Postingan

Pengertian Jiwa

Gambar
Sudah dua hari ini aku membaca buku dari Ki Ageng Suryomentaram. KAWRUH JIWA. Buku yang kudapat 3 tahun lalu, dari teman yang menawarkan lewat status WA. Dia malah menjualnya padaku dengan memberi banyak diskon. Aku sudah membacanya dua tahun lalu, namun membaca buku yang sama dua kali adalah keistimewaan pribadi. Membaca buku yang sama dua kali dapat memperbaiki kesalahan pembacaan kita sebelumnya, bukan mengulang kesalahan yang sama. Buku berbahasa Jawa kromo, dan juga ditulis dengan nuansa tutur dari Ki Ageng Suryomentaram ini tidak hanya menarik, tapi juga cukup menggugah -setidaknya menurutku-. Buku ini ditulis dengan istilah yang umum dalam masyarakat desa. Juga membahas mengenai kebiasaan masyarakat desa pada umumnya. Masyarakat yang masih main domino, juga manusia dalam hubungannya dengan keluarga dan sosial. Buku ini menjelaskan persoalan jiwa manusia dengan sangat sederhana, dibandingkan dengan buku psikologi yang pernah kubaca sebelumnya. Buku ini menjadi teman yang solid ...

Dia

Dia Banyak yang menyukainya Berjejeran mengharapkannya Mencari perhatiannya  Tertarik pada tulus sikapnya Jujur untuk didengarkannya Juga sakit hati olehnya Kecewa karenanya Memohon balas kasihnya Dia Dianugerahi pesona Pandai cerita dan drama Peduli dan rajin membaca Sunyi dalam hati dan jiwa Terkadang naif dan terlena Dia Kini setia pada cinta Semoga

Deep Talk

Semalam ada yang mengirimkan pesan padaku. "Aku sekarang ngobrol ma kamu rasanya rada kurang nyambung ya..  Lama gk deep Talk . Apalagi yg mikir filosofis gitu eh.." Sejenak kupikir kan. Adakah obrolan seperti itu bermakna? Kukira obrolan seperti itu hanya hidangan yang tersaji untuk mengisi sepi. Tetapi kali ini tampak berbeda. Bisa kusimpulkan kalau obrolan itu berkesan, dan entah memberi dampak atau tidak, tampaknya layak untuk diingat. Dalam banyak hal, manusia berbicara menggunakan bahasa-tubuhnya. Bukan dengan kata-kata. Kita terlahir sebagai mahluk simbol, dan simbol paling maju adalah kata-kata. Tanpa kata-kata, mungkin kita masih seperti jaman purba. Masih berburu menggunakan kapak corong, dan menyalakan api dengan batu. Sebab orang membuat Hieroglif, abjad paku, hingga prasasti, manusia menjadi semakin maju. Dari penggambaran yang dipadatkan menjadi aksara itu, manusia bisa lebih mudah membangun ide, meneliti pola peristiwa, dan juga merancang masa depan. Dari kata-...

Kembali-Pulang

 Hai blog Aku tidak melanjutkan tulisanku malam ini. Namun kuputuskan menulis untuk diriku sendiri, yang kutempelkan lewat media ini. Tentang jiwa yang selama ini tak menentu. Entah akan ke mana? Semakin kurenungkan, semakin aku mengalami kebuntuan. Hingga pada akhirnya kucoba mengenali diriku. Bertanya dengan sungguh tentang banyak hal, kepada diri sendiri. Hingga kemudian aku tahu dari mana aku berasal, dan ke mana akan menuju? Innalillahi Wa Inna Ialihirojiuun ...Sesungguhnya semua berasal dari Allah, dan hanya kepadanyalah semua akan kembali. Begitulah maknanya -yang kurang lebih aku tahu-. Perjalanan ini akan menuju ke Tuhan, sebab memang semua berasal darinya. Tentu lewat kedua orang tua kita, di daerah tempat lahir kita, dan juga bersama mereka yang banyak memberi pada kita. Kukira urusan kita dengan Tuhan itu bukan soal asal dan kembali . Tapi lebih pada kesatuan. Perasaan sadar bahwa aku hidup, sadar, dan melakukan sesuatu bersama kehendaknya. Namun bisa jadi kita...

Penting Gak Penting

Malam ini masih tetap menulis. melanjutkan ide cerita malam kemarin. Sudah ketemu langkahnya, dan ada tambahan perenungan yang cukup penting. Namun masih ada keraguan untuk menuliskannya. Padahal hanya tinggal menuliskannya, tapi tetap saja tidak percaya diri. Bagaimana orang lain bisa percaya pada ceritamu, jikalau kamu sendiri bersikap seperti itu? Begitu ungkapan dari "sisi lainku" pada diriku sendiri. Dalam moment keraguan itu, ada sebuah pesan yang masuk. sesuatu yang pada akhirnya mengalihkan perhatianku pada fokusku. Pesan itu juga mengganggu moment ketika aku cukup menikmati Album Simfonietta karya Janacek. Komposisi musik yang kutahu dari Novel 1Q48 karya Haruki Murakami. Temanku bernama Minrahadi ini mengomentari status WA yang kubuat tiga jam sebelumnya. Aku pun antusias menanggapinya, sebab kutahu dia orang yang setia dengan ide yang dia tekuni. Aku tak tahu apakah percakapan ini penting untuk dimuat di sini. Namun mengingat ini adalah kamar lain di media sosialku...

Lepaskanlah

Lepaskanlah Tidak semua harus seperti keinginanmu Relakan lah Semakin sakit jika kau menolaknya Damaikan lah Ada salahmu dalam semua yang terjadi Sadarilah Dirimu hanya partikel dalam samudra 

Agustus 2022

Malam ini aku sendiri di kamar Memikirkan tentang harapan ku padamu  Bertahan dalam mimpi bahagia bersama Berpikir tentang langkah yang sebaiknya Hingga akhirnya, semuanya tampak buntu Dan aku harus menyadari kebodohan diri Mungkin seharusnya kuletakkan pikiranku Menyandarkan hati pada yang sejati Tak banyak yang bisa kukatakan selain itu Sebab "kosong" terasa lebih baik saat ini Ingin kupeluk erat waktu dan tenaga Menunggu takdir mendamaikan harapan Menjaga hati agar tak keliru melangkah Berusaha sabar pada apa yang terlewatkan Kepadamu aku memohon ampunan Atas banyak sujud yang kulupakan