08/08/2026
Ingin diriku menulis satu kisah yang jujur
Kisah yang dekat dengan hidupku
Bukan hanya kisah, tapi sebuah karya tulis yang jujur
Seharusnya aku berpuasa bukan hanya tentang tidak makan dan minum. Namun tentang menjalani apa yang seharusnya dilakukan, dan melakukan apa yang seharusnya dijalani.
Hidupku penuh dengan kebohongan. Saat kecil aku sering dan suka menceritakan kebohongan. Hingga aku cukup dikenal sebagai pencerita kebohongan oleh orang-orang dan teman-teman saat itu. Saat SMA, cerita kebohongan pun masih banyak kulakukan.semua kebohonhan itu adalah sebab aku ingin bergaya, dan juga gengsi diri yang tinggi.
Saat kuliah, aku bohong pada keluargakalau aku masik jurusan pendidikan. Padahal masuk jurusan filsafat.ini sebab aku hanya ingin mencari alasan untuk pergi meninggalkan keluarga. Sampai hari ini kebohongan itu tak pernah terbuka. Sulit bagiku untuk jujur masuk jurusan filsafat, sebab nanti mereka akan bertanya, filsafat itu apa? Nanti kalau lulus akan kerja apa? Aku cenderung tidak mau repot menjawab pertanyaan itu, untuk mengarang bagaimana cara menjelaskannya. Pada dasarnya aku sendiri juga tidak tahu apa itu belajar filsafat, dan mau jadi apa aku dalam hidup nanti.
Kini aku harus menerima, bahwa sesuatu yang dimulai dengan kebohongan akan berakhir dengan kehancuran. Apa lagi kebohongan itu hanya kedok untuk tampak baik, tampak benar, tampak bergaya dan lain sebagainya. Kebohongan adalah racun yang akan membunuh kehidupan, bahkan sebelum kehidupan itu dimulai.
Pada satu momen, diriku begitu marah dan benci kepada keluargaku. Mereka telah banyak membohongiku sebagai anak yang paling kecil. Keluarga ini sebenarnya rusak, dan mereka semua bohong untuk merasa benar. Aku bahkan masih terlalu ingin marah sampai hari ini. Kenyataan itu membuatku berfikir kalau aku sebenarnya dibesarkan dalam keluarga yang rusak, yang orang-orangnya penuh dengan kebohongan dan kemunafikan. Sebab semuanya ingin merasa baik dan enggan mengakui kesalahan dan kersakan yang terjadi. Dalam momen itu, aku merasa kalau mental kebohongan adalah akibat dari turunan keluarga dan apa yang terjadi di dalamnya. Entah bisakah kenyataan ini dirubah?
Sebenarnya bisa, jika aku sadar bahwa aku manusia. Aku orang yang harus memimpin diriku sendiri untuk berlaku jujur dalam hidup. Namun saat kesadaran itu lepas, kebohongan itu begitu gampang merusak dan menyamankan diri. Saranya, lebih baik aku banyak menutup mulu mulai saat ini, hanya bicara yang diperlukan untuk jujur.
Memang benar sekali kata Nabi, katakanlah yang haq, walaupun itu pahit. Pada menyataannya perasaan ini cenderung cenderung menghindari kepahitan dan ketidakenakan pada ungkapan yang jujur.
Komentar
Posting Komentar
terimakasih atas perhatiannya