Postingan

Sedikit Pelajaran Dari Pram

Gambar
Pada awal masuk organisasi pergerakan, kawan-kawan memberitahu saya mengenai seorang tokoh sastra bernama Pramudya Ananta Toer. Pada masa itu saya anggap diri saya cukup tahu saja, karena saya belum pernah bersentuhan dengan karyanya. Sampai saya kemudian mulai punya keinginan untuk membaca Novelnya yang terkenal, yakni Tetralogi Pulau Buru dan Arus Balik. Dari situlah saya mulai merasa kenal dengan Pram. Kemudian dari banyak artikel, Youtube dan karya Pram lainnya saya jadi semakin kagum dengan beliau. Pram merupakan bagian dari tokoh yang berusaha menulis untuk bangsanya. Menulis bagi dia merupakan tugas nasional sebagai warga negara. Karya dan juga kehidupan pribadinya mengajarkan saya bahwa tidak semua keinginan baik akan berdampak baik dan juga akan memberikan respons yang baik pada dirinya. Hal itu terbukti dengan ditahannya dia pada dua rezim Indonesia, pada masa pemerintahan Soekarno dan juga pada masa Orde Baru. Tetralogi pulau buru itulah yang memberi pengetahuan bahwa, penj...

Tuhan, Izinkan Saya Nonton Konser Dewa 19

Gambar
Mungkin sudah seminggu yang lalu aku mengetahui Dewa 19 akan konser 20 tahun album Bintang Lima. Konser ini untuk mengenang kembali kesuksesan album tersebut. Kabarnya album itu terjual 1,7 juta keping copy pada 20 tahun lalu. Tiket konser itu dijual online di tiketdotcom. Mengetahui kabar itu keinginan untuk nonton konser muncul kembali. Aku sudah beberapa hari ini juga menengok di aplikasi itu untuk melihat ketersediaan tiket, sambil juga menguatkan keinginan untuk membeli tiket. Sebenernya juga menunggu waktu gajian juga. Mudah-mudahan masih tersedia sampai tanggal 8 Februari.  Amiin Sampai hari ini tiket festival masih tersedia untuk konser di Jogja, dan sepertinya juga di kota-kota lainnya. Harga tiket festival 160K, cukup mahal menurut ukuran keuanganku. Namun jika dipikir-pikir, kapan lagi ada kesempatan nonton Ahmad Dhani, Andra Ramadhan sepanggung secara langsung. Inilah pertimbangan paling mendasar untuk diriku sebenarnya. Mengingat aku belum pernah melihat konser Dewa 19 s...

Bingung

Gambar
Selama ini kita lebih banyak menghabiskan waktu dan tenaga untuk keresahan pribadi. Persoalan dalam diri yang tinggi tidak kunjung selesai. Lebih banyak bertanya tentang apa yang mesti dilakukan, sambil tidak melakukan apa-apa. Keresahan, itulah masalahnya. Terlalu sibuk mengurai persoalan dalam diri yang tidak jelas itu malah hanya akan menghambat kita untuk melangkah. Yang semestinya adalah, kita harus keluar dan berinteraksi dengan orang dan belajar dari pengalaman. Pengalaman bisa menjadi guru terbaik jika dia kita mau mempelajarinya. Bila tidak, maka dia bisa hanya menjadi cerita.

Biarlah

Tidak mudah untuk menumbuhkan imajinasi dan juga mencari inspirasi. Entah kenapa bisa begitu. Rasanya setiap inspirasi yang kita cari merupakan sesuatu yang jauh dari diri, dan butuh usaha yang berat untuk dapat menuju ke sana. Mungkin karena kita kurang terbiasa dengan semua ini, hingga akhirnya kita menganggapnya sulit. Sebagai mana orang naik sepeda. Akan sulit dijelaskan kenapa orang bisa seimbang di antara dua roda depan dan belakang. Namun setelah kita bisa naik sepeda, semua itu terasa biasa, hingga kita belajar lagi teknik yang lebih tinggi dari sekedar bisa naik sepeda. Begitu juga dengan hal-hal lain. Hal-hal yang terasa sederhana bagi yang sudah menguasainya, namun tidak bagi mereka yang belum berada pada level itu. Seperti juga diriku. Aku masih belum juga jelas mau apa. Belum berani mengambil keputusan hidup. Masih saja takut dan was-was pada apa yang kira-kira akan terjadi. Pada dasarnya semua berpijak pada keberanian dan totalitas. Jika itu tak mampu di rengkuh, maka mas...

Pengakuan

Semua orang butuh pengakuan. Semua orang juga butuh belajar mengakui yang lain. Pengakuan adalah unsur yang penting dalam hubungan. Saat orang berkata “aku tak butuh pengakuan darimu”, dia tidak sedang berkata yang sebenarnya. Dia hanya naif untuk mengakui dirinya. Soal pengakuan ini cukup sensitif. Riskan untuk dibicarakan di publik. Namun jadi masalah jika diabaikan. Ini soal mekanisme ego yang hanya bisa disikapi dengan hati. Jika sejak awal tak ada pengakuan dari hati ke hati, maka sebenarnya ada yang istimewa. Sehingga pengakuan tiba-tiba bisa dianggap omong kosong.

Melihat Diri Dari Dalam

Entah bagaimana aku harus memulainya. Ada banyak hal yang seharusnya bisa ditulis untuk saat ini. Namun kenyataannya aku tak dapat menulis sedikit pun. Pikiranku terasa mati untuk membangun sebuah paragraf. Bahkan mungkin untuk menulis sederet kalimat. Rasanya semuanya mati sia-sia. Ada banyak hal yang luput untuk aku kerjakan selama ini. Bahkan aku sampai lupa mengenai mimpiku sendiri. Atau mungkin hanya pura-pura lupa. Sebenarnya aku harus rajin membaca dan menulis. Dengan begitu kikiranku akan terasah dan tajam dalam menganalisis banyak hal. Namun yang terjadi adalah: aku masih saja tidak responsif dalam melihat sesuatu untuk dimasukkan dalam tulisan. Sehingga tak itu menumpulkan pikiranku untuk menuangkan gagasan. Bahasa kasarnya adalah: aku masih saja mengikuti kemalasan. Kemalasan ternyata merupakan menu utama dalam hidupku. Ada banyak hal yang sering kupikirkan namun jarang terlaksana karena kemalasanku sendiri, seperti jarang mandi, jarang cuci baju, jarang menyapu dan lain seb...

Menulis itu Biasa Saja

Kenapa sih, menulis itu harus kritis? Menulis harus bijak? Menulis harus intelek? Kenapa kita gak menulis karena pengen saja. Pengen curhat, pengen ngrasani orang, pengen mengungkapkan kekesalan yang gak bisa diucapkan tentunya. Kenapa untuk mengeluarkan "sampah" yang ada di kepala saja harus banyak aturan? Kenapa gak langsung diomongin aja sesuai dengan bahasa perasaan yang ada. Kan mudah dan simpel, tidak terkesan njlimet dan ruwet sejak dalam perasaan. Belajar EYD memang membosankan sepertinya. Seperti orang hukum yang harus menghafal undang-undang dan harus bertindak sesuai aturan. Aturan kadang banyak mengkhianati perasaan. Padahal setiap hari kita bicara, kenapa tidak yang setiap hari kita bicarakan itu yang ditulis. Tanpa harus bingung menyesuaikan diri dengan EYD alias ejaan yang disemrawutkan disempurnakan. Pernah ada buku yang judulnya cukup bombastis, "HARTO kamu benci Soekarno?". Penulisnya namanya juga Suharto (tapi bukan Soeharto Orde baru). Cukup bom...