tahu kultur di mana dia dilahirkan, wataknya sebagai pribadi yang berbakat, juga egonya sebagaimana anak muda pada masanya. Buku itu memberi tahuku bawah Einstein adalah sosok genius yang tetaplah manusia biasa, punya kerapuhan dan sifat negatif. Banyak hal yang dapat dibanggakan dan dipelajari darinya, tapi juga tetap ada hal-hal yang bisa di kritik. Terkadang, karena terlalu membanggakan seseorang, kita menganggap hal negatif darinya pun sebagai keistimewaan. Cara pandang seperti itu menjadi kecenderunganku selama ini, dan mungkin juga pada banyak orang....
Merawat motor adalah pekerjaan lumrah banyak orang di negara ini. Negara yang begitu besar jumlah penduduknya, dan kebanyakan dari mereka adalah pengendara motor. Namun tidak semua orang benar-benar bisa mengerti bagaimana merawat kuda besi tunggangannya. Sebagian besar dari mereka hanya terbiasa memakai dan menyerahkan kesehatan motornya pada bengkel. Ibarat jaman dulu mungkin orang itu tidak begitu peduli dengan kesehatan kudanya, mereka baru mengobatkannya ke dokter hewan saat kuda yang dinaikinya sakit dan tak nyaman dipakai. Diantara orang yang tidak begitu peduli dengan kesehatan motor seperti itu ialah diriku. Aku baru bisa mengendarai motor saat SMA dan itu pun tidak setiap hari waktu itu. Hanya pada saat libur di pondok. Waktu awal kuliah di Jogja pun aku juga belum membawa motor. Baru setelah semester lima, menjelang KKN aku diberi izin untuk membawa motor. Dengan hampir tak ada pengalaman untuk menangani masalah mesin dan sparepart kendaraan roda dua itu. Mungkin hanya s...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya