Postingan

18/04/2018

Selamat malam. Malam ini aku tak tahu harus melakukan apa? Seharusnya aku focus belajar untuk ujian Munaqosah besok, tapi aku tak tahu harus kuawali dari belajar dari mana. Hingga akhirnya aku putuskan untuk menuliskan sesuatu. Entah hal ini akan cukup membantu atau tidak, aku juga tak yakin bahwa semuanya akan berjalan lancar besok. Kini sepertinya aku hanya ingin bicara soal diriku. Aku mulai dari ingatanku saat kecil. Aku bukan anak yang baik sejak kecil bahkan sampai sekarang. Semua karena aku yang tidak begitu pandai dalam berlajar dan bersikap. Tapi bisa jadi karena keluargaku yang salah mendidik. Aku tumbuh dengan ketiadaan sosok ibu. Bahkan sejak aku belum bias berjalan. Aku tidak bisa bilang kalau itu salah ibuku. Mungkin saat itu memeng tekanan begitu kuat mendorongnya terbang ke malaisya. Tapi itu seperti menjadi masalah utama dalam hidupku. Karena dari situ sepertinya aku hanya hidup bersma makan dan perintah. Bahkan saat itu tak ada yang mengingatkan untuk makan. Kar...

Bukan aku yang kau cinta – Poppy Mercury

Benarkah ini wajah semalam Yang penuh rindu dendam Aduh sayang cinta suciku Ketika itu padamu bagaikan debu Kini kenapa datang semua Dengan derai air mata Tidakkan dulu kau yang berkata Diriku bukan yang kau cinta Haruskan ku memaafkan Kesalahan yang kau lakukan Sedangkan kesan perbuatanmu masih kurasakan Ku tak mau berulang ku rawang cintamu Tak tertelan lagiku betapa pahitnya Kutau siapa engkau, Lahir batinmu Cintamu berlumuran dusta dan keraguan Dari terus makan hati, yang mungkin hingga kemati Lebih baik saja kusendiri begini Cukuplah hanya sekali, kumerasakan Tidaklah dulu kau yang berkata Diriku bukan yang kau cinta Akhir-akhir ini begitu akrab sekali dengan lagi ini. Hampir setiap petemuan dengan teman, MP3 Androidnya sering memutar lagu ini. Mereka bilang lagu ini pas dengan keadaanku. Seharunya aku bisa kuat seperti yang di nyanyikan oleh Poppy Mercury. Meski pada kondisi dasarnya masih merasakan sakit. Hingga pada akhirny...

Refleksi

Sudahlah Pada akhirnya hidup adalah tentang hari ini Kemarin sudah menjadi yang kau lewati Relakan dan sabarkan dirimu Semua proses itu tetap butuh di-elmu-ni Harusnya kau gembleng dirimu, waktu demi waktu Membentuk karakter, kemudian mengukirnya Mendobrak semua kemapanan selama ini Terus bergulat dengan waktu, bersama ketidakkelasan Kadang kau harus diam dan mendengarkan hatimu bicara Jangan biarkan fikiranmu terus terjebak dalam arus retorika Harus kau rangkai puisimu sendiri Yakinlah pada kemungkinan bahwa kau bisa Kerahkan jiwa-raga untuk mencapai cita-cita Pada akhirnya kau hanya perlu menjadi manusia

Berdamai dengan diri

Terkadang aku bertanya pada diri. Apakah aku sudah bisa mengikhlaskan dan memaafkan apa yang sudah terjadi? Jawabannya terasa tidak, tetapi terkadang bisa iya. Namun apapun yang terjadi kita memang tidak akan sanggup memutar waktu. Kenyataan yang buruk di masa lalu sangat bisa menghentikan langkah kita. Bergerak maju tidak begitu saja mengindarkan kita dari masa lalu. Kurasa benar bahwa “hidup bukanlah soal masa depan, tetapi soal hari ini yang harus lebih baik dari hari kemarin” [1] . Pada akhirnya semua ini bukan soalapa yang kau tanam akan kau tuai. Kesetiaan yang kau tanam ternyata tidak berbuah manis. Loyalitas yang kau berikan juga sudah tidak berarti apa-apa. Bahkan “kawan” yang kau jaga malah menertawakanmu di belakang. Mungkin ada dua hal yang seharusnya kau perhatikan selama ini. Pertama. Kau terlalu sombong dengan apa yang kau anggap milikmu. Seharusnya kau sadar bahwa kesombongan adalah api. Api bisa menghanguskan materi, api bisa membuat air menguap dan api juga...

