Postingan

Bukan Aku

Bukan aku Engkaulah penguasa hati Di antara jari-jarimu yang menggerakkan semesta Menerangi jiwa sepanjang masa Bukan aku Engkaulah penguasa waktu Setiap saat memberi tanpa pernah merugi Menjaga hati dalam duka dan sepi Hanya engkau Penguasa cahaya diantara kegelapan Pengisi udara di antara kekosongan Yang hidup di antara kematian Hanya engkau Puncak dari anai-anai kehidupan Inti dari kiblat-kiblat penghadapan Hakikat dari gelombang-gelombang pemikiran

Kata-Kata Terbaik Adalah Doa

Gambar
Hai blog Sudah lama sejak dua minggu kemarin aku belum bercerita lagi. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kukatakan. Tapi pertimbangan lain mengharuskanku untuk tidak menceritakannya. Sebab itu terlalu sensitif untuk dibahas. Pada akhirnya aku berusaha untuk menulis sesuatu yang "ringan" saja, namun ternyata tidak bisa. Mungkin memang lebih baik jujur dengan diriku sendiri. Kita mulai saja dengan perjalanan Kamis kamis lusa. Saat aku sudah meniatkan diri untuk menemui cinta dan cinta menyambut dengan ramah. Sayangnya cinta enggan untuk jujur dengan perasaannya yang asli. Entahlah. Mungkin masih ada dendam diantara kita. Aku ingin membuat puisi begini: Atas nama cinta aku menemuinya Atas nama cinta dia menghubungiku Atas nama cinta aku memohon kasihnya Pada cinta aku mengemis Demi cinta aku rela tidak jadi apa-apa Dari cinta dia berpaling Karena cinta kita terhubung Cukup absurd memang kata-kata di atas. Semoga saja masih layak dianggap puisi. Namun dari persoalan ini aku su...

Jumatan Hari Ini

Sampai sekarang aku tidak bisa melupakan kesanku saat shalat Jum'at di masjid tadi siang. Masih begitu terasa bahwa aku terlalu alay dan lemah. Cenderung mengikuti hawa nafsu dan tidak mau berfikir dengan baik. Ayat yang dibacakan abah Ubaid saat rakaat pertama tadi menghanyutkan hatiku. Begitu terasa getarannya sampai aku akan menangis. Abah membaca Surah Al-Hasyr Ayat 21. Law anzalnaa haazal quraana 'alaa jabilil lara aytahuu khaashi'am muta saddi'am min khashiyatil laah; wa tilkal amsaalu nadribuhaa linnaasi la'allahum yatafakkaruun Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir. Pada saat mendengar ayat itu aku terbawa pada pemaknaan bahwa. Eh, gunung yang begitu besar, tinggi, dan kuat itu tunduk dan takut kepada Allah. Apalagi hanya sekedar masalah-masalah ku. Apalagi cuma persoalan cinta...

A

 Aku hanyalah pengemis. Andaikan saja itu pantas dan berarti

Doa Akan Tidur Ku

Yaa Allah Hidup dan matiku adalah kehendakmu Bahagia dan sengsaraku juga begitu Murkamu begini menyiksa Rahmatmu amat sangat kudamba Tak ada kebaikan yang kumiliki, sebab semua darimu Tak ada cinta yang terjadi, kecuali kehendakmu Tak ada ketiadaan diluar adamu Tak ada aku, hanya engkau Ada tiadaku adalah milikmu Cintailah cintaku Lindungilah hati yang saling mencintai Maknai lah setiap harapan dengan cintamu Jadikanlah cinta istimewa Sebab hanya engkaulah yang selalu ada

Buku Berkesan Di Tahun 2021

Gambar
Jika diakumulasi dalam satu tahun, kukira jumlah buku yang aku baca cukup banyak. Namun ketika dipikir bahwa setahun itu 12 bulan atau 365 hari, maka jumlah buku yang ku baca ini sangat sedikit. Yang lebih mengesankan adalah tentang bagaimana aku memilih buku untuk tahun ini. Saat aku sendiri sudah tidak kuliah dan tidak banyak peduli dengan persoalan tugas akademik. Namun aku tetap ingin membaca buku, sebagai teman, hobi dan juga jenis eksistensi. Tidak melulu buku filsafat, meski sebagian besar mengarah ke situ. Semua buku pilihan ini karena pengaruh media sosial teman-teman dan juga keinginan pribadi untuk belajar dari pandangan tokoh-tokoh yang ada. Pilihan buku itu banyak jatuh pada bacaan ringan. Ada juga buku filsafat yang agak ringan, tidak filsafat yang berisi konsep yang cukup rumit. Sebenarnya aku ingin membaca buku filsafat yang cukup tinggi seperti Frijcof Capra, Noam Chomscy dan lain-lain. Buku yang aku pilih lebih pada filsafat kelas menengah seperti Eric form dan Am...

NGALOR-NGIDUL

Gambar
Hidup adalah menunda kekalahan Ungkapan terakhir dari puisi Derai-Derai Cemara karya Bung Chairil Anwar itu memang luar biasa. Tidak hanya mewakili perasaan, namun juga nyambung dengan benak pikiran kita. Mungkin memang begitulah lazimnya sebuah puisi mengungkapkan maksudnya. Sebab sebuah puisi tidak hanya soal kata-kata lugas dan cerdas, tapi juga menyentuh. Namun jika puisi hanya bergelut dengan perasaan dan tidak dibarengi dengan kekuatan nalar, ia akan tampak mendayu. Tidak “gagah berdiri”. Jaman ini juga banyak lagu pop yang begitu melayu. Yang mengungkapkan kisah cinta dengan nada yang mendayu-dayu. Namun sebagian musisi membuat lagu perpisahan dengan gagah dan tidak cengeng. Jika harus memilih, maka aku akan lebih suka dengan lagu perpisahan yang elegan dan tampak gagah. Tidak menye-menye apa lagi sampai terkesan Ambyar. Meskipun kita juga tetap tak bisa membohongi rasa sakit tersebut. Ngomong-ngomong soal Ambyar. Aku merasa hatiku cukup terguncang akhir-akhir ini. Sebab a...