Diam Memang lebih baik diam Lebih tepat untuk ngobrol dengan diri sendiri Tak ada teman yang lebih baik dari diri sendiri 10/02/2025 Beberapa waktu yang lalu aku selesai membaca buku biografi Albert Einstein karya Walter Issaction. Karya yang bagus mengenai orang yang luar biasa. Aku jadi tahu Albert Einstein tidak hanya sebagai seorang jenius yang menggeluti bidang fisika, aku jadi lebih tahu dia sebagai seorang manusia. Aku tahu kultur di mana dia dilahirkan, wataknya sebagai pribadi yang berbakat, juga egonya sebagaimana anak muda pada masanya. Buku itu memberi tahuku bawah Einstein adalah sosok genius yang tetaplah manusia biasa, punya kerapuhan dan sifat negatif. Banyak hal yang dapat dibanggakan dan dipelajari darinya, tapi juga tetap ada hal-hal yang bisa di kritik. Terkadang, karena terlalu membanggakan seseorang, kita menganggap hal negatif darinya pun sebagai keistimewaan. Cara pandang seperti itu menjadi kecenderunganku selama ini, dan mungkin juga pada banyak orang....
Wahai Jiwa yang mengeja makna Di lembar luas samudra tak bertepi, Apakah kau menyelami batas atau kebebasan? Apakah kau merengkuh kehinaan atau kemuliaan? Ketika awan kelam bergulung di dada bumi, Aku mendengar panggilan tanpa suara: “Wahai yang rapuh, kau diundang kepada Keabadian. Runtuhkan tembok yang membatasi pemandanganmu!” Tuhan bukanlah tirai kabut yang tersembunyi, Ia gemuruh di denyut jantung semesta. Lihatlah burung yang melayang di cakrawala, Di balik sayapnya bergetar Nama yang tak tergantikan. Bukankah matahari adalah firman tanpa aksara? Bukankah angin adalah nafas Cinta yang tak terlihat? Setiap atom, setiap kerikil kecil di lembah, Adalah saksi—bisu namun penuh makna. Aku tanyakan pada jiwa, “Siapakah Engkau yang mengembara di tubuh fana ini?” Jiwa tertawa, seperti sang angin yang tahu rahasia, “Aku adalah cahaya dari Sang Cahaya, Pantulan kecil dari Rahasia Besar.” Lalu aku pahatkan doaku di langit kelam: Wahai Pemilik Waktu, bentangkan penglihatan ini. Jangan biarkan...
Katanya mengawali cerita dengan kata “pada suatu hari” adalah hal yang buruk. Kata siapa? Kata para penulis yang merasa sudah bisa menulis lebih baik. Benarlah hal tersebut? Kupikir tidak. Karena tetap ada cerita jaman dahulu yang diawali dengan kata itu dan tetap bagus sampai sekarang. Bisa jadi itu adalah soal isi ceritanya, bisa juga soal bagaimana cara menceritakannya. Cerita yang bagus tetaplah cerita bagus. Bukan cerita yang diawali dengan ini atau itu, tapi cerita yang ditulis dengan hati. Tapi pendapat itu adalah sudut pandang baru dari generasi masa kini. Sebuah pemberontakan atas nilai-nilai dan juga cara berpikir lama. Jika hanya duduk nyaman dengan cara lama akan banyak berisiko. Risiko tertinggal dan akhirnya meninggal. Namun aku harus tetap mengawali cerita ini dengan kalimat itu. Karena dalam cerita ini ada peran masa lalu bersama dengan rasa romantismenya. Kau boleh saja menganggap ini terlalu berlebihan. Atau kau malah enggan untuk melanjutkan membaca. Tapi bagiku...
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya