Pagi dan Hujan

Pagi ini, hujan yang begitu deras mengganggu waktu tidurku. Tepat jam tuju pagi ia datang, saat pikiranku mulai tenang untuk pergi ke alam ketidaksadaran. Hawa mulai begitu dingin, sedang musik yang kudengarkan menjadi tak begitu jelas. Akhirnya kulepaskan penutup telingaku, dan kudengarkan ratapan hujan di atap seng, sambil kurasakan udaranya. Sepi, dingin dan berisik.

Hingga aku membuka laptop lagi dan menulis ini, bukan untuk mengeluh, tapi untuk mensyukuri hidup dalam keadaan saat ini. Badanku memang kedinginan, tapi aku merasakannya dengan makna yang berbeda. Rasa dingin yang menyentuh tubuhku adalah unsur yang mengimbangi dinginnya jiwaku yang kehilangan. Aku tak lagi bingung mencari, atau ke nama hendak pergi. Aku merasa hidup dan menjadi diriku yang seutuhnya.

Kemarin adalah saat paling lemah dalam diriku. Aku merasa tak punya rumah, sedang jiwaku mati. Aku menjalani hidup tanpa pilihan dan tujuan. Hanya bernafas dengan sesekali beraktivitas. Padahal sebenarnya aku yang enggan untuk mengingat rumah, atau lebih tepatnya membenci masa lalu bersama keluarga, dan di sisi lain aku tak berani mengambil keputusan untuk hidupku sendiri. Pada kenyataannya rumah itu selalu datang menganutiku, mengingatkanku pada diriku yang sebenarnya, dan apa yang saat ini kujalani menjadi pijakan untukku terus melangkahkan kaki, entah akan ke mana. Yang jelas tetap menjalani hidup.

Hujan sudah menggugah jiwa dan tubuhku untuk sadar bahwa aku hidup di dunia. Di sini banyak misteri dan tragedi untuk dilalui, namun bukan berarti tak banyak anugerah untuk dinikmati. Meski pada akhirnya hujan berhenti, dan mungkin sebentar lagi awan gelap ini terurai sehingga langit cerah. Sedang hidupku mungkin tak kurasakan titik cerahnya. Namun aku boleh yakin kalah mendung, gelap, dan hujan itu tak selamanya. Aku yakin bahwa selalu ada momen-momen kecerahan dalam kehidupan. Mungkin tidak akan bertahan lama dan tak bisa secerah orang-orang suci, tapi setitik cahaya bermakna segalanya bagi jiwa yang gelap ini. Sedetik perasaan tersentuh oleh kehidupan dan tercerahkan oleh sinar harapan adalah daya hidup yang nyata. Meski tak seberapa, momen ini membawa harapan untuk cahaya berikutnya. Juga membawa keyakinan bawah dibalik nafas ini, ada mimpi yang akan terjadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Ada

Film Perfect Day; Tentang Karakter Dalam Menjalani Hidup