Postingan

Gambar
Tiga buku karya Paulo Coelho sudah ada di tanganku. Bukan karena aku penasaran dengan isinya, tapi lebih karena aku menginginkannya. Kurasa ini adalah jenis buku yang akan aku baca berulang kali. Sebab keindahan kalimatnya, dan yang terpenting adalah tentang pencarian akan makna. Bukankah semua orang berjalan di bumi untuk mencari makna? Dan akan semakin mudah rasanya jika kita memiliki teman untuk menjalaninya. Teman yang mengajak bernalar dan berefleksi, dan juga teman yang menceritakan makna hidupnya. Sebelum cerita kita didengar orang lain, akan lebih baik jika kita mendengarkan ceritanya, dan bercerita untuk diri sendiri dahulu. Merangkai makna untuk diri sendiri. Kata Paulo Coelho, setiap orang yang menjalani mimpinya, dan juga mengikuti suara hatinya, dia bahagia. Namun aku belum bisa merasakan itu, belum juga mengikuti kata hatiku. Atau mungkin aku tak pernah mendengar suara hatiku. Masih jauh dari mengenal kata hati. Masih dibutakan oleh banyak suara yang tak p...

Harus Bagaimana?

Gambar
Aku mulai masuk kembali pada sistem yang tidak kumengerti. Keadaan yang bisa kupahami, tapi sulit untuk kujangkau, apalagi untuk dikendalikan. Keadaan yang berhubungan dengan banyak orang, dan harus berhubungan dengan orang yang berbeda-beda. Harus menjalin komunikasi, yang kadang cenderung salah paham, juga memicu konflik untuk mencapai target tertentu. Sulit untuk bisa melangkah ke sana. Sebab aku masihlah orang asing di sini, bukan warga asli yang termasuk ke dalam sistem yang terkendali, yang hanya mengakui satu otoritas. Bukan sistem terorganisir yang memiliki turunan kebijakan yang terstruktur. Tak kuanggap hal itu sebagai kekurangan. Namun selalu ada konsekuensi dari sistem yang dipilih, konsekuensi pada orang-orangnya, dan juga konflik antar mereka. Di satu sisi aku memandang bahwa inilah seni -nya, namun di sisi lain sulit untuk mengubah apa yang sudah mengakar dengan satu pikulan tongkat Musa. Perlu ada negosiasi dan kesepakatan yang baik di bawah. Satu pukulan tongkat Musa...

Ternyata Aku Tak Sebaik Yang Kupikirkan

Gambar
Pagi tadi aku kembali mengajak teman untuk sarapan. Teman yang sama, dan juga di warung soto yang sama pula. Perasaan lapar itu satu hal, yang lainnya adalah, aku belum makan dari kemarin siang. Rasanya ingin makan yang berselera dan juga banyak. Dua porsi mungkin. Kebetulan orang yang ku ajak juga tidak repot, dan kami langsung berangkat. Sebelum ke tujuan, kami mampir dulu ke toko untuk membeli rokok, sebab kami berdua kehabisan bara api nikmat itu. Bara api yang seakan sudah menjadi kebutuhan primer. Bahkan kadang lebih primer dari makan itu sendiri. Sampai di warung, kamu memesan dua mangkuk soto, tapi aku sudah berniat untuk memesan mamgkuk ke-dua ku nantinya. Mangkok pertama sudah cukup membuatku kenyang, tapi pikiran untuk memesan porsi kedua tak bisa dihindari. Akhirnya aku memesan mangkok porsi keduaku. Sementara teman tadi sudah menikmati rokoknya, aku masih bergulat dengan mangkok keduaku. Setelah porsi keduaku selesai, barulah aku merokok dan kita mengobrol. Tak lupa aku me...

Kata dan Makna

Tidak semua kata bermakna, dan aku merasa terjebak dalam permainan kata. Mulai dari keindahan, kelucuan, logika, dan aneka permainan kata lainnya. Namun apakah kata-kata yang kugeluti itu bermakna? Rasanya terlalu jauh dan asing. Entah bagaimana membuat kata-kata yang bermakna. Aku terlalu fokus pada kata, bukan makna. Mungkin itu kesalahannya. Menghabiskan banyak waktu untuk menambah kosa kata. Entah sampai kapan akan cukup. Bahkan seperti tak ada habisnya. Seperti memang harus lebih fokus pada makna, sebab makna adalah tujuan, sedang kata hanyalah tunggangan. Apakah itu makna? Makna adalah hakikat. Sesuatu yang ada dibalik yang tampak. Ada makna dibalik setiap hal, termasuk dalam kata-kata. Aku harus berusaha agar makna lebih menonjol dari kata-kata. Dengan makna orang bisa terilhami, tersentuh ruhaninya, dan tergerak untuk lebih baik. Untuk dapat merangkai makna, maka si perangkai kata ini harus lebih dahulu bermakna, begitulah rumus kebenarannya. Oh Tuhan, berkahi jiwaku dengan mak...

Pengemis Di Warung Soto

Gambar
Perasaan lapar membuatku mengajak orang untuk sarapan. Saat kita keluar, keputusan terbaik adalah berhenti di warung soto. Cuaca sedang panas, dan rasanya butuh makanan yang menyegarkan. Dalam hal ini, soto adalah pilihan yang masuk akal. Hanya semangkuk kecil porsinya. Namun kami berdua harus memaksa diri untuk mengenyangkan perut dengan itu. Sebab aku curiga sejak awa, harga soto ini pasti sekitar dua puluh ribuan. Meskipun rasanya juga tidak mengecewakan. Aku selesai lebih awal dengan satu porsi kecil itu. Temanku langsung berkomentar, kalau tampaknya aku cukup kelaparan, dan kujawab, ya, aku memang merasa lapar sejak tadi. Selesai makan, kami berdua menyalakan rokok masing-masing. Ngobrol hal-hal yang bisa untuk diobrolkan. Mulai dari soal belajar, sampai dengan soal politik hari ini. Tidak lupa juga membicarakan teman lain, atau rasan-rasan. Kupikir membicarakan orang lain bukanlah dosa besar. Apa lagi jika itu untuk meng-evaluasi diri dan keadaan. Akan menjadi masalah besar k...

Kehadiran Diri

Gambar
Sampai sekarang aku masih bertanya. Adakah diriku hadir dalam setiap moment yang kujalani? “sepertinya tidak” Banyak hal pada akhirnya berlalu tanpa kumengerti. Lewat begitu saja. Tak ada yang berkesan, apa lagi menjadi sesuatu yang berharga. Semua itu karena aku kurang peduli dengan kesadaranku sendiri. Acuh pada apa yang sedang kulakukan, dan tidak menjalaninya sepenuh hati. Dalam bahasa lain, aku tidak khusu ’ dalam berbuat, terlebih dalam beribadah. Pemikiran seperti ini hadir manakala aku kembali pada tidak fokus pada satu hal. Yang terjadi sebenarnya adalah, aku tidak fokus pada apa pun. Mungkin karena masih terjebak pada alat komunikasi yang mainstream ini. Juga karena aku kurang percaya diri dengan yang kujalani. Sedari kemarin pikiran mengenai fokus terus menghantuiku, yang dengan pikiran itu juga aku menjadi tidak fokus. Padahal itu adalah sebaik-baiknya kegiatan. Kegiatan yang seharusnya dilakukan dengan fokus. Pilihan untuk fokus adalah pilihan untuk kerja keras, s...

MULAI UNTUK AMBISI

Gambar
Banyak hal yang masih tertunda untuk dilakukan. Bahkan sore ini sudah ada janji untuk zoom meeting bersama seorang teman di jogja, tapi tak jadi berjalan. Banyaknya hal yang urung terlaksana, membuatku merasa tidak melangkah ke mana-mana. Masih berkutat pada diri sendiri. Masih sering menjadikan banyak alasan untuk menunda. Banar kata mark manson, ... sebenarnya bukan karena Anda tidak punya waktu, melainkan Anda tak punya fokus dengan itu. Malam ini aku membaca kembali buku Yasraf Amir Piliang. Hal baru yang kudapatkan adalah, pandangan mengenai Geo-politik dalam cengkeraman dominasi ideologi dunia. Mulai dari masalah Orientalisme, Pluralisme, dan juga dominasi wacana yang dilakukan oleh orang barat(Eropa dan Amerika) terhadap dilayah di luar mereka. Juga tentang perbedaan etnisitas dan rasisme, yang keduanya memiliki unsur yang serupa, namun berada dalam kemasan yang berbeda. Bacaan itu membuatku memikirkan hal baru mengenai NU, tentang bagaimana mendefinisikan Ormas Islam terbesar...