Dalam keheningan malam, aku masih terjaga. Lelah mendengar musik. Tak tahan untuk menonton film lagi. Hanya terdiam sambil merokok, tapi hati terus bicara. Bertanya, negumam, dan menuntut untuk hidup. Seperti burung gagak terus berkoak menjelang mati. Mungkin ini perumpamaan yang buruk, tapi biar saja. Hatiku memang sedang kacau. Sangat kacau. Lebih kacau dari saat meletus balon hijau.

Aku tak tahu apa yang sedang kulakukan. Apakah memang seperti ini jalan hidupku? Dan akan terus seperti ini. Atau aku memang tak pernah ada tujuan hidup. Bahkan aku tak punya keberanian untuk menjalani hidupku sendiri? Rasanya, semua yang kujalani hanyalah bertahan hidup.

Kemarin aku bilang pada seseorang, juga pada diriku sendiri sebelumnya, kalau aku sudah ada di moment siap untuk mati kesepian. Namun kini aku sadar, bahwa aku bahkan tak siap untuk menjalani hidupku. Aku lebih memilih membunuh banyak hal dalam jiwaku, sambil terus melanjutkan nafas.

Aku sadar ini konyol. Apa yang aku tulis dan apa yang kupikirkan akan dianggap konyol oleh banyak orang. Tapi aku tak bisa diam di satu sisi. Di sinilah ku ungkapkan diriku. Pada kehampaan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Ada

Film Perfect Day; Tentang Karakter Dalam Menjalani Hidup