Setelah tamat dari MTS Salafiyah di Banyuwangi ibu menyuruh saya untuk sekolah ke-Blitar, Karna itu merupakan keputusan yang bulat maka saya dengan sedikit terpaksa mengikuti apa yang diperintahkan beliau untuk memasuki jenjang SLTA di Blitar. Sampai di Blitar saya direkomendasikan oleh saudara-saudara saya untuk masuk di pondok pesantren di sana, tepatnya MA Maarif NU kota Blitar atau sering juga disebut dengan MAMNU(dulunya lebih dekat dengan MAKNU” madrasah aliya keagamaan NU”) Jalan Ciliwung nomor 52(sekarang 56). Sebagai orang baru di sana rasanya aku seperti orang asing yang belum tau apa-apa, nama daerah, istilah-istilah dan juga ada gaya bahasa yang sedikit berbeda, Namu selebihnya tidak jauh berbeda antara Blitar dan Banyuwangi. Semula tidak ada yang istimewa ketika memasuki wilayah pondok itu, hingga sampai beberapa lama. Aku pun juga masih belum menemukannya dan hampir semuanya seperti lingkungan teman-temanku d...
Baiklah, mari kita lanjutkan cerita yang membosankan ini. Walaupun cerita ini cukup datar, setidaknya cerita ini cukup menyenangkan diriku. Aku pun keluar dari museum dengan perasaan cukup puas hari itu. Setidaknya, sekali dalam hidupku pernah mengunjunginya. Walau bukan tempat yang begitu kukunjungi, tapi aku sudah tidak penasaran lagi dengan isinya. Aku keluar dengan perasaan lapar yang kutahan sejak satu jam tadi. Tidak ada rencana untuk memesan ojek online. Kupikir akan cukup menyenangkan jika dilakukan dengan berjalan. Dua kilometer tidak cukup jauh untuk menikmati perjalanan. Aku keluar dari gerbang museum, menyeberang, dan bergerak ke sebelah kiri. Siang itu trotoar tampak sepi. Sepertinya ini memang jalur yang cukup sepi. Bukan jalur untuk mobilitas kerja. Ini adalah jalur tempat orang bekerja di pemerintahan. Tidak banyak kutemui orang lewat. Tempat duduk pinggir jalan pun banyak yang kosong. Aku sendiri tergoda untuk duduk dan sejenak minum. Entah kebetulan atau tidak, ad...
Ada pengalaman yang cukup menjengkelkan tapi pada akhirnya menyadarkan. Ada perasaan bahwa hal ini tampak sepele, tapi setelah direnungi lebih jauh ini merupakan pembelajaran berarti. Seperti biasa, sesaat setelah bangun pagi aku langsung buka hp dan melihat story WhatsApp. Disana kulihat akan ada seminar yang diisi oleh temanku nanti sore. Aku ikut gembira karena temanku sudah cukup punya kualitas untuk itu. Kemudian aku lanjutkan untuk men-share berita itu lewat WhatsAppku. Hingga sorenya ku datang kesana bersama teman sekelas kita. Aku lupa dengan judul seminar itu. Karena sebenarnya aku kesana dalam rangka mengapresiasi temanku yang menjadi asisten dosen tersebut. Aku berusaha mengamati penjelasannya. Ku dengarkan dari awal sampai akhir. Dari awal komunikasinya terasa cukup “kaku”. Kemudian penjelasannya melenceng ke arah sesuatu yang dipamerkan, yakni tentang hobi majalah bacaannya, Nastonal Geograpic. Ada juga yang tampak ngawur, yakni soal dia tiba-tiba menyinggung soal Imam G...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya