Sore Yang Berisik

Di sore ini, ada seorang anak yang merajuk pada ibunya karena dia tidak mau masuk pondok, sedang ibunya bersikeras memasukkan anaknya ke pondok. Percekcokan itu begitu miris untuk dilihat. Melihat itu, pikiranku menjadi berbenturan, antara kedekatan anak dengan ibunya, dan juga motivasi untuk memasukkan anak ke pondok. 

Saat ini pondok pesantren bukan lagi budaya pinggiran. Hari santri sudah ditetapkan menjadi hari nasional. Entitas pesantren sudah diakui eksistensinya, dan juga dilembagakan jalannya dalam kehidupan sosial-bernegara. Menjadi santri tidak lagi sebuah keminderan, bukan lagi menjadi orang kuno yang tak bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pondok pesantren sudah bisa dibanggakan menjadi indegenuis way dalam kehidupan bernegara, selayaknya padepokan, kuil, ataupun seminari. Bukan budaya pinggiran sebagai salam pandangan orang awam dahulu.

Yang menjadi pertanyaanku ialah, adakah ibu itu sudah begitu mengenal anaknya, saat dia mengarahkan jalannya untuk berada di pondok?

Sebagai seorang anak yang sejak kecil ditinggalkan ibunya, aku tak begitu punya kemanjaan yang dimiliki anak itu. Tidak juga peduli dengan rasa kehangatan yang dimiliki antara seorang anak dengan ibunya. Bahkan terasa seperti tak ada ikatan kerinduan. Aku hanya tahu aku punya ibu, dan dia ada di sana. Namun bagi anak itu, perpisahan dengan ibu adalah mimpi buruk, bahkan neraka baginya.

Bukankah semua itu selalu berharap anaknya menjadi baik, bahkan meski keputusan yang mereka ambil tidak mengarahkan kesana. Keputusan itu sering kali mengarahkan pada ilusi media, hasrat untuk ikut-ikutan, berupaya agar anaknya bisa dipamerkan. Bahkan dalam niat baik untuk memondokan anak pun, orang tua perlu ditanya alasannya, mengapa? Karena mungkin di dalam niat baik untuk membuat anak mandiri, soleh, dan sebagainya itu, terdapat niat lain yang lebih mendominasi. Niat untuk bisa memamerkannya, dan ikut arus yang tak dipahami maknanya.

Dan bukankah pendidikan utama bagi seorang anak adalah keluarga. Aku jadi semakin bertanya tentang bagaimana berperan sebagai keluarga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Ada

Film Perfect Day; Tentang Karakter Dalam Menjalani Hidup