Obrolan dengan Isma kemarin membuka halaman kedua untuk youtube ku. Entah bagaimana pun apresiasinya, dan berapa banyak yang menonton, aku sendiri kurang peduli. Audionya memang masih jelek. Tidak begitu nyaman untuk didengarkan. Tapi dalam obrolan mengenai buku itu, kita berbicara banyak hal. Mulai dari cover buku yang bagus, dan itu membuat kecewa saat membaca isinya, tentang kesehatan mental, dan juga hal-hal yang menjadi kontrak kita dengan Tuhan. Dari pembahasan yang terakhir itulah hal yang menarik didapatkan dari buku itu. Bahwa setiap kita memiliki kontrak pribadi dengan Tuhan. Tentang siapa kita dan apa yang mesti kita jalani di dunia ini. Bila mengenal kontrak itu, kita akan bisa dengan damai menjalani hidup. kita lahir dalam kondisi sepi. Sendiri di dalam perut seorang ibu. Kita bertumbuh dan dibesarkan oleh keluarga dan lingkungan. Pada saatnya nanti, kita akan menghadapi kesendirian lagi, di dalam fase kematian. Ada banyak hal yang bisa ditanyakan, atau dibahas dal...
Tiga hari yang lalu mas ku di Blitar menelfonku dan tadi sore aku mendapat vidio call dari Mbak ku di rumah. Dia menanyakan persoalan yang wajar sebagai saudara. Aku sendiri juga tidak begitu seriuas menanggapinya. Aku tidak yakin apakah sebagai saudara dia kangen kepada adiknya. Atau dia lebih untuk berusaha menjaga hubungan sebagai keluarga. Entahlah, karna padadasarnya aku juga enggan untuk menghubunginya. Aku seperti tidak begitu dekat dengan mereka, aku jarang juga menceritakan persoalan yang menurutku penting dalam hidupku kepada mereka. Rasanya sangat tipis sekali hubungan emosionalku dengan para saudaraku. Dari dulu hanya menghubunginya karena persoalan minta uang, mengurus barang dan hal-hal materil lainnya. Rasanya tidak pernah aku berbicara mengenai hal-hal rumit seperti mimpi-mimpiku, perasaanku dan juga cita-citaku kepada meraka. Persoalan itu lebih banyak kupendam sendiri dalam diriku karna kupikir mereka tidak akan mengerti. Karna aku sering merasa mereka lebih banyak...
“Mak, bagaimana dengan si denok kemarin?” Aku menanyakan soal cewek yang kemarin kuajak ke rumah dan ku kenalkan dengan emak. “La kamu sendiri gimana?” jawab emak sambil melipat pakaian yang tadi sore baru diambil dari jemuran. “aku ikut kata emak aja” kataku. “sek, tak tanya dulu. Kamu bener mau ikut kata emak?. Apakah kamu serius maunya Cuma sama dia? Gak coba cari dulu yang lain. Lawong wedokan yang lebih cantik juga masih banyak.” “Kog sampean malah ngomong gitu? Sampean gak suka sama dia?” “Dia itu rumahnya di daerah selatan Kali Brantas. Sejak jaman mbahmu dulu kita gak boleh kawin dengan yang nyebrang kali, itu jadi pantangan dari leluhur kita” Rasanya aku ingin langsung protes. Tapi emak malah melanjutkan perkataannya sembari melipat baju. Tanpa dia memandangku dan mungkin dia tidak mau mengerti dengan perasaanku. “Kalo kawin nyebrang kali, itu akan membuat usia perkawina bertahan lama. Karena Kali Brantas sifatnya memisah. Ini memang tidak ada hubungannya dengan agama. T...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya