Postingan

Sufi Yang Humoris

Gambar
Humor Sufi Sering saya mengunjungi pengajian waktu kecil, bahkan sampai ke desa tetangga. Saat kuliah juga sering datang ke acara seminar di kampus, bahkan juga sampai di kampus tetangga. Terkadang bukan soal isi secara, tapi lebih pada pencarian konsumsi yang ada di dalamnya. Hari ini tak perlu repot kemana-mana untuk menemukan sebuah forum pengajian. Cukup membuka smartphone dan membuka aplikasi YouTube, kita bisa menemukan pengajian model apapun di sana, dari yang paling serius dan arogan sampai yang receh dan lucu. Bagi saya acara ini termasuk sebuah pengajian serius yang juga ada lucunya. Serius dalam arti membahas elemen-elemen yang penting dalam kehidupan, seperti soal merawat persaudaraan, menyadari keterbatasan, membukakan lembar-lembar pilihan dalam hidup serta soal mengisi peran dalam hidup. Namun yang lebih menarik bagi saya adalah humor-humor jujur, guyonan akrab sehari-hari yang terkesan jauh dari model pencitraan media pada umumnya. Sebuah ungkapan bijak dari seorang mot...

Merawat

Kukira salah satu teman terbaik dalam hidup ini adalah mereka yang menemanimu saat patah hati. Orang-orang yang sudi mendengarkan curhatanmu, yang dengan sukarela atau sedikit terpaksa mau mewadahi segenap omongkosongmu dan berbagai luapan emosi lainnya saat itu. Seperti juga mengajakmu ngopi dan bermain apa saja sebagai bentuk pengalihan dari kondisi saat itu. Kufikir teman tak dapat dicari, tapi dia ditemukan dan alam yang menjalankan itu semua. Alam akan selalu menghadirkan pertemuan dan juga perpisahan, sedangkan tugas kita adalah merawat apa yang harus dirawat, serta meninggalkan yang harus di tinggalkan. Kurasa kelemahanku adalah pada soal merawat hal-hal yang mustinya dirawat dengan baik, baik itu soal materi atau soal sosial seperti pertemanan, begitu pula dengan soal-soal lainnya yang mungkin sudah terlupakan olehku.

Jadi Pribadi Yang Tenang

Entah kenapa sampai hari ini aku masih menjadi orang sulit dalam mengendalikan diri. Pada waktu yang tidak seharusnya aku marah, aku marah. Pada waktu yang seharusnya aku tetap tenang dan mengontrol gaya bicara, aku tidak bisa mengontrolnya dan malah larut mengikuti emosi. Hal-hal yang masih saja tak mampu kujangkau dalam mendewasakan diri cukup banyak, salah satunya soal seperti itu tadi. Sifat seperti emosional, tempramental dan mudah larut itu terlalu nyata tanpa disadari. Sepertinya aku memang sudah menemukan jawabannya mengapa aku menjadi seperti itu. Penyebab dari sifatku yang seperti itu adalah pengalaman dari masa kecilku sendiri. Dimana aku berada dalam superioritas banyak orang. Hingga kemudian itu menjadikan diriku pribadi yang mengidap inferiority complex . Hal itu betul-betul terasa sampai saat ini. Aku tak tahu harus bagaimana mengatasi keadaan diri yang seperti ini. Sepertinya tidak mungkin untuk terus menjaga kesadaran dari dan mengontrol emosi jiwa untuk tetap men...

Menghitung Kembali

Menelurusi kembali pada apa yang telah dilewati selama ini. Sebuah kilas balik untuk menguatkan diri mejadi pribadi yang baru. Berusaha untuk mengevaluasi banyak hal, baik kesalahan yang begitu banyak, besar dan tercecer dimana-mana. Dari situ kemudian teringat begitu kecil kebaikan yang sudah dijalankan. Begitu sedikit manfaat yang sudah dihasilkan dibandingkan dengan kerugian yang dibebankan kepada orang lain. Menghitung kembali apa yang telah di raih, serta memperhitungkan berapa banyak yang harus dibayar. Hingga dari sana, diri ini mampu untuk mengiklaskan apa yang ingin ditagih.

Kecewa Itu Biasa

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita sudah lama mengerti hal itu. Mungkin ini terlihat satir. Karena semua orang sudah jelas mengerti maknanya. Namun menurut saya, orang akan benar-benar mengerti maknanya saat dia sudah mengalami kekecewaan dengan orang lain. Semakin dekat hubungannya kita dengan seseorang, semakin intens komunikasi kita dengan dia, maka terbitnya sebuah rasa kecewa itu juga akan semakin melebar. Mungkin akan lebih baik jika saat kita mengenal orang dengan kebaikannya, kemudian dekat dengan dia, kita musti membuka hati lebih lebar untuk menerima apa yang ternyata kita tidak suka dari dia. Sepertinya hal ini mudah dikatakan, namun benar-benar membutuhkan kelapangan hati untuk dapan menjalankannya.

Bukan Kanak-Kanak

Gambar
Kita bukan lagi anak Taman Kanak-Kanak yang suka tepok-tepok, bernyanyi riang “disini senang, disana senang” Hari ini sebagian dari kita sudah berkeluarga, mengasuh anak dan mencari nafkah. Sebagian lagi masih sibuk dalam kepentingan agama dan organisasi masyarakat. Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang masih mengerjakan skripsi dan mengurusi persoalan studi. Masih suka diskusi, membicarakan poilitik dalam negeri dan kasus-kasus demokrasi. Pada suatu titik aku menyadari bahwa setiap orang memiliki takdir masing-masing, menjalani tekanan hidupnya sendiri dan juga berusaha menentukan pencapaian pribadinya. Ada waktunya bahwa seorang teman hanya akan mejadi folower di media sosial kita masing-masing. Kadang enggan untuk menyapa dan berkomentar dan bahkan enggan untuk menghubungi lewat jaringan pribadi. Mungkin hal seperti ini terlihat mengecewakan jika dilihat. Namun saat kita menjalaninya terkadang malah tidak merasa ada masalah. Tetapi pada titik lain saat aku m...

Maka Jangan Pernah

Saya cukup meyakini bahwa setiap manusia dewasa pasti pernah merenung. Entah itu manusia dewasa di zaman milenial ini maupun di zaman purbakala. Merenung merupakan sebuah ciri bahwa dia manusia, karna saya tidak pernah menerima informasi mengenai monyet dewasa yang merenung. Perubahan zaman dimulai dari satu orang yang merenung mengenai hal itu. Namun tak ada gunamya ketika terlalu banyak merenung tanpa aksi yang kongkrit. Sebagaimana manusia pada umumnya, sayapun sering merenung. Sendiri dirundung pertanyaan mengenai “siapa saya?” sebuah pertanyaan yang pastinya juga dirasakan oleh banyak orang. Tidak peduli dia anak petani maupaun anak sultan. Jika dia mau merenung, perytanyaan mengenai hal itu pasti terlintas dibenaknya. Entah jawaban itu akan dicarinya atau tidak. Entah hal itu akan membawanya menuju keinginannya atau tidak. Perenungan adalah ruang belajar khusus seorang panusia pada dirinya sendiri. Sependek pengalaman saya, merenung tidak hanya soal kerja fikiran, namun jug...