Postingan

Halaman Buku Yang Hilang

Dua Minggu yang lalu, aku membeli buku lama. Dua buku yang memang sekarang sudah tidak terbit, dan satu buku yang meskipun sudah ada cetakan terbaru, aku berharap bisa memiliki cetakan yang lama, dan original tentunya. Original itu penting, sebab aku merasa harus menghargai apa yang kusuka. Kalaupun saya tidak dapat membantu penulisnya secara keuangan, karena membeli buku cetakan lama, setidaknya aku tidak menyakiti hatinya dengan cara membajak bukunya. Jujur saja, aku dulu suka membeli buku bajakan, dan aku banyak membuat pembelaan diri saat melakukannya. Pada dua buku pertama, aku merasa mendapatkan Harta karun. Atau paling tidak, sesuatu yang bisa menjadi arsip sejarah. Satu buku filsafat Driyarkara yang masih menggunakan ejaan lama, dan satu lagi buku cerita di zaman kemerdekaan. Menurutku, Keduanya adalah hal yang penting untuk dibaca, dan aku tidak sabar untuk melakukannya. Buku yang ketiga yang kubaca lebih dulu. Judulnya Burung-burung Manyar karya Romo Mangun. Buku yang menurut...

Rindu itu Nyata, Atau Ilusi?

Rindu dendam adalah kata yang sudah tidak populer lagi dalam dasawarsa ini. Kata itu mungkin hanya diperuntukkan pada era sembilan puluhan. Mungkin tidak juga. Hanya saja tidak ada media populer yang menggunakan istilah itu. Seperti istilah bertepuk sebelah tangan pun juga cukup asing awalnya. Namun ketika Ahmad Dhani membuat lirik lagu dengan kata itu, banyak orang menggunakannya kembali. Aku pernah membaca istilah setali tiga uang dalam sebuah novel lama. Arti dari istilah itu adalah “sama saja”, begitu yang kudapat dari pencarian di internet. Dari situ aku mulai merasa bahwa ada banyak istilah bahasa Indonesia yang surut, atau bahkan tenggelam. Hari ini pun kita dibanjiri kata asing yang sudah terlanjur populer. Maka sungguh berat beban yang dipikul oleh Uda Ivan Lanin dan kawan-kawan. Bahkan mungkin lebih berat dari rindu dendam. Rindu dendam adalah sebuah idiom dari kata rindu dan dendam. Penyatuannya menjadikan makna baru yang berarti sangat-sangat rindu. Tapi apakah rindu i...

Dini Hari

Ya Allah Jagalah hatiku selalu dalam rasa syukur atas rahmatmu

Berkah

Setelah berupaya untuk menuliskan sebuah bap mengenai “Cerita Cinta Pertama”, aku kehabisan ide untuk melanjutkannya. Tak ada sesuatu yang menurutku akan menarik untuk melanjutkan ceritanya. Bahkan aku memang tak tahu untuk melanjutkannya bagaimana. Hanya ada beberapa ide yang pada akhirnya buntu, dan aku mengurungkan niat untuk menuliskannya. Sepertinya aku membutuhkan inspirasi, atau aku lebih butuh menata pikiranku dalam menuliskan cerita ini. Aku ragu apakah akan bisa menyelesaikan cerita ini tepat waktu. Sebab pencapaianku tidak begitu konsisten pada saat ini. Namun aku akan tetap yakin kalau cerita ini akan berlanjut dan selesai. Semoga saat itu adalah waktu yang tepat untuk segalanya. Ada beberapa hal yang ingin kuceritakan, yang sebenarnya bukan cerita mengenai WritersBlock di atas. Yakni mengenai motorku yang kemarin kubawa ke bengkel, dan menghabiskan banyak uang. Memperbaikinya membuatku merasa sedikit bertanggungjawab pada apa yang sudah dianugerahkan kepadaku. Meski h...

Doa Malam Jum'at

Ya Allah Ampunilah diriku yang lemah dan bodoh ini. Tidak menghargai diri sendiri, dan sering menjadi budak keinginannya. Hanya padamu aku kembali....

Yaa

Tugasmu adalah berusaha dan berdoa.  Jangan melebih-lebihkan kuasa. Ingat itu...

Kemarin

Kemarin aku merenungkan mengenai niat. Sesuatu dalam hati yang ingin kita tuju. Pada kenyataannya aku memang tidak begitu kuat meniatkan sesuatu. Hatiku banyak tergoda pada sesuatu yang melelahkan, dan aku sendiri tak cukup mampu untuk bertahan. Kini aku mulai menanyakan kembali mengenai "siapa diriku?", Apa yang aku punya? Apa yang aku bisa? Jawabannya ternyata kosong. Bahkan jika aku bisa menjawabnya, aku tak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Kemudian pertanyaan berlanjut. Tentang seberapa pantaskah diriku …? Untuk banyak hal yang aku harapkan. Tentu saja jawabannya "tidak". Harus kuterima, bahwa hidup tak terumuskan olehku, juga oleh banyak hal yang kutemui. Tapi kehidupan pasti ada yang merumuskan, yang tak bisa hanya interupsi seenaknya, tak semua keinginan harus terjadi. Sebab semua dilahirkan untuk menjadi dirinya sendiri, bukan yang lain. Belajar menerima posisi, itulah yang saat ini kupikirkan. Semenjak sering ngobrol dan ngopi dengan "orang-ora...