Postingan

Penting Gak Penting

Malam ini masih tetap menulis. melanjutkan ide cerita malam kemarin. Sudah ketemu langkahnya, dan ada tambahan perenungan yang cukup penting. Namun masih ada keraguan untuk menuliskannya. Padahal hanya tinggal menuliskannya, tapi tetap saja tidak percaya diri. Bagaimana orang lain bisa percaya pada ceritamu, jikalau kamu sendiri bersikap seperti itu? Begitu ungkapan dari "sisi lainku" pada diriku sendiri. Dalam moment keraguan itu, ada sebuah pesan yang masuk. sesuatu yang pada akhirnya mengalihkan perhatianku pada fokusku. Pesan itu juga mengganggu moment ketika aku cukup menikmati Album Simfonietta karya Janacek. Komposisi musik yang kutahu dari Novel 1Q48 karya Haruki Murakami. Temanku bernama Minrahadi ini mengomentari status WA yang kubuat tiga jam sebelumnya. Aku pun antusias menanggapinya, sebab kutahu dia orang yang setia dengan ide yang dia tekuni. Aku tak tahu apakah percakapan ini penting untuk dimuat di sini. Namun mengingat ini adalah kamar lain di media sosialku...

Lepaskanlah

Lepaskanlah Tidak semua harus seperti keinginanmu Relakan lah Semakin sakit jika kau menolaknya Damaikan lah Ada salahmu dalam semua yang terjadi Sadarilah Dirimu hanya partikel dalam samudra 

Agustus 2022

Malam ini aku sendiri di kamar Memikirkan tentang harapan ku padamu  Bertahan dalam mimpi bahagia bersama Berpikir tentang langkah yang sebaiknya Hingga akhirnya, semuanya tampak buntu Dan aku harus menyadari kebodohan diri Mungkin seharusnya kuletakkan pikiranku Menyandarkan hati pada yang sejati Tak banyak yang bisa kukatakan selain itu Sebab "kosong" terasa lebih baik saat ini Ingin kupeluk erat waktu dan tenaga Menunggu takdir mendamaikan harapan Menjaga hati agar tak keliru melangkah Berusaha sabar pada apa yang terlewatkan Kepadamu aku memohon ampunan Atas banyak sujud yang kulupakan

Lebih Baik (1juni 2022)

Ada banyak yang melintas dipikiranku sore ini. Tentang kesendirian, kerinduan, dan keadaan. Tiga hal itu menjelma awan di atas kepalaku. Mengantar bayangan pada banyak hal yang sudah kulewati, juga hal-hal yang kuinginkan. Yang kuinginkan adalah hidup damai penuh arti, andai hal itu ada. Sedang bayangan masa laluku terus menghantui. Keputusan yang salah, keadaan yang rumit, dan juga jiwa yang lemah, menjeratku dalam kesendirian. Melamunkan banyak hal tanpa kepastian. Serasa menunggu waktu untuk menyerah, meski itu belum waktunya. Aku membuat kopi sebagai teman beberapa batang rokok. Menyiapkan diri untuk terjaga, sebab sehabis magrib adalah giliranku jaga-teman di rumah sakit. Aku memikirkan alasan "kenapa aku harus melakukannya?". Apakah aku memang peduli, atau ini hanya semacam kepantasan? Dan jawabnya bukan keduanya. Jawaban yang paling tepat menurutku ialah, ini merupakan tanggungjawab yang tak bisa kita hindari. Sebagaimana cerita mengenai bayi di depan pintu rumah. Tak ...

Fajar Pagi

Hampir pukul enam pagi, dan sejak semalam aku belum juga tidur. Biasanya aku memilih untuk mendengarkan musik, atau pengajian, atau obrolan-obrolan yang ada di YouTube. Yang paling sering mungkin Ngaji Filsafat dari Pak Faiz. Tapi kali ini aku tidak melakukan semua itu, hanya diam memejamkan mata, dan kemudian tenggelam dalam lamunan. Namun -setidaknya untuk saat ini- aku sendiri menolak lamunanku. Sebuah dunia awang-awang yang tak dapat kumiliki, hanya sesaat mengalihkan diriku pada masalah, dan kemudian aku kembali tidak baik-baik saja. Sesaat kubuka mataku, dan langsung kupejamkan kembali. Kudengar suara ayam saling bersahutan sejak tadi. Seperti melakukan ritual untuk menyambut pagi. Burung-burung juga tak mau kalah untuk berbunyi. Tapi kupikir tidak hanya soal menyambut pagi, burung-burung itu menyambut kehidupan. Kembali aku membuka mata. Tampak dari jendela, gelapnya malam sudah berganti dengan nuansa cahaya remang-remang. Kabut embun dimana-mana. Titik-titiknya mengambang...

Pagi

Gambar
Terbayang seribu kerinduan dalam satu wajah Tertuang doa-doa dan permohonan hati Tertulis nama yang tak lekang oleh waktu Dirimu membuai niat dalam sepi Udara pagi menusuk ragaku Namun suaranya menghidupi rasa Pikiranku melayang di tengah remang Hatiku bimbang menalar takdir Aku memohon yang terbaik Pada hakikat diri yang kuikat Pada firasat yang akan jadi obat Pada pertanyaan yang tak sanggup kujawab Semoga cahaya penerimaan lekas bersinar Semoga hati bersih dan jujur kembali 10 Juni 2022

Hati Yang Menerima

Pada saat aku memutuskan untuk tidur, selalu ada yang membuat pikiranku melayang. Mataku jadi sulit terpejam. Aku terjaga dan melamun tak terkendali. Hingga aku menyimpulkan kalau 'melamun adalah jalan hidupku'. Semacam media sosial dalam memenuhi kekosongan hati. Setiap orang memiliki media sosialnya untuk mengekspresikan diri. Juga untuk mengalihkan diri dari penatnya ruang nyata. Mungkin juga untuk menyampaikan pesan pada orang-orang tertentu. Media sosial menghubungkan kita pada banyak hal, kecuali pada diri kita sendiri. Media sosial memang menjadi bagian dari hidup kita. Tapi kita tidak hidup olehnya. Kita hidup oleh hati dan pikiran kita sendiri. Tak ada gunanya ramai di media sosial kalau hati kita kosong. Hati yang kosong melemahkan segalanya. Aku berharap hatiku dipenuhi rasa penerimaan pada semua hal yang datang. Sebab rasa itu penting. Dalam hubungan sosial tidak hanya soal saling cinta, tapi juga hati yang menerima. Semakin luas penerimaan itu, maka akan lebih dama...