Setelah tamat dari MTS Salafiyah di Banyuwangi ibu menyuruh saya untuk sekolah ke-Blitar, Karna itu merupakan keputusan yang bulat maka saya dengan sedikit terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan beliau untuk memasuki jenjang SLTA di Blitar. Sampai di Blitar saya direkomendasikan oleh saudara-saudara saya untuk masuk di pondok pesantren di sana, tepatnya MA Maarif NU kota Blitar atau sering juga disebut dengan MAMNU(dulunya lebih dekat dengan MAKNU” madrasah aliya keagamaan NU”) Jalan Ciliwung nomor 52(sekarang 56). Sebagai orang baru di sana rasanya aku seperti orang asing yang belum tau apa-apa, nama daerah, istilah-istilah dan juga ada gaya bahasa yang sedikit berbeda, Namu selebihnya tidak jauh berbeda antara Blitar dan Banyuwangi. Semula tidak ada yang istimewa ketika memasuki wilayah pondok itu, hingga sampai beberapa lama. Aku pun juga masih belum menemukannya dan hampir semuanya seperti lingkungan teman-temanku d...
Kalau mendengar lagu Letto yang satu ini, saat hati berada dalam kegundahan, ia(lagu ini) seperti Bintang Utara yang menunjukkan siapa dan di mana posisi kita, serta tanda, ke mana hidup kita akan menuju. Pada kenyataannya, sebuah karya yang baik tidak hanya berhenti pada penghiburan akan keindahannya, tapi juga bisa menjadi teman sekaligus Kompas dalam kesepian. Yakinkah ku berdiri, di hampa tanpa tepi Bolehkah aku mendengarmu? Terkubur dalam emosi, tak bisa bersembunyi Aku dan nafasku, merindukanmu Saat mendengarnya di sore kemarin, kalimat "aku dan nafasku merindukanmu", membawaku pada suasana merenung. Sebab temanku dari Pati pernah bercerita, kalau maksud dari lirik ini adalah tentang kita yang masih berada dalam kandungan. Ketika kita masih dikandung ibu, nafas sekaligus detak jantung kita adalah karunia agung Sang Maha Pencipta. Namun saat kita terlahir dan dewasa, 'kedekatan nafas' ini sering banyak terabaikan oleh aneka hal dunia ini. Ungkapannya tidak tegas ...
Baiklah, mari kita lanjutkan cerita yang membosankan ini. Walaupun cerita ini cukup datar, setidaknya cerita ini cukup menyenangkan diriku. Aku pun keluar dari museum dengan perasaan cukup puas hari itu. Setidaknya, sekali dalam hidupku pernah mengunjunginya. Walau bukan tempat yang begitu kukunjungi, tapi aku sudah tidak penasaran lagi dengan isinya. Aku keluar dengan perasaan lapar yang kutahan sejak satu jam tadi. Tidak ada rencana untuk memesan ojek online. Kupikir akan cukup menyenangkan jika dilakukan dengan berjalan. Dua kilometer tidak cukup jauh untuk menikmati perjalanan. Aku keluar dari gerbang museum, menyeberang, dan bergerak ke sebelah kiri. Siang itu trotoar tampak sepi. Sepertinya ini memang jalur yang cukup sepi. Bukan jalur untuk mobilitas kerja. Ini adalah jalur tempat orang bekerja di pemerintahan. Tidak banyak kutemui orang lewat. Tempat duduk pinggir jalan pun banyak yang kosong. Aku sendiri tergoda untuk duduk dan sejenak minum. Entah kebetulan atau tidak, ad...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya