Postingan

Sekilat

Gambar
Melamun waktu ngaji. Tiba-tiba sebuah nasehat mendatangi benakku. Ia berkata: "Ia lebih bisa bersikap dewasa dan profesional ketika bersama orang lain, tidak sama dengan mu. Jadi mungkin keadaan ini lebih baik". Pikiran dan hatiku menguatkannya,  Tapi Akan selalu ada "Tapi".

16/02/2023

Gambar
Hari ini aku membelanjakan cukup banyak uang untuk buku. Aku merasa ini pemborosan, di sisi lainnya aku seperti melampiaskan egoku. Tak tahu harus bagaimana untuk diri sendiri. Tidak merasa cukup "penuh" untuk menjalani sebuah hal. Aku tak bisa menganggap ini adalah caraku mencintai diri sendiri. Ini lebih pada caraku mengumpulkan sesuatu, dalam diri yang kosong. Sebenarnya aku kurang mengenal apa yang disebut orang sekarang, sehat secara keuangan. Kalimat ini tampak naif bagiku. Walau secara sadar kuakui, bahwa menahan diri dan menabung untuk hal-hal yang lebih penting di masa depan sangat diperlukan. Pada awalnya, membeli buku terasa lebih baik ketimbang membeli benda-benda "sampah" yang diiklankan di market place. Tapi kemudian, hasrat untuk lagi dan lagi sukar dibendung. Terlebih saat ada buku yg excited, yang saat melihatnya aku merasa akan kecewa jika tidak memilikinya. Bahkan tadi malam, karena tidak bisa tidur, aku mengumpulkan hampir 50 buku dalam keranjang...

Pertanyaan Sebelum Tidur

Gambar
Hal baik apa yang bisa kamu capai hari ini? Merindukanmu Hal buruk apa yang bisa kamu atasi sampai hari ini? Masih merindukanmu  

Cukup Mudah, Walau Jauh

Gambar
Aku lupa kapan terakhir kali mendapatkan sebuah ide untuk menulis sebuah cerita. Rasanya sudah cukup lama sekali. Tampaknya hal itu sangat sulit didapat untuk saat ini. Aku tak mendapatkan sesuatu yang spesifik untuk kutuliskan. Hal terakhir yang kutulis adalah perjalananku ke Jakarta, sebulan sebelum tahun baru. Setelah itu hampir tak ada yang bisa kuceritakan untuk diriku sendiri. Bahkan saat sakit kemarin, pikiranku malah melayang pada banyak hal-hal aneh, yang aku sendiri tak percaya bisa memikirkannya. Perasaanku berbeda saat aku sudah mulai mengetik, begitu yang kurasakan saat kemarin melakukannya. Pada akhirnya kuhapus semua kata yang sudah kuketikan. Kini aku memulainya kembali. Bukan untuk menulis apa yang kupikirkan kemarin, tapi menulis apa yang kurasakan kemarin. Perasaan berat di dada, dan menjadi bingung entah ke mana. Seperti naik di atas pelampung yang berat, dalam badai di tengah samudra. Betul-betul aneh, atau bisa juga dikatakan abstrak. Satu hal yang kupelajari ...

#5 Dua Pertemuan

Gambar
Kita lanjut pada perjalanan setelah aku sampai di hotel. Sebagaimana prosedur pertemuan pada umumnya, aku datang dan kemudian mendaftar ke resepsionis acara untuk mendapat nomor kamar. Setelah itu hanya beraktifitas mengikuti skema acara yang ada. Aku bahkan tidak terlalu fokus, dan cukup banyak tidur saat ada sambutan, sebab energiku sudah habis untuk perjalanan siang tadi. Bahkan besoknya aku masih merasa agak ngantuk saat mengikuti acara pagi. Namun karena kegiatan itu cukup inti, aku menguatkan diri untuk tetap fokus pada permainan. Hingga waktu sore tiba, aku sudah tidak tertarik lagi dengan apa yang terjadi. Kuputuskan untuk menghubungi teman yang kini sedang bekerja di Jakarta Utara. Aku menyuruhnya datang ke tempatku naik ojek online. Terlalu ribet jika aku harus datang ke tempatnya, atau membuat pertemuan di sebuah tempat. Di daerah metropolitan seperti, kebanyakan waktu kita hanya akan habis di jalan. Ada banyak pihak yang bisa disalahkan, di saat yang sama kompleksitas m...

#4

Gambar
Baiklah, mari kita lanjutkan cerita yang membosankan ini. Walaupun cerita ini cukup datar, setidaknya cerita ini cukup menyenangkan diriku. Aku pun keluar dari museum dengan perasaan cukup puas hari itu. Setidaknya, sekali dalam hidupku pernah mengunjunginya. Walau bukan tempat yang begitu kukunjungi, tapi aku sudah tidak penasaran lagi dengan isinya. Aku keluar dengan perasaan lapar yang kutahan sejak satu jam tadi. Tidak ada rencana untuk memesan ojek online. Kupikir akan cukup menyenangkan jika dilakukan dengan berjalan. Dua kilometer tidak cukup jauh untuk menikmati perjalanan. Aku keluar dari gerbang museum, menyeberang, dan bergerak ke sebelah kiri. Siang itu trotoar tampak sepi. Sepertinya ini memang jalur yang cukup sepi. Bukan jalur untuk mobilitas kerja. Ini adalah jalur tempat orang bekerja di pemerintahan. Tidak banyak kutemui orang lewat. Tempat duduk pinggir jalan pun banyak yang kosong. Aku sendiri tergoda untuk duduk dan sejenak minum. Entah kebetulan atau tidak, ad...

#3

Gambar
Siang hari itu, sehabis hujan yang tidak begitu deras di Jakarta Pusat, tepatnya di depan Museum Nasional, aku benar-benar merasa ada di Indonesia. Di depan nilai budayanya yang tinggi, juga dengan ketimpangannya yang tidak kalah tinggi. Bangsa yang besar, sudah tentu memiliki masalah besar. Di depan gedung museum nasional. Aku berhenti untuk beberapa waktu. Bersama orang-orang yang sedang berteduh di halte depan pagar museum. Ada dua pemulung perempuan yang sedang mengobrol dengan seorang kopi keliling. Mereka membeli kopi, dan salah satunya meminta sebatang rokok. Melihat raut muka dan cara penampilan penjual kopi keliling itu, aku bisa tahu dia orang mana. Di pojok kiri halte ada dua orang bapak-bapak yang entah sedang menunggu apa. Aku juga tidak tahu mereka sedang membicarakan apa, sebab aku juga tidak peduli. Yang kutahu mereka hanya mengobrol dengan “logat Jakarta”. Juga ada tiga orang tukang kebun yang sedang menurus tanaman di pinggir jalan. Mereka tampak menggunakan seragam, ...