Salah Saya Saja

  Hari ini hujan deras terjadi di wilayah kost. Hal ini membuat saya kembali terpaku dengan apa yang sudah saya lakukan di kamar ini. Ada banyak kesalahan dan juga dosa. Ada pula kenangan yang menurut saya terasa tulus. Entah apakah itu benar-benar sebuah ketulusan atau hanya bagian dari dusta. Namun rasanya masih saja dapat diingat dengan baik. Sudah lama sekali saya menyendiri dan merasa sendiri. Kadang rasanya menyesakkan, kadang pula begitu nyaman. Kenyamanan yang membuat diri menjadi semakin malas dan bodoh. Kesalahan yang saya lakukan dengan penuh emosi dan ke-egoisan membuat saya dikucilkan oleh sebagian pihak. Rasanya begitu sulit menerima hal itu. Sebab bagi saya, saya juga adalah korban penghianatan. Saya kadang menganggap mereka yang kini memandang saya sebelah mata adalah orang yang tidak adil dalam fikiran. Tapi ini memanglah soal diri saya sendiri. Saya juga tidak berhak untuk menyalahkan persepsi mereka. Mungkin memang benar, bahwa “lebih baik diasingkan dar...

Dendam Yang Terus Mengendap

Kamu pasti tau rasanya disakiti seseorang. Seseorang yang kamu harapkan bisa ber- cemistry dengamu. Tapi ternyata dia berkhianat. Pada awalnya persoalannya cukup sederhana. Mungkin karna ketidakpuasan pribadi, atau ego yang terlalu tinggi. Tapi kemudian egomu juga ikut memperkeruh keadaan, kamu juga tak bisa mengontrol emosi. Terkadang kemarahanmu meluap tidak pada waktunya, terkadang pula emosimu mengendap hingga kemudian meledak tak karuan. Hingga tiba pada masanya, kamu tidak bisa bilang bahwa kamu adalah korban dan tidak ikut bersalah. Karna saat kamu menganggap dirimu begitu, itu berarti kamu munafik. Mungkin kamu berusaha untuk tenang. Tetapi ketenangan sembari membawa rasa benci adalah kesalahan. Tampak dalam hati kecilmu kamu mengharapkan dia bakal merasakan rasa sakit yang sama, sebagaimana kamu dikhianatinya. Kamu meyakinkan dirimu dengan teori “karma”, bahwa dia yang menabur pasti akan menuai. Dalam egomu pula kamu ingin sekali melihat diahancur di depan matamu. Itu s...

Cerita Sedehana

Setiap yang hidup pasmi memiliki cerita. Dia bisa menceritakannya sendiri, atau dia diceritakan oleh yang lainnya. Hidup ini sederhana, yang rumit adalah tafsiran-tafsirannya. Begitulah kata Pramodya Anantatoer. Cerita yang tampak makna hanyalah sebatas pergerakan materi yang diungkapkan. Atau bisa sikatakan dengan sebuah cetita yang kering. Sebuah kekeringan berarti merupakan kondisi dimana tiada air, dan tanpa air kita tak menjadi hidup. Air adalah sumber kehidupan. Air adalah sumber kekuatan, air bisa menjadi pantulan cahaya dan air bisa menyejukkan jiwa. Aku bukan penguasa air. Aku hanyalah sebuah konsumen baginya(air). Kugunakan dia untuk mandi, tapi bukan berarti membersihkan diri. Untuk mencuci hanya sebatas kepantasan materi. Aku meminumya, tapi kemudian kubunga lewat kencing. Terkadang kucoba untuk mewadahinya dalam kendi, tapi kendiku yang rapuh membuatnya menghilang. Air datang dan pergi dalam hidupku, begitu juga makna dari sebuah cerita. Jika ada kesempatan, aku...