Entah kenapa malam ini aku enggan untuk melanjutkan membaca buku. Hawa dingin dari sore tadi begitu menusuk sampai jantungku. Angin terasa begitu kencang. Menyambar gubuk rapuhku. Menyambar kesadaranku. Menjadikanku bingung pada diriku sendiri. Membuatku terjaga pada kenyataan yang belum bisa kuterima. Mulai kubuka Handphone -ku. Mencari lagu yang tepat untuk didengarkan. Pilihannya jatuh pada lagu Hujan Jangan Marah milik Efek Rumah Kaca. Kudengarkan dengan tenang. Kuhayati setiap liriknya sambil memejamkan mata. Aku seperti tenggelam dalam dunia lain dan tak ingin kembali. Lihatkah aku pucat pasi Sembilu hisapi jemari Setiap ku peluk dan menangisi Hijau pucatnya cemara Yang sedih aku letih Dengarkah jantungku menyerah Terbelah di tanah yang merah Gelisah dan hanya suka bertanya pada musim kering Melemah dan melemah Hujan hujan jangan marah Setelah mendengar lagu itu selama tiga kali. Aku menjadi jenuh. Dalam hatiku bicara, "ah, sudahlah. Mungkin selama ini aku yang kurang pinta...
Postingan
Tiga Buku
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Tiga buku telah datang padaku. Buku-buku pilihan tentunya. Termasuk buku yang dipilih sebab harganya yang murah. Namun saat ini aku sudah cukup memiliki kualifikasi, sebab buku yang kupilih haruslah buku Ori. Harganya cukup rendah, baranya juga sudah terpakai, namun harus buku Ori. Selangkah lebih baik dari aku yang dulu suka menumpulkan buku bajakan. Tiga buku itu menemani malam mingguku yang syahdu , sepi. Buku pertama berisi kumpulan kutipan dari penulis terkenal Kairo. Aku tidak menyangka kalau isinya hanyalah kutipan. Fakta dari buku pertama ini membuatku kecewa pada pilihanku sendiri. Bukan sebab buku atau penulisnya, tapi karena aku kurang suka dengan buku yang hanya berisi kumpulan kutipan, atau quote . Tidak menarik rasanya membaca sebuah kutipan tanpa mengetahui narasi yang menjadi latar belakangnya. Jika kita hanya mengonsumsi kutipan, sama artinya dengan kita mengerdilkan nalar, mempersempit area belajar. Kumpulan kutipan itu mengajak kita untuk langsung melompat ke punca...
Ah, entahlah,,,,
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tak seharusnya aku meninggalkanmu. Mengabaikan banyak hal yang sudah kita lewati bersama. Mungkin sebaiknya aku tetap berada di tempatku. Sebuah tempat yang tak terdefinisikan olehku, dan juga olehmu. Di sana aku bisa meluangkan waktu untuk kau bercerita dan juga bercanda. Namun bagiku, hidup ini bukan hanya tentang perasaanmu, tapi juga tentang perasaanku. Sedang semua tentang kita sudah menjadi masa lalu. Aku telah berusaha di hadapanmu. Juga di hadapan diriku sendiri. Tapi kau bersikap seolah tak berdaya, dan itu membuatku terbakar dalam kesunyian. Kau mungkin bisa tahu bagaimana rasanya. Sebab aku pernah memutuskanmu. Namun kupikir ini adalah babak akhir. Sebuah babak yang menentukan bagaimana kesimpulan dari cerita cinta kita. Apakah kita akan bersama, atau menjalani hidup masing-masing. Kita memang sedang terpaut jarak. Namun hati kita bisa terus saling menyapa, bila kita memang menyepakatinya. Kita bisa saling mempersiapkan diri untuk pada akhirnya bersama dan bercinta. Tapi...
Makan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tiga jam tadi, setelah shalat isya, aku pergi ke dapur untuk makan. Aku berjalan sambil merokok. Sampai di dapur, yang kulihat di samping kompor hanyalah soup tadi siang, dan sisa soto. Sekilas bagiku tampak tidak menggairahkan untuk makan. Jadi aku kembali ke kamar sambil terus merokok. Sambil merokok, aku jadi bertanya pada diriku. Kenapa aku tadi tidak langsung makan saja? Kenapa aku masih peduli soal selera makan di sini? Padahal aku bukan siapa-siapa. Entah kenapa, sampai saat ini aku masih membedakan diri soal selera makan. Padahal seharusnya hal itu sudah tidak penting lagi. Jika secara refleks aku masih bergulat soal selera makan. Mungkin dalam skala yang lebih kompleks juga akan lebih parah. Aku mungkin akan selalu kalut dalam rasa penderitaan, dan terlena pada kesenangan. Mungkin aku juga akan manja, menunggu sesuatu terpenuhi untuk bertindak. Bahkan untuk sebuah inspirasi. Padahal aku ingin suwung. Sebagaimana yang pernah dikatakan Rendra dalam puisinya. Kemarin dan esok ada...
Persimpangan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Malam itu aku termenung sendiri. Ditemani suara jangkrik dan juga katak yang saling bersahutan. Sore tadi hujan deras. Wajar jika malam ini mereka ramai bersuara. Seperti sedang berpesta. Mungkin ini moment yang tepat untuk mereka melepas kesunyian. Saat dimana manusia di sekitarnya merasakan dingin, dan mungkin sebagian diantaranya ikut bersikap dingin. Tapi para katak dan jangkrik memilih sikap sebaliknya. Aku ingin bertanya pada kodok itu. "Apa yang mereka pikirkan saat diam? Saat musim panas membuat mereka enggan bersuara". Pada akhirnya sisi lain dalam diriku menjawab. "Mereka tidak berpikir. Mereka hanya menjalani keadaan, tanpa peduli dunia lain sedang apa." "Mungkin memang begitu. Mereka menjalani dihidupnya sendiri, tidak lebih". Aku pun merasa malu. Sebab tidak selesai dengan hal-hal yang seharusnya mudah untuk damai. Atau sebenarnya aku memang salah menilai banyak hal. Pada hal-hal sepele yang seharusnya kuanggap penting. Juga pada hal-hal pent...
Tidak mengapa kehilangan senja, asalkan tak kehilangan makna
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